Peserta Didik Sekolah Alam Bengawan Solo Ikuti Program 'Live In'

Informasi terkini Universitas Ahmad Dahlan
Konten dari Pengguna
7 Juli 2021 13:15
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari NEWS UAD tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Proses pembelajaran oleh Bima Budi Kharisma mahasiswa Prodi PBI UAD dengan para peserta didik Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS)
zoom-in-whitePerbesar
Proses pembelajaran oleh Bima Budi Kharisma mahasiswa Prodi PBI UAD dengan para peserta didik Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS)
ADVERTISEMENT
Belasan peserta didik kelas 6 Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS) di Dusun Pajangan, Desa Gondangsari, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, melakukan kegiatan Live In. Kegiatan tersebut berlangsung 8 hingga 17 Juni 2021. Live In didesain untuk memberikan pengalaman baru bagi peserta didik yang tidak bisa mereka dapatkan pada hari-hari efektif pembelajaran di sekolah.
ADVERTISEMENT
Fasilitator SABS yang sekaligus ketua panitia program Live In, Niko Putra Sadewa menjelaskan, Live In merupakan kegiatan yang mengharuskan peserta didik tinggal di suatu tempat untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan kelompok yang sudah ditentukan untuk memberikan pengalaman baru bagi peserta didik.
"Kami berharap setelah Covid-19 berakhir, kegiatan Live In tetap menjadi salah satu syarat kelulusan peserta didik. Tetapi, dengan pelaksanaan yang lebih lama dan dengan anggota kelompok yang lebih sedikit, serta lokasi kegiatan di luar lingkungan sekolah.”
Live In menjadi lebih menarik karena didampingi oleh fasilitator SABS sekaligus mahasiswa Kampus Mengajar angkatan ke-1. Mahasiswa tersebut terdiri atas Bima Budi Kharisma dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Agnes Silvia Mulya Lestari dan Calista Hendiastika dari Universitas Diponegoro, Nafiri Sharyll Adelzha Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan Agnes Siwi Maharani Universitas Bangun Nusantara Veteran. Melalui pendampingan tersebut, kegiatan Live In dapat lebih terkontrol dan terarah.
ADVERTISEMENT
Bima yang merupakan aktivis English Journalist Team (EJT) mengatakan, pelaksanaan Live In tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena pandemi Covid-19. Oleh karenanya lokasi yang dipilih adalah lingkungan Sekolah Alam Bengawan Solo.
"Sekolah tidak mau ambil risiko dengan tinggal di tempat yang jauh dari lingkungan sekolah. Pengelompokan pun dibuat dengan kelompok-kelompok kecil, yaitu empat peserta didik per kelompok yang setiap kelompok hanya memiliki waktu tiga hari dua malam untuk tinggal di sekolah,” jelasnya.
Setiap kelompok diharuskan membuat produk yang dapat dijual untuk membiayai kehidupan mereka selama tiga hari. Peserta didik hanya diperbolehkan membawa bekal mentah untuk dimasak di sekolah dan membawa uang saku Rp15.000,00 per hari.
Selama tiga hari tersebut terdapat pembagian kegiatan yang harus mereka lakukan. Hari pertama mereka merencanakan produk yang akan dibuat, hari kedua eksekusi rencana yang telah mereka buat, dan hari ketiga adalah selling day. (Dew)
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020