kumparan
17 Jul 2019 15:48 WIB

Ibu dan Siswa Korban Penganiayaan di SMA Taruna Palembang Alami Trauma

Kondisi salah satu korban penganiayaan yang saat ini masih dirawat di RS Charitas Palembang (foto: istimewa)
Kasus penganiayaan yang terjadi saat pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS) di SMA Taruna Indonesia, Palembang, Sumatera Selatan, menyisakan duka mendalam bagi orang tua korban. Hal ini diketahui setelah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengunjungi salah satu korban yang saat ini masih dirawat di Rumah Sakit RK Charitas.
ADVERTISEMENT
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, mengatakan pihaknya baru mengetahui bahwa selain korban meninggal dunia, ternyata juga ada siswa yang kini kondisinya masih kritis, yakni Wiko Jerianda (14).
"Saat ini ibu korban belum bisa bicara banyak, masih menangis terus," katanya di Palembang, Rabu (17/7)
Berdasarkan keterangan yang didapat, Retno mengatakan, sebelum peristiwa ini terjadi, orang tua korban mengantarkan anaknya ke sekolah dalam keadaan sehat. Mereka begitu terpukul saat pihak sekolah memberi kabar anaknya masuk rumah sakit.
"Mereka (orang tua korban) ini sempat mengantar anaknya sekolah, dan bertemu kembali ketika anaknya sudah di rumah sakit," katanya.
Menurutnya, saat itu, korban masih sadar dan sempat menceritakan peristiwa kekerasan yang dialaminya selama mengikuti MOS di sekolah. Hal itu pun direkam oleh ibu korban.
ADVERTISEMENT
Namun, karena mengalami masalah pada ususnya, korban harus menjalani operasi. Tak lama setelah menjalani proses operasi, kondisi korban terus menurun hingga tak sadarkan diri.
"Sampai saat ini korban belum sadarkan diri, dan kadang (mengigau) menjerit-jerit seperti orang lagi dipukuli," katanya.
Melihat kondisi anaknya yang seperti itu, ibu korban mengalami trauma dan tak berhenti menangis. Sehingga KPAI bersama Dinas Pendidikan akan melakukan pendampingan kepada orang tua maupun korban untuk rehabilitasi psikologis mereka.
"Termasuk juga orang tua korban lainnya yang meninggal dunia," katanya.
Tidak hanya itu, sambung Retno, KPAI juga tidak ingin kasus ini hanya ditarik ke satu pribadi yang saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka. Ia tidak ingin kasus ini terjadi seolah-olah hanya atas perlakukan tersangka sendirian.
ADVERTISEMENT
"Jadi apakah hanya dia (tersangka) saja. Jadi jangan-jangan proses penganiayaan seperti ini sudah lama terjadi di sekolah tersebut, hanya kebetulan saja kali ini tergolong parah hingga membuat korban meninggal dunia dan kritis. Saya tidak yakini juga kalau terjadi tiba-tiba," katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Widodo, mengatakan pihaknya sejauh ini masih dalam tahap evaluasi terhadap kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut. Bahkan yang menjadi pertanyaan adalah kenapa ada guru yang baru bekerja satu minggu diberi tugas seperti itu? Menurutnya, guru tersebut bukan merupakan guru fisik yang tahu takaran fisik yang harus dijaga.
"Sehingga bukan ahlinya untuk menjadi pembina kegiatan MOS. Ini yang masih kami selidiki sekarang, bagaimana guru itu bisa masuk ke sekolah tersebut tanpa seleksi yang baik," katanya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, evaluasi juga dilakukan terhadap izin sekolah tersebut. Jika nantinya ternyata hal seperti ini bisa berpotensi terulang, maka izinnya akan dihentikan.
"Program seperti kegiatan siswa di luar pagar sekolah sebetulnya harus izin ke kita. Sementara kegiatan MOS yang dilakukan di luar sekolah tersebut tidak ada izin," katanya. (jrs)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·