News
·
10 April 2021 3:25

Menteri Agama di Indonesia

Konten ini diproduksi oleh Ubaidillah Amin Moch
Menteri Agama di Indonesia (4547)
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Foto: Dok. Kemenag
Langkah yang ditetapkan oleh Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas, untuk memberikan kesempatan melafalkan doa selain Agama Islam dalam setiap acara di Kementerian Agama patut diapresiasi sebagai wujud moderasi dalam beragama. Sebab Kementerian Agama sejatinya bukan hanya mengayomi dan mengurusi Agama Islam saja, tapi pada seluruh Agama yang ada di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Selain itu, lebih menonjolkan simbol-simbol Agama Islam di antara Agama lain dalam konteks Kementerian Agama adalah bentuk menzalimi terhadap Agama lain, padahal menzalimi non-muslim dalam ajaran Agama Islam jelas merupakan hal yang tidak dibenarkan. Hal ini seperti dijelaskan dalam kitab al-Majalis as-Saniyah:
“Tidak boleh berbuat zalim pada orang lain sekiranya ada bahaya yang tidak dibenarkan oleh syara’. Sebab hal demikian diharamkan dan berlawanan dengan ajaran persaudaraan. Dan juga larangan ini disebabkan berbuat zalim pada non-muslim adalah haram, terlebih berbuat zalim pada orang muslim” (Sayyid Muhsin al-Amin, al-Majalis as-Saniyah, Hal. 105)
Maka dari itu, langkah yang diambil oleh bapak menteri agama ini bagi kami justru merupakan langkah yang maslahat dan sesuai dengan ajaran Agama Islam, selama doa ini dimaknai sebagai wujud kerukunan sosial antarpemeluk Agama dan setiap doa dilakukan oleh pemeluk Agama yang bersangkutan, maka dengan melaksanakan hal ini, Bapak Menteri Agama secara tidak langsung menghilangkan bentuk kezaliman pada pemeluk agama lain serta membuktikan secara konkrit bahwa Kementerian Agama betul-betul menaungi semua Agama, bukan hanya Agama Islam saja.
ADVERTISEMENT
Ubaidillah Amin Moch