kumparan
KONTEN PUBLISHER
11 November 2019 19:51

Kabut Asap Membuat Sumatera Selatan Dilanda Suhu Panas Ekstrem

IMG-20191014-WA0039.jpg
Kabut asap yang masih terjadi membuat Sumsel kini dilanda suhu panas ekstrem. (foto: Ary Priyanto/Urban Id)
Beberapa hari terakhir suhu udara di Palembang, Sumatera Selatan, terbilang ekstrem. Bahkan di siang hari suhu udara bisa mencapai 36 derajat celcius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, hal ini akibat dampak dari kabut asap yang melanda 'Bumi Sriwijaya'.
ADVERTISEMENT
Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Bambang Beny Setiaji, mengatakan suhu panas ekstrem yang melanda beberapa daerah di Sumsel belakangan hari terakhir ini diakibatkan oleh posisi matahari yang berada di sekitar garis khatulistiwa.
"Selain itu, fenomena ini juga akibat dampak dari efek Gas Rumah Kaca (GRK) kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang masih terus terjadi terjadi di beberapa wilayah Sumsel," katanya, Senin (11/11).
Bambang bilang, suhu panas ekstrem serupa juga pernah terjadi saat peristiwa karhutla hebat yang terjadi di Sumsel pada 2015 lalu. Bahkan saat itu suhu udara bisa mencapai 37 derajat celcius, namun tiga tahun setelahnya suhu udara kembali normal.
"Normalnya suhu maksimum di Sumatera Selatan rata-rata hanya mencapai 32 derajat celcius. Tapi beberapa hari terakhir ini mencapai 36 derajat celcius," katanya.
ADVERTISEMENT
Dia menambahkan, berdasarkan pengamatan BMKG, potensi hujan di Sumsel baru dapat terjadi saat tanggal 12 hingga 15 November mendatang. Menurutnya, suhu panas ekstrem ini baru dapat berkurang setelah turun hujan.
"Turunnya hujan dapat mengurangi dampak karhutla yang kini masih terjadi, dengan begitu kondisi kabut asap juga akan berkurang," katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor BMKG Stasiun Kenten Palembang, Nuga Putratijo, mengatakan musim kemarau di Sumsel akan berlangsung hingga dasarian ke tiga November. Hal ini akibat dipengaruhi tiga siklon tropis wilayah Laut Andaman, Filipina, dan China Selatan yang membuat cuaca Sumsel terasa sangat kering.
"Mestinya pada November, angin muson Asia telah banyak membawa masuk uap air ke Sumsel. Namun, justru muson Australia bersifat lebih kering masih mengarah ke wilayah Sumsel," katanya. (jrs)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan