News7 Maret 2019 12:05

Sejarawan: Proyek Tol Malang-Pandaan Jangan Hancurkan Situs Purbakala

Konten Redaksi Tugu Malang
Sejarawan: Proyek Tol Malang-Pandaan Jangan Hancurkan Situs Purbakala (585694)
Sejarawan Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono, saat mengecek penemuan situs purbakala di daerah Proyek Tol Malang-Pandaan, rabu (5/3).
TUGUMALANG.ID – Penemuan situs purbakala peninggalan zaman Kerajaan Majapahit pada jalur proyek tol Malang di daerah Sekarpuro, Pakis, Kabupaten Malang, pada Selasa (5/3) diperkirakan masih bakal meluas. Kemungkinan, temuan-temuan bangunan purbakala masih akan ditemukan di sepanjang jalur proyek tol Malang-Pandaan.
ADVERTISEMENT
Hal itu diungkapkan oleh sejarawan asal Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono."Saya kira di sekitar sini masih banyak beberapa bangunan lagi. Ini yang tergaruk (alat berat) hanya sebagian, sebelah baratnya lagi ini kemungkinan masih banyak,” ucap Dwi.
Untuk diketahui, situs yang diduga merupakan permukiman kalangan atas pada abad ke-10 hingga abad ke-15 tersebut terletak di sebelah barat Sungai Amprong. Dwi mengungkapkan bahwa kemungkinan besar di sepanjang aliran sungai Amprong tersebut yang saat ini menjadi area persawahan dan juga area yang masuk jalur proyek tol Malang banyak terdapat peninggalan bangunan peradaban kuno.
”Jadi jalan tol ini meliputi daerah-daerah tua semua di Malang. Mulai dari Lawang timur, Singosari timur, Pakis, hingga Kedungkandang. Sebenarnya saya sudah menduga kalau bakal tergaruk (alat besar) saat ada proyek tol ini. Dan ternyata memang benar (tergaruk),” ujarnya gusar.
ADVERTISEMENT
Ia menyesalkan bahwa sebenarnya terdapat survei dulu secara sosial budaya sebelum diplot menjadi jalur jalan tol. Ia menerangkan, bahwa pada zaman dahulu, Malang sebelah timur merupakan pusat peradaban dari Kota Malang saat ini yang lebih berada di tengah-tengah.
“Hingga abad ke-16 masa Ki Ageng Gribig, pusat peradaban itu saja masih di sebelah timur. Baru pada masa pemerintahan menjadi kabupaten, pusat itu bergeser ke tengah,” ujarnya.
Ia menyimpulkan bahwa temuan situs purbakala di daerah Sekarpuro tersebut merupakan rumah kawasan elit berdasar dari temuan benda-benda seperti guci, koin kepeng (gobog), cermin berornamen, dan juga perhiasan emas.
Tidak hanya itu, karena berdasar lokasinya yang berada di Sekarpuro, ia menyebutkan bahwa kemungkinan permukiman kuno tersebut merupakan bagian dari peradaban Desa Perdigan Pamintihan.
ADVERTISEMENT
Pamintihan ini sendiri adalah kawasan Madyopuro saat ini. Sedangkan Sekarpuro berada di sebelah utara dari Madyopuro. ”Jadi di zaman Majapahit itu membuat kota selalu berdasar arah mata angin. Dan Madyopuro ini berasal dari madya yang artinya tengah, dan pura artinya kota. Jadi Madyopuro ini adalah pusatnya, kemudian dikelilingi oleh empat ‘pura’ lagi. Dan kota di sini (situs purbakala) memang masuk akal karena ini masuk wilayah Sekarpuro,” bebernya.
Untuk diketahui, di Kota Malang saat ini terdapat Madyopuro yang berada di tengah, sebelah utara terdapat daerah bernama Sekarpuro, daerah timur Ngadipuro, dan selatan bernama Lesanpuro. Sedangkan nama daerah bernama ‘puro’ lagi diperkirakan di sebelah barat Madyopuro, atau sekarang yang dikenal dengan daerah Sawojajar.
ADVERTISEMENT
Pamintihan sendiri berdekatan dengan anak kerajaan Kerajaan Majapahit bernama Kabalan, sekarang Kedungkandang atau Kebalen.
“Jadi desa perdigan Pamintihan ini adalah desa maju. Berdekatan dengan dua nagari (anak kerajaan) Majapahit di Malang Raya. Tumapel (sekarang Singosari), dan Kabalan (sekarang Kedungkandang). Jadi ini adalah kota besar” bebernya.
Oleh karenanya, ia berharap agar Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan melihat temuan tersebut sebelum dihancurkan begitu saja. “Jadi biar Trowulan melihat dulu sampai ditemukan seperti apa strukturnya,” tandasnya.
Baca juga:
Reporter: Gigih Mazda
Editor : Irham Thoriq
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white