kumparan
KONTEN PUBLISHER
9 Oktober 2019 17:29

Harta Karun Sriwijaya, Manik 'Mata Setan' Laku Rp 3 Juta per Butir

IMG-20191009-WA0029.jpg
Sejumlah masyarakat yang melakukan pencarian harta karun di Desa Pelimbangan, OKI, Sumatera Selatan. (foto: istimewa)
Sinar mentari pagi itu, Rabu (9/10) belum telihat, tapi Jumadi (37 tahun), warga Desa Pelimbangan, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, ini sudah sibuk mempersiapkan bekal makanan dan peralatannya untuk bekerja.
ADVERTISEMENT
Pria yang memiliki dua anak tersebut bukan hendak pergi ke kebun untuk menyadap karet seperti yang selama ini dilakukannya, melainkan menuju lokasi lahan gambut untuk berburu emas yang disebut sebagai harta karun peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Kegiatan tersebut sudah sepakan terakhir dilakukannya.
Setelah merasa segala sesuatu yang dibutuhkan siap, Jumadi langsung berangkat menggunakan sepeda motor menuju lokasi yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari pemukiman warga. Lokasi itu berada di area perkebunan sawit milik PT Samosa Usaha Jaya, namun areanya belum ditanami setelah peristiwa kebakaran di tahun 2015 lalu.
Tiba di lokasi sekitar pukul 06.30 WIB, Jumadi langsung disambut sejumlah warga lainnya yang ternyata sudah lebih dulu tiba di lokasi itu. Setelah dirasa siap, suami dari Ernawati (33 tahun) ini langsung menceburkan diri ke sebuah kanal yang lebarnya sekitar 3 meter dengan kedalaman setinggi pinggang orang dewasa.
ADVERTISEMENT
Berbekal sebuah sekop dan baskom plastik, Jumadi mulai mengeruk tanah di pinggiran kanal dan mengumpulkannya ke dalam baskom tersebut. Selanjutnya tanah itu kemudian diayak atau dalam masyarakat sekitar menyebutnya sebagai 'melimbang'. Langkah tersebut dilakukannya berulang-ulang hingga bisa menemukan benda-benda yang dicarinya.
Seiring langit yang semakin terang, maka warga yang datang ke lokasi tersebut terus bertambah hingga jumlahnya mencapai puluhan. Namun, meski sebenarnya area perkebunan sawit itu cukup luas, namun kebanyakan warga hanya berkumpul di satu titik lokasi yang luasnya tak lebih dari 20 meter persegi. Sama dengan Jumadi, tujuan warga yang datang ke lokasi tersebut untuk berburu emas dan perhiasan.
Sekitar 1 jam melimbang, Jumadi kemudian berhenti sejenak sembari tersenyum. "Alhamdulillah ada hasil, sepertinya manik-manik. Tapi bukan yang diharapkan," katanya sembari menunjukkan sejumlah hasil yang diperoleh.
IMG-20191009-WA0030.jpg
Mani-manik yang ditemukan warga di lokasi pencarian harta karun di Desa Pelimbangan, OKI, Sumsel (foto: istimewa)
Jumadi bilang, benda utama yang dicari di lokasi tersebut pada umumnya yakni emas dan manik-manik atau biasa warga menyebutnya sebagai 'mata setan' atau 'mata kucing'. Penyebutan itu berdasarkan dari motif manik-manik yang diduga dari batu atau kaca dan berwana merah dan oranye.
ADVERTISEMENT
"Manik-manik yang disebut mata setan atau mata kucing itu harganya jauh lebih tinggi dari emas," katanya.
Diceritakan Jumadi, sebelumnya pernah ada warga yang menemukan manik-manik jenis itu ukurannya tidak terlalu besar, atau sekitar biji tasbih. Namun ternyata dibeli kolektor hingga Rp 3 juta per butirnya.
"Saya juga kurang tahu kelebihanya apa. Tapi benda itu yang memang kini diburu selain dari emas," katanya.
Sementara untuk manik-manik biasa, maka biasanya akan dihargai 30-50 ribu per ons, tergantung dari tawar-menawar dengan pembeli. Untuk emas, biasanya akan dihargai Rp 500 ribu per gram, baik itu ditemukan berupa cincin, maupun lempengan-lempengan kecil.
"Pembeli atau kolektor kadang langsung datang ke lokasi pencarian, tapi ada juga yang ke rumah-rumah warga. Mereka (kolektor) ini ada yang memang orang OKI, ada juga yang datang dari Palembang," katanya.
ADVERTISEMENT
Jumadi mengatakan, lokasi yang biasanya diyakini terdapat emas maupun manik-manik tersebut ada tanda-tanda tertentu. Seperti ditemukan pecahan gerabah atau keramik, maka biasanya di sekitar temuan itu juga akan ada benda berharganya.
"Saya pribadi saja pernah mendapatkan hasil sekitar Rp 3 juta, dari hasil menjual koin emas dan manik-manik yang dikumpulkan setelah mencari selama dua hari. Itu terjadi sekitar empat hari yang lalu," katanya.
Jumadi mengaku belum memutuskan hingga kapan melakukan kegiatan pencarian benda berharga tersebut. Apalagi kondisi harga karet yang saat ini terbilang murah, selain itu karena kemarau panjang banyak pohon karet di kebunnya gugur daun atau tak bisa disadap.
"Iya jalani saja dulu selagi masih bisa menemukan emas di lokasi ini. Apalagi karet belum menghasilkan," katanya.
ADVERTISEMENT
Kisah yang tak jauh berbeda juga disampaikan Kartini (34 tahun), sejak pagi dia membawa serta anak laki-lakinya ke lokasi untuk membantunya berburu harta karun tersebut.
Menurutnya, meski belum pernah mendapatkan hasil yang besar, namun 'profesi' barunya ini dianggap sumber penghasilan yang menguntungkan tak kala penghasilan suaminya yang merupakan seorang nelayan belakangan tidak mencukupi untuk kebutuhan ekonomi.
"Baru sekitar 4 hari ikut kesini, saya tinggalnya di Simpang Tiga. Ya, musim kemarau kan pendapatan nelayan turun jauh, jadi saya coba ikut mencari emas dan manik-manik disini. Alhamdulillah hasilnya cukup untuk kebutuhan keluarga," katanya.
Kartini bilang, suaminya juga terkadang membantu melakukan pencarian. Tapi memang biasanya datang di siang hari. "Jadi bergantian, nanti siang saya pulang, dan suami yang menggantikan hingga sore," katanya.
ADVERTISEMENT
Terpisah, Peneliti Balai Arkeologi Sumatera Selatan, Retno Purwanti, mengatakan wilayah pesisir timur Sumatera, mulai dari Lampung-Sumsel-Jambi diduga merupakan pusat pemukiman, dan perdagangan. Bahkan sebuah teori menyebutkan ada kemungkinan di Teluk Cengal, OKI, pernah berdiri sebuah pelabuhan besar zaman Kerajaan Sriwijaya.
"Teori ini juga didukung dengan sejumlah fakta, seperti lokasi yang strategis, dimana setidaknya ada 5 sungai kuno yang bermuara ke Teluk Cengal dan jaraknya tidak terlalu jauh dengan selat Bangka," katanya.
Selain itu, Retno menyebutkan berdasarkan penelitian juga daerah pesisir merupakan wilayah pesisir timur OKI dianggap strategis untuk dijadikan pusat pemukiman dan perdagangan. Oleh karena itu banyak ditemukan benda bersejarah di lokasi itu.
"Pesisir timur Sumatera itu memang gudangnya (benda bersejarah), khususnya era Kerajaan Sriwijaya dari abad ke 6-14 masehi hingga pasca Sriwijaya," katanya. (jrs)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan