kumparan
2 Okt 2017 14:53 WIB

Sisi Lain Industri Batik Printing: Limbah

Video
Ilustrasi sungai tercemar limbah (Foto: Pixabay)
Peringatan limbah industri batik yang telah berada di ambang bahaya telah didengungkan keras-keras oleh para aktivis lingkungan. Tapi sesungguhnya, limbah industri batik seperti apa yang berbahaya?
ADVERTISEMENT
Bambang Sumardiyono, seorang master, pengajar, sekaligus perajin batik, mengatakan yang saat ini mengancam adalah limbah batik tiruan atau lebih dikenal dengan sebutan batik printing --yang sebetulnya secara profesional tak masuk kategori batik karena tak menggunakan lilin panas dalam teknik membatiknya.
“Limbahnya (batik printing) itu kayak jenang,” kata Bambang.
Sementara proses pewarnaan pada batik asli dengan lilin panas bisa menekan bobot limbah sampai pada titik terendah. Lilin ini hampir tidak ada limbahnya sama sekali, karena bisa digunakan lagi.
Canting dan malam untuk membatik. (Foto: dok. indonesiakaya)
Setelah proses pelorodan (penghilangan lilin malam yang menempel pada kain), lilin akan diendapkan lalu dipisahkan dari bagian yang kotor untuk dipanaskan guna dipakai ulang, dicampur lagi dengan bahan-bahan baru.
“Kira-kira hanya lima persen kotoran yang dibuang (pada proses membatik dengan lilin panas yang orisinal),” tutur Bambang.
ADVERTISEMENT
Selain itu, pewarnaan kain pada batik asli masih menggunakan warna dari hasil alam --yang juga bisa digunakan berulang kali.
Pun demikian, pewarna alam yang digunakan dalam industri batik tidak bisa sepenuhnya disebut “pewarna alam” karena masih menggunakan zat kimia sebagai kuncian warna.
“Jadi yang saya kenalkan adalah pewarna ramah lingkungan, yang hampir tidak ada efeknya untuk lingkungan,” kata Bambang menekankan perbedaan pewarna alam dengan pewarna ramah lingkungan.
Proses mencelup batik. (Foto: Ulfa/kumparan)
Pada proses pencelupan bahan tekstil dengan zat warna alam dibutuhkan proses fiksasi, yaitu penguncian warna agar warna tak luntur dan memiliki ketahanan baik.
Bahan kimia yang digunakan dalam proses fiksasi adalah garam tunjung (FeSO4), kapur (CaCO3), dan tawas. Ketiga zat kimia ini, menurut Bambang, masih bisa ditoleransi karena limbahnya bisa dipisahkan.
ADVERTISEMENT
Sementara batik printing yang menggunakan pewarna sintetis dapat merusak keseimbangan lingkungan, bahkan berbahaya. Sebab industri tersebut membutuhkan banyak air dan bahan kimia untuk proses pelenturan, pemutihan, dan pewarnaan pada tahap akhir.
Hasil buangan pada tahapan-tahapan batik printing terbukti memiliki daya cemar besar.
Hal tersebut diperburuk oleh pembuangan limbah tanpa filter ke sungai-sungai yang menjadi sumber air bagi warga sekitar. Belum lagi sisa-sisa benang yang terbuang bersama limbah cair.
Seperti yang terjadi di Pekalongan, Jawa Tengah, limbah industri tekstil menyebabkan sungai berwana hitam pekat dan berbau.
Hasil uji laboratorium yang dilakukan masyarakat Desa Karangjompo, Tirto, Kabupaten Pekalongan bekerja sama dengan Laboratorium Kesehatan Masyarakat Cito terhadap air sungai tersier di desa mereka, menunjukkan kadar tinggi cemaran amonia (gas tak berwarna yang berbau menusuk).
ADVERTISEMENT
Amonia (NH3) adalah senyawa antara satu atom nitrogen dan tiga atom hidrogen yang menyebabkan berbagai penyakit dan matinya biota air.
Batik (Foto: Iqra Ardini/kumparan)
Untuk mengurangi dampak buruk dari limbah itu, para pengusaha industri batik printing diminta bertanggung jawab terhadap limbah yang mereka hasilkan.
Dampak buruk limbah cair industri tekstil amat mungkin diminalisasi dengan menggunakan beberapa metode, misalnya metode fisik dan metode biologi.
Metode fisik menghilangkan zat padat yang terkandung dalam air limbah. Cara ini meliputi tahapan penyaringan, equalisasi, penyeragaman, pendinginan, dan filter pasir.
Sementara metode biologi menurunkan kadar pencemaran bahan organik atau biasa disebut COD (chemical oxygen demand) dan BOD (biological oxygen demand).
Selayaknya soal limbah industri ini menjadi perhatian para pemangku kepentingan. Jangan sampai imbasnya jadi mengurangi nilai budaya batik yang dibanggakan negeri ini.
ADVERTISEMENT
Terlebih, salah satu penilaian penobatan kota batik dunia oleh UNESCO mencakup syarat kebersihan lingkungan, termasuk melihat ada efek limbah batik terhadap lingkungan.
Infografis Alat-alat Batik (Foto: Bagus Permadi/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan