News
·
22 Juli 2021 14:13
·
waktu baca 4 menit

Menjadikan Pandemi Sebagai Nostalgia

Konten ini diproduksi oleh Margaretha Lina Prabawanti
Menjadikan Pandemi Sebagai Nostalgia (230210)
searchPerbesar
Ilustrasi nostalgia sebelum pandemi (dok. pribadi)
“Pandemi kian menggila, kita perlu berstrategi supaya tidak turut menjadi gila.” Demikian keluhan seorang teman di tengah kelelahannya terus-menerus menerima kabar dukacita belakangan ini.
ADVERTISEMENT
Saking seringnya mendapat kabar dukacita, suatu ketika seorang teman di grup WhatsApp bahkan sampai keliru menyebut nama almarhum dengan nama orang lain yang jelas masih segar bugar. Tentu saja hal ini membuat situasi pertemanan menjadi runyam. Siapa yang rela disebut namanya sebagai almarhum?
Ketika Amerika dan Eropa mulai pulih, Italia sudah melepas masker, bahkan Piala Eropa usai digelar dengan penonton yang nyata menggelorakan stadion, bukan hanya menggemakan sorak-sorai di ruang-ruang virtual, kita di Indonesia justru tengah mempertebal masker dan kembali mengurung diri. Sebuah ironi yang mau tak mau harus dijalani sebagai bagian dari proses menuju herd immunity.
Meningkatkan imun di masa kelabu ini memang bukan urusan mudah. Kita gampang terperangah dan kemudian menjadi susah atas setiap kabar yang terdengar di tengah wabah.
ADVERTISEMENT
Ajakan untuk mendengarkan lagu nostalgia bersama hanyalah salah satu upaya mengalihkan perhatian dari aneka pemberitaan bertendensi negatif.
Lagu nostalgia bukan semata urusan kenangan, namun lebih kepada muatan emosional untuk mendorong keterhubungan sosial dan mengurangi ancaman eksistensial ketika dilakukan bersama dalam populasi.
Banyak lagu lama yang belakangan kembali viral, entah masih dalam versi aslinya atau sudah diaransemen ulang. Namun karena mengandung muatan emosional, maka kebanyakan orang lebih suka menikmatinya dalam versi asli.
Mendengarkan lagu nostalgia pada era pandemi jilid dua ini memang ibarat oase di tengah postingan permintaan donor darah plasma konvalesen, pertanyaan UGD rumah sakit mana yang tidak penuh karena ada kerabat dengan kondisi kesehatan darurat, hingga berita kematian seseorang yang kita kenal secara dekat.
ADVERTISEMENT
Putaran kedua pandemi ini memang cukup meresahkan. Rekor demi rekor bersusulan mencatatkan diri sebagai lonjakan kasus harian. Tak heran bila hal ini membuat kita ingin menutup telinga terhadap berita dukacita.
Apakah masyarakat mulai abai? Apakah negara ini sudah salah langkah mengatasi pandemi? Atau karena kita semua lalai menjaga diri? Tak ada gunanya lagi beragam pertanyaan itu tanpa solusi pasti.
Lantas apakah lagu-lagu nostalgia yang kembali memenuhi ruang virtual publik telah paripurna menjadi katarsis? Setidaknya perhatian kita memang perlu dialihkan sejenak untuk sekadar mengingatkan kembali bahwa hidup masih dapat dinikmati di tengah kemelutnya pandemi.
Pilihan lagu nostalgia era 80-an ber-genre city pop yang meriah kini lebih banyak dipilih orang di kala susah menghadapi wabah. Karena genre city pop lahir dalam kondisi masyarakat yang hidup sejahtera dan bahagia, maka nada serta melodi lagunya pun cenderung funky dan easy listening, seperti lagu Sakura yang dipopulerkan Fariz RM atau lagu beraroma optimis yang dinyanyikan Utha Likumahuwa, Esok kan Masih Ada.
ADVERTISEMENT
Mendengarkan bersama lagu nostalgia yang meriah dalam kelompok-kelompok yang mewakili populasi dengan kesamaan minat semacam ini memang membuat perasaan optimis terbangun kembali. Sesuatu yang sangat kita butuhkan untuk meningkatkan imun.
Menjadikan Pandemi Sebagai Nostalgia (230211)
searchPerbesar
Warga yang menggunakan masker melintasi mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di kawasan Tebet, Jakarta. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS
Apabila kita tinjau sejarahnya, pada awalnya nostalgia sempat dianggap sebagai penyakit medis yang terbatas di Swiss pada abad ke-19. Gejalanya yang berupa tangisan, detak jantung tak teratur sampai insomnia dipicu oleh keadaan disforik seperti suasana hati yang negatif dan kesepian. Mirip dengan kecenderungan burnout yang dialami banyak orang di masa pandemi ini, di mana orang menjadi lebih mudah terserang stres dan mengalami kelelahan secara emosional.
Namun kesusahan hidup di masa lalu ternyata justru memicu semangat juang untuk bertahan di masa sekarang. Belum lama ini seorang teman lama yang sukses mendirikan perusahaan start up menelepon dan bernostalgia memperbincangkan kesusahannya di masa lalu. Dulu harapan hidupnya sangat rendah, bahkan untuk makan sehari-hari pun susah. Siapa yang menyangka bila kesusahan di masa lalu itulah yang kini menjadi pendongkrak semangatnya.
ADVERTISEMENT
Jelas bahwa jejak emosi di masa lalu itu apabila diingat kembali di masa kini ternyata membawa dampak positif. Nostalgia jauh lebih baik daripada mengalaminya kembali secara nyata sekarang ini karena segala akibat dari pengalaman negatif di masa lalu itu toh sudah berlalu. Masa lalu tak lagi bisa menyakiti kita di masa kini.
Kenyataan bahwa kita telah berhasil melalui segala kesusahan dan penderitaan di masa lalu itulah yang menjadikan harapan kita meningkat di masa kini.
Nostalgia juga dapat membantu mengobati depresi, karena ingatan masa lalu dapat membantu mencegah kesepian dan kecemasan. Siapa orangnya yang tak pernah mengalami patah hati di masa lalu? Bukankah nostalgia itulah yang memperkuat keterampilan sosial dan hubungan pribadi kita di masa kini? Membuat kita dengan ringan bisa menertawakan diri sendiri, mengapa dulu pernah merasa sangat menderita oleh peristiwa yang tak seberapa berat itu?
ADVERTISEMENT
Suatu ketika di masa sebelum pandemi, saya mendapat kunjungan seorang kolega dari perusahaan lain ketika saya sedang menjernihkan pikiran karena belum tercapainya target bulanan dengan mendengarkan lagu-lagu nostalgia. Tanpa disangka, kolega itu turut bersenandung sambil mereka-reka tahun kelahiran saya ditinjau dari jenis lagu nostalgia yang sedang saya putar. Karena selera musik yang tidak berbeda, dia menduga kami lahir di tahun yang sama dan memang demikianlah adanya.
Sejak saat itu, beragam order dari kolega itu pun mengalir lancar sehingga saya tak perlu lagi mencemaskan target. Rexeki memang bisa datang dari mana saja, termasuk dari lagu nostalgia.
Ketika dalam diri kita timbul keinginan untuk sementara menutup telinga terhadap berita dukacita, bukankah lebih baik mendengarkan lagu nostalgia?
ADVERTISEMENT
Siapa tahu dengan ketangguhan kita menjaga imun dan ketabahan kita mengatasi kabar dukacita di tengah wabah ini, kelak kenangan akan pandemi yang terjadi saat ini pun akan menjadi nostalgia kita.
***