• 5

Efek Pemanasan Global Bagi Anda

Efek Pemanasan Global Bagi Anda


Dampak personal pemanasan global.

Dampak personal pemanasan global. (Foto: Ridho Robby/kumparan)
“Mungkin nanti sekitar area gurun di Timur Tengah tak lagi dapat ditinggali karena tinggi suhu udara yang ekstrem. Tapi itu memang bukan tempat tinggal saya.”
“Mungkin banyak kota di pesisir yang akan tenggelam karena air laut naik. Tapi saya kan tinggal di daratan tinggi.”
Jika kita masih berpikir seperti ini, menyepelekan ancaman dan bahaya pemanasan global, ada baiknya kita mengetahui berbagai dampak personal dari pemanasan global.
Dampak personal yang dimaksud di sini ialah efek yang dapat dirasakan oleh setiap orang, tiap manusia di Bumi, meski ia tak tinggal di gurun pasir dengan potensi sengatan panas mematikan maupun di pesisir laut yang terancam tenggelam.
Sulit Tidur di Malam Hari

Insomnia (cover)

Insomnia (Foto: Thinkstock )
Penelitian yang dipublikasikan pada 26 Meil 2917 dalam jurnal Science Advances mengungkapkan adanya korelasi antara perubahan iklim dengan sulit tidurnya seseorang di malam hari.
Nick Obradovich, peneliti Harvard Kennedy School dan Massachusetts Institute of Technology’s Media Lab, bersama sejumlah rekannya melakukan survei pada 765.000 penduduk Amerika Serikat terkait permasalahan tidur ini.
Salah satu pertanyaan yang mereka ajukan kepada ribuan responden itu adalah, “Selama 30 hari terakhir, berapa hari Anda merasa tak cukup istirahat atau kurang tidur?”
Para peneliti kemudian mencocokkan jawaban responden dengan informasi suhu stasiun cuaca untuk melihat apakah para responden terpapar suhu hangat tak lazim selama mereka berusaha tidur.
Dari pengolahan data terhadap informasi-informasi yang dikumpulkan, para peneliti mendapatkan hasil utama bahwa setiap kenaikan suhu malam hari sebesar satu derajat Celsius, menyamai tiga malam kurang tidur pada setiap 100 orang tiap bulannya.
Rentan Depresi

Depresi

Ilustrasi depresi. (Foto: Thinkstock)
Kesulitan tidur di malam hari akibat kenaikan suhu, menyebabkan kurang tidur, dan lebih lanjut berpotensi memicu depresi. Tak hanya itu, perubahan iklim yang berdampak pada frekuensi tinggi bencana alam, juga berujung pada rasa frustasi manusia.
“Tidur telah dinyatakan oleh para peneliti sebagai komponen penting dalam kesehatan manusia. Kurang tidur bisa menyebabkan seseorang lebih rentan terserang penyakit kronis, dan dapat membahayakan kondisi psikologis serta fungsi kognitif,” ujar Obradovich seperti dilansir Eurekalert, Selasa (26/5).
Penyakit psikologis seperti depresi juga dapat muncul dari guncangan peristiwa-peristiwa tak biasa seperti bencana alam.
Pemanasan global terbukti telah memicu gelombang panas, angin topan, badai, dan banjir muncul lebih sering. Anomali-anomali cuaca alam yang lebih sering muncul inilah yang dapat meningkatkan risiko post-traumatic stress disorder (PTSD) pada masyarakat.
Masyarakat korban bencana alam menjadi lebih rentan mengalami depresi dan gangguan kecemasan, bahkan juga rawan terkena gangguan kejiwaan.
Rawan Gangguan Pernapasan

Ilustrasi asma NOT COVER

Ilustrasi asma (Foto: Pixabay)

Pemanasan global membuat kualitas udara memburuk. Ini karena pemanasan global merupakan fenomena yang salah satunya dipicu oleh gas buang yang dihasilkan oleh aktivitas manusia seperti karbon dioksida dan metana.
Banyaknya polusi dalam udara seiring laju pemanasan global ini menyebabkan peningkatan risiko asma dan gangguan saluran pernapasan pada tiap individu.
Selain itu, jumlah kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga tuberkulosis juga diprediksi meningkat dan memburuk pada tahun 2030.
Harga-harga Meningkat

Biaya harus jadi pertimbangan

Biaya harus jadi pertimbangan (Foto: Thinkstocks)
Pemanasan global membuat banyak orang harus mengeluarkan kocek lebih banyak untuk tagihan listrik. Ini karena tagihan listrik akan naik akibat diperlukannya tenaga listrik yang lebih besar untuk mendinginkan suhu ruangan rumah dan kantor jika lingkungan di sekelilingnya makin panas. Juga untuk menghangatkan suhu ruangan rumah jika lingkungan sekitar semakin dingin.

Baca Juga :

    Pemanasan global memang kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca. Namun, kenaikan suhu rata-rata bumi itu membuat angin dan arus laut bergerak memindahkan panas di seluruh dunia sehingga dapat mendinginkan beberapa daerah dan menghangatkan beberapa daerah yang lain.
    Oleh sebab itu, ada daerah di bumi yang semakin panas, dan ada pula yang justru semakin dingin, sehingga upaya untuk menyesuaikan diri dengan suhu yang makin ekstrem itu memerlukan sumber tenaga dan biaya lebih besar.
    Selain untuk menanggung biaya listrik, anggaran tiap orang juga akan lebih cepat terkuras karena harga-harga pangan melonjak seiring pemanasan global. Sebabnya, cuaca panas yang semakin tinggi dan kian sering terjadi membuat banyak lahan pertanian gagal panen.

    Dampak personal pemanasan global.

    Dampak personal pemanasan global. (Foto: Ridho Robby/kumparan)
    Naik dan meluapnya air laut akibat mencairnya es di kutub bumi juga perlu menjadi perhatian karena dapat menyebabkan terendamnya sejumlah lahan permukiman, pertanian atau perkebunan yang berada di dataran rendah dekat laut.
    Tak hanya panas dan air laut yang naik, kandungan polusi gas yang semakin tinggi pun berpotensi mengancam keberlangsungan biota, baik hewan maupun tumbuhan di darat maupun laut akibat menyebarnya gas tersebut di udara dan terserapnya gas itu ke dalam lautan.
    Bukti Pemanasan Global di Indonesia
    Jika kita sebagai orang Indonesia masih juga mengabaikan ancaman perubahan iklim ini, mari kita lihat prediksi Climate Central terkait suhu udara di tiap kota di dunia yang meningkat, termasuk di Indonesia.
    Pada tahun 2100, suhu kota Jakarta diprediksi akan naik dari 29 derajat Celcius menjadi 32,5 derajat Celcius. Pada selang waktu yang sama, suhu kota besar lain seperti Medan diprediksi bisa mencapai 32,5 derajat Celcius.

    Pemandangan pusat bisnis SCBD Jakarta

    Pemandangan pusat bisnis SCBD Jakarta (Foto: REUTERS/Beawiharta)
    Dari lembaga dalam negeri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga pernah mengungkapkan data bahwa selama 1983-2003, kenaikan suhu udara per 10 tahun di Indonesia adalah 0,036 sampai 1,383 derajat Celsius.
    Maka bukan tidak mungkin di masa mendatang suhu di kota-kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta, akan berubah sepanas Timur Tengah atau Afrika jika laju pemanasan global tak segera dikendalikan dan dikontrol bersama.
    Atau parahnya, bisa jadi sebelum suhu Jakarta berubah sepanas Timur Tengah dan Afrika, ibu kota RI yang memiliki ketinggian rata-rata 8 meter di atas permukaan laut ini telah lebih dulu tenggelam oleh naiknya permukaan air laut akibat es kutub yang meleleh.

    Perubahan iklim

    Ilustrasi perubahan iklim. (Foto: Pixabay)
    Jadi, masih anggap enteng pemanasan global?

    SainsPemanasan GlobalInfografisPerubahan IklimLiputan Khusus

    500

    Baca Lainnya