Kisah Alumnus UM Surabaya Idap Colour Blindness, Jadi Pelukis di Australia

Konten dari Pengguna
5 Agustus 2022 10:59
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Warpan Djoyo Alumni UM Surabaya pelukis di Australia (Foto/Dok/Humas).
zoom-in-whitePerbesar
Warpan Djoyo Alumni UM Surabaya pelukis di Australia (Foto/Dok/Humas).
ADVERTISEMENT
Warpan Djoyo, alumni Fakultas Ekonomi (FE) UM Surabaya tahun 2005 yang menjadi seniman pelukis (artist) asal Indonesia, yang berhasil melebarkan karir lukis profesionalnya di pasar Australia.
ADVERTISEMENT
Warpan Djoyo, berasal dari keluarga seniman yang telah menggeluti dunia seni lukis sejak masih berada di bangku SD. Di usianya yang kurang lebih 11 tahun, ia telah memiliki banyak karya lukisan sendiri dan memulai melukis di atas kanvas saat ia masuk SMA, dan lukisan-lukisan tersebut masih lengkap ia simpan di kota kelahirannya, Bojonegoro.
Terinspirasi oleh sang ayah yang juga merupakan seorang seniman pengrajin kayu dan saudara kembarnya yang hobi melukis dari kecil, seniman berusia 41 tahun ini mengaku baru menekuni profesi lukis profesional pada tahun 2010 silam. Sedari SD hingga tamat SMA, seniman yang kerap disapa Warpan ini cukup aktif melukis untuk menyalurkan hobi dan kreatifitasnya di atas kanvas.
Saat Ia memutuskan untuk pindah ke Surabaya demi melanjutkan pendidikannya di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), ia juga sempat meninggalkan rutinitas berkreasinya dengan oil dan kanvas.
ADVERTISEMENT
“Dulu waktu kuliah di UM Surabaya saya kuliah sambil kerja. Kerja di pabrik kertas malam hari mulai pukul 11 malam hingga 7 pagi dan pulang kerja langsung berangkat kuliah tiap hari selama 4 tahun,”kenang Warpan kepada redaktur UM Surabaya.
Rupanya, masuk fakultas ekonomi membawanya bekerja di perusahaan Unilever selama 8 tahun. Selama itu pula, ia mengaku berhenti melukis lantaran kesibukan pekerjaan.
Namun, karena jiwa seni dan kecintaannya terhadap seni lukis tak dapat diabaikan, Warpan kemudian memutuskan untuk berhenti bekerja dan pindah ke Bali. Di Pulau Dewatalah, ia kembali melukis hingga memiliki gallery pribadi di Ubud. Keinginannya untuk tetap berkembang ke ranah internasional terus ia kejar hingga ke tanah Australia.
ADVERTISEMENT
Merintis Karier Melalui Gumtree dan Ebay
Menurut Warpan, merintis karir lukisnya di Australia bukanlah hal yang sangat mudah. Ia mengaku banyak belajar di 2 tahun pertama saat tinggal di Perth dulu, saat ia harus menjual karya lukisnya lewat situs Gumtree dan Ebay ia rintis mendapatkan hasil materi dari tiap lukisan yang terjual, namun anehnya, ia kerap kali merasa sedikit kehilangan ketika karyanya jatuh ke tangan pembeli.
Tak semulus jalan tol, rintangan-rintangan juga silih berganti datang menghampiri karir lukisnya. Sebelum terdaftar di National Registry of Australian Art and Artist (NRAAA) pada 3 tahun silam dan mengikuti 9 exhibitions di seluruh Australia, karya lukisnya dulu kerap kali di tolak untuk ikut pameran lukis. Tetapi penolakan tersebut tak meredupkan usaha dan kerja kerasnya untuk tetap berkarya.
ADVERTISEMENT
Warpan memiliki visi sangat besar bahwa perjalanan seni tidak harus sendirian. Sangat penting bagi seniman untuk bekerjasama mempelajari praktik terbaik dan saling mendukung satu sama lain. Menurutnya butuh waktu 3 tahun untuk membentuk tim yang memiliki keyakinan yang sama dan juga bersemangat membantu artis lain.
“Kita semua bekerjasama, erat untuk mewujudkan ide ini. Syukur pada Juni 2021 Melbourne Artist secara resmi menjadi organisasi nirlaba di Australia,”imbuhnya.
Menurut penjelasannya Melbourne Artist adalah komunitas seni yang memiliki anggota asosiasi seniman yang baru muncul yang ingin berbagi dan bersemangat untuk tumbuh bersama, saling mendukung seniman yang diidentifikasi sebagai penduduk asli, beragam budaya dan bahasa.
Sebagai seniman impresionis, karyanya terinspirasi oleh pengalaman hidup sehari-hari dengan emosi, tanpa batas dalam subjek pilihan dan warna “menceritakan tanpa kata”. Warpan bekerja di sejumlah media termasuk seni visual, seni grafi, lukisan akrilik dan lukisan cat minyak. Ia telah memiliki sebelas pameran dan tujuh publikasi, majalah karyanya di masa lalu dan beberapa karyanya telah dikuratori oleh perancang busana global yang dijadikan sebagai produk fashion oleh beberapa brand dunia salah satunya oleh perusahaan fashion dari Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Tidak jadi Penghalang Meskipun Idap Colour Blindness
Dibalik lukisannya yang indah dan bisa dinikmati ternyata sejak kecil Warpan memiliki kesulitan dalam membedakan warna-warna atau colour blindness. Hal tersebut harus membuatnya belajar lebih keras agar bisa memadukan warna pada lukisan-lukisannya. Seringklai ia mendapatkan kritik dari berbagai pihak karena lukisannya dianggap tidak berpadu.
Namun, sebagai pelukis Warpan memiliki prinsip bahwa seni itu selaras dengan intuisi. Segala warna yang ia tumpahkan dalam tulisannya adalah sebuah ekspresi yang datang dari perasaan. Menurutnya justru hal tersebut yang membuat lukisannya menjadi lebih hidup. Oleh karenanya, ia kerap kali melukis berdasarkan warna yang sesuai dengan suara hatinya.
Meraih Penghargaan dari National Registry of Australian Art and Artist
ADVERTISEMENT
Di balik kesuksesannya menjadi seorang pelukis ternyata Warpan seringkali mengikuti berbagai ajang pameran Melbourne seperti Whitehorse Art Show Boxhill, Moone Valley Art Show, Art in Tune and Music Brighton Tow Hall, Camberweell Swinburn University Art Show Knox Art Show Bayside, Bendigo Bank Melbourne, Spring Breeze, Carrigbush Hotel. Pada kesempatan pameran Melbourne Art Town ia mengikuti kompetisi melukis secara live di Chapel Street Melbourne.
Dalam kesempatan tersebut ia berhasil terpilih bersama 50 seniman Australia lainnya yang membawanya ke penghargaan sertifikasi dalam bentuk copy rights yang menjadikan lukisannya disematkan di berbagai produk industry kreatif seperti tas dan baju di berbagai belahan dunia.
Ia berpesan bahwa kerja keras adalah kunci untuk menggapai cita-cita. Di akhir paparannya Warpan juga mengungkapan bahwa dirinya ingin terus melukis sampai masa tuanya, menghabiskan waktu bermain dan berkreasi dengan warna sesuai dengan intuisi dan perasaanya.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020