Kumplus- Opini Indira Nurul

Serbuan Monyet Akan Terus Terjadi kecuali Masalah Akar Diatasi

Mahasiswa biologi hewan. Bekerja di lembaga konservasi Centre for Orangutan Protection yang memiliki pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan Timur dan Sumatera Utara.
29 September 2021 14:20
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Beberapa hari lalu beredar video viral yang menunjukkan puluhan monyet ekor panjang masuk ke pemukiman di Desa Sungai Sipai, Kecamatan Martapura, Kalimantan Selatan. Mereka datang menyerbu dan menghambur-hamburkan sampah untuk mencari makan.
Juni 2021 lalu, kawanan monyet juga dilaporkan masuk ke RSJ Sambang Lihum yang berjarak 25 kilometer dari Desa Sungai Sipai, dan merusak kendaraan di parkiran. Sejak kebakaran hutan hebat di tahun 2015, kawanan monyet ekor panjang memang sudah berkali-kali menyerbu RSJ Sambang Lihum. Tentu saja hal ini meresahkan. Selain merusak barang-barang, ada risiko warga digigit monyet.
Selama bekerja di konservasi satwa liar—terutama primata—sejak 2015 silam, konflik antara manusia dengan primata sudah seperti makanan sehari-hari. Berbagai spesies primata pernah saya rescue, mulai dari yang kecil seperti kukang hingga primata besar seperti siamang dan orang utan. Namun dari 63 spesies primata di Indonesia, ada satu yang paling sering berkonflik dengan manusia: monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparan+
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparan+
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Konten Premium kumparan+
Puluhan, bahkan ratusan, monyet turun gunung menyerbu permukiman manusia. Apa penyebabnya? Simak opini Indira Nurul Qomariah dari lembaga konservasi Centre for Orangutan Protection pada daftar konten.