News
·
6 Juni 2021 11:07

Bagaimana Kabarmu Palestina?

Konten ini diproduksi oleh Sari
Bagaimana Kabarmu Palestina? (654642)
searchPerbesar
Masjid Al Aqsa di Palestina, Sumber Foto: Pexels.com
Setelah saling serang selama beberapa hari lalu, Israel dan Palestina akhirnya menyepakati gencatan senjata. Kesepakatan ini tentu disambut baik oleh berbagai negara, mengingat bahwa konflik Israel-Palestina merupakan konflik yang sudah terjadi sangat lama.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan catatan sejarah, konflik antara kedua negara ini disebabkan adanya perebutan kekuasaan wilayah. Konflik ini kemudian berkembang luas hingga akhirnya terus-menerus menjadi sorotan dunia internasional.
Sejarah Palestina dalam Islam
Sebelum dikenal dengan namanya saat ini, Palestina telah lama tercatat di dalam sejarah Islam. Hanya saja, kawasan yang sekarang dikenal Palestina ini dulunya disebut dengan nama yang berbeda-beda, seperti Kanaan, Yudea, dan Tanah Suci.
Palestina dulunya juga merupakan wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Babilonia, Persia, Macedonia, hingga Yunani. Kemudian, pada tahun 636 Masehi, Palestina mulai dikuasai oleh kerajaan Islam.
Awal Muasal Konflik Israel-Palestina
Sementara itu, akar konflik antara Israel-Palestina sendiri sebenarnya sudah ada sejak penjajahan Palestina oleh Inggris pada masa Perang Dunia I, tepatnya saat Kesultanan Ottoman terlibat di Perang Dunia I di pihak Jerman, Bulgaria, dan Austria-Hungaria.
ADVERTISEMENT
Padahal, Kesultanan Ottoman juga punya masalah internal karena banyak negara-negara kekuasaannya yang ingin merdeka. Kondisi ini lantas dimanfaatkan Prancis dan Inggris, yang memihak nasionalisme Arab untuk melemahkan posisi lawan.
Hal ini kemudian berujung pada serangan pada Kerajaan Ottoman pada 1918, di mana Prancis dan Inggris sukses menguasai Provinsi Levantine. Lokasi Provinsi Levantine sendiri sekarang adalah lokasi Irak Utara, Lebanon, Suriah, Israel, Palestina, dan Yordania berada.
Pada saat yang bersamaan, gerakan Zionisme mulai lahir dan berkembang sejak akhir abad ke-19 melalui organisasi Hibbat Zion. Kelahiran gerakan ini merupakan respon atas seruan anti-Yahudi atau anti-bangsa Semit di Eropa.
Adanya sentimen anti-Yahudi membuat banyak kaum Yahudi di Eropa yang melarikan diri. Dan salah satu wilayah yang jadi tujuan orang-orang Yahudi adalah Palestina. Sementara itu, Palestina berada di bawah kekuasaan Inggris sebagai akibat dari penguasaan Provinsi Levantine oleh Prancis dan Inggris.
ADVERTISEMENT
Eksodus bangsa Yahudi dari Eropa berlanjut dengan pertemuan antara Menteri Luar Negeri Arthur Balfour pada 1917 dengan Chaim Weizmann, pimpinan Hibbat Zion yang pergi ke Inggris. Dari pertemuan itu, disepakati bahwa Inggris mendukung ide Zionis untuk menciptakan negeri bagi kaum Yahudi di Palestina.
Kesepakatan ini bermuara pada Deklarasi Balfour yang terbit pada 2 November 1917. Dalam deklarasi tersebut, dibahas hak-hak sipil serta agama bagi komunitas non-yahudi di Palestina, beserta status politik orang Yahudi yang berada di negara lain.
Hanya saja, deklarasi tersebut sekadar menyebutkan “national” home, yang maknanya dinilai ambigu oleh para sejarawan. Salah satunya adalah James Gelvin, seorang sejarawan Timur-Tengah. Pada bukunya (2002), istilah tersebut tidak cukup kuat di mata hukum internasional untuk menjadi sebuah “negara”.
ADVERTISEMENT
Ditambah lagi, Deklarasi Belfour sama sekali tidak melibatkan pihak Palestina, sebagaimana yang diungkapkan Balfour sendiri pada tahun 1919 di dalam memonya. Karena itu, Deklarasi Balfour ini juga merupakan salah satu cikal-bakal konflik bangsa Arab dengan Yahudi.
Ketika Perang Dunia II pecah dan Jerman berambisi untuk “membasmi” kaum Yahudi lewat Holocaust, makin banyak orang-orang Yahudi yang melarikan diri ke Palestina.
Konflik Israel-Palestina dan Perekonomian Dunia
Adanya konflik antara kedua negara tersebut dapat berdampak pada perekonomian dunia, terutama aktivitas ekspor-impor, terutama dengan negara yang memiliki hubungan dagang dengan Israel dan/atau Palestina.
Palestina sendiri merupakan negara dengan komoditas utama semen, tekstil, semen, besi, baja, dan jenis-jenis logam dasar lainnya, plastik, furnitur, dan produk olahan susu. Sementara itu, Israel mengekspor bahan-bahan baku, berlian, peralatan militer, minyak mentah, biji-bijian, serta kendaraan bermotor.
ADVERTISEMENT
Pengaruhnya di Indonesia Apa?
Indonesia sendiri tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel, termasuk hubungan dagang. Sedangkan hubungan dagang Indonesia dengan Palestina terbilang cukup kecil. Oleh karena itu, konflik kedua negara tersebut akan berdampak ke Tanah Air, meskipun tidak secara langsung.
Pasalnya, karena posisi-posisi negara Arab yang menentang Israel, bisa jadi ada risiko bahwa konflik juga akan meluas ke berbagai negara Timur Tengah. Lebih lanjut lagi, hal ini dapat berdampak pada kenaikan harga minyak dunia, yang kemudian berpengaruh terhadap perekonomian Tanah Air. Sebab, Indonesia adalah negara net importir minyak.
Tentang Kemanusiaan
Sebagai negara yang berlandaskan pada azas Pancasila, artinya Indonesia juga berpegang teguh pada salah satu silanya, tepatnya sila kedua. Oleh karena itu, Indonesia juga perlu bertindak untuk mendukung Palestina.
ADVERTISEMENT
Hal ini dikarenakan konflik antara Israel-Palestina sebenarnya tidak perlu dilihat sebagai konflik agama, melainkan konflik kemanusiaan. Jadi, menyuarakan hak-hak
Seruan dukungan aktif ini sudah dilakukan di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga telah menginstruksikan pemasangan bendera dan lampu bernuansa bendera Palestina di beberapa titik sebagai wujud pengingat dan ajakan untuk terus mendukung Palestina.
Hal yang serupa juga terjadi di Bandung, di mana para warga Kota Kembang tumpah ke jalan dalam aksi bela Palestina. Tak hanya itu, seruan untuk dukungan dan bela Palestina juga terus dilakukan di berbagai platform media sosial, seperti Instagram dan TikTok.