kumparan
4 Juli 2017 12:08

Khoirul Anwar, Tolak Kemapanan Jepang demi Berjibaku di Indonesia

Khoirul Anwar bersama anak-anaknya. (Foto: Dok. Khoirul Anwar)
Belum lama ini, kabar tentang putri Menteri Susi, Nadine Pascale Kaiser Pudjiastuti yang memilih menjadi seorang warga negara Indonesia ketimbang menyandang kewarganegaraan Swiss seperti ayahnya, menghiasi pemberitaan.
ADVERTISEMENT
Memilih Indonesia di atas negara lain tak hanya dilakukan Nadine si gadis 23 tahun itu. Tak kurang banyak orang asli Indonesia yang menolak tawaran kenyamanan, kemapanan, dan kemasyhuran dari negara asing demi mendekap rasa cinta mereka pada tanah air.
Ini misalnya terjadi pada Khoirul Anwar, lelaki kelahiran 22 Agustus 1978 yang dikenal sebagai pemilik paten teknologi broadband yang menjadi standar telekomunikasi internasional, baik untuk sistem terestrial (di bumi) maupun satelit (di luar angkasa).
Khoirul Anwar (Foto: Dok. Khoirul Anwar)
Khoirul ditawari menjadi penduduk tetap (permanent residence) di Jepang. Dia memang peneliti yang sudah 10 tahun lebih belajar dan berkarya di Jepang. Keluarganya tinggal di Jepang, bahkan keempat anaknya lahir di Negeri Matahari Terbit itu.
Dengan kiprah cemerlangnya di Jepang, tak heran Negeri Sakura menawarkan “kompensasi” sepadan baginya. Dan mestinya, Khoirul senang. Sebab keluarganya kadung nyaman tinggal di Jepang, dan anak-anaknya merasa berat hati bahkan menolak untuk kembali ke Indonesia --yang mereka tak tahu seperti apa nantinya jika berdiam di sini.
ADVERTISEMENT
Pun, di Jepang ada banyak proyek penelitian yang bisa dilakukan dan dilanjutkan Khoirul. Dengan fasilitas yang dimiliki Negeri Samurai, bagi seorang peneliti dan penemu (inventor), amat besar kemungkinan untuk menciptakan penemuan-penemuan baru berikutnya di sana.
Jika dibandingkan dengan Indonesia, peluang Khoirul untuk melakukan terobosan dalam penelitiannya jelas lebih besar di Jepang. Akses informasi dan ilmu pengetahuan lebih berlimpah di sana. Dukungan untuk peneliti pun lebih banyak didapat di sana.
Ambillah contoh terkait dana penelitian. Akses untuk memperoleh dana penelitian dari pemerintah Jepang tentu jauh lebih mudah dibanding dari pemerintah Indonesia. Besaran danapun jauh lebih tinggi di Jepang.
Dengan seabrek pertimbangan itu, wajar saja bukan jika Khoirul Anwar memilih tawaran permanent residence dari Jepang?
ADVERTISEMENT
Tapi tunggu dulu. Ternyata tidak.
Di lubuk hati Khoirul, ada pertimbangan lain yang tak kalah penting. Ini menyangkut hati --dan dengan demikian rasa cinta.
Pria kelahiran Kediri itu berpikir, bagaimanapun kondisi Indonesia, dengan segala baik-buruknya, ia adalah orang Indonesia dan cinta negerinya.
Kata mereka, love is blind. Dan cinta Khoirul pada negaranya mengalahkan segala ragu.
Khoirul menolak tawaran permanent residence yang ia terima dari Shiyakusho (City Hall). Shiyakusho adalah lembaga pemerintah di Jepang yang mengurusi masalah kependudukan di negeri itu.
“Ditawari izin tinggal permanen oleh Shiyakusho karena kontribusi saya besar, juga prestasi dan penghasilan,” kata Khoirul kepada kumparan (kumparan.com), Rabu (28/6).
Namun Khoirul secara refleks menolak tawaran itu. Ia masih ingat ucapannya sendiri empat tahun lalu itu.
ADVERTISEMENT
“Enggak, saya mau pulang ke Indonesia.”
Mantap sudah pilihan Khoirul. Padahal saat menolak tawaran tersebut, dia belum benar-benar tahu kapan akan pulang ke Indonesia.
Ia hanya berpikir tak hendak tinggal selamanya di Jepang hingga ajal menjemput. Sebab, Khoirul sendiri sesungguhnya punya mimpi besar untuk Indonesia.
Mimpi inilah yang tak diketahui pemerintah Jepang.
“Waktu itu saya ingin mengajar di ITB dan memperbaiki kurikulum di sana. Sebab, ITB itu kan rujukan dari perguruan tinggi teknik di Indonesia. Jadi misalkan kurikulum di situ bagus, nanti akan diikuti oleh perguruan tinggi yang lain,” kata lulusan Teknik Elektro ITB tahun 2000 itu.
Lelaki yang menyelesaikan S2 dan S3-nya di Nara Institute of Science and Technology (NAIST) Jepang ini mengatakan, “Saya melihat perkembangan teknologi kita (Indonesia) jauh dari kualitas internasional. Bahkan sekelas ITB masih kalah jauh. Jadi walaupun saya lulusan dengan predikat mahasiswa berprestasi di ITB, ketika kuliah di Jepang, ternyata banyak ilmu yang belum diajarkan oleh ITB.”
ADVERTISEMENT
Ia menyadari, keinginan mengubah kurikulum jurusan sebuah perguruan tinggi tak semudah membalikkan telapak tangan.
“Saya waktu menceritakan keinginan itu, langsung dibilang begini, ‘Wah, nggak segampang itu ubah kurikulum,’” kata Khoirul tertawa.
Pada akhirnya, Khoirul memang pulang ke Indonesia, tepatnya tiga tahun setelah ia menolak tawaran dari pemerintah Jepang itu.
September 2016, berbekal keputusan berani, Khoirul meninggalkan pekerjaannya yang mapan sebagai Assistant Professor di Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), Ishikawa, Jepang, dan memulai profesinya barunya sebagai Associate Professor di Telkom University, Bandung.
Khoirul Anwar bersama keluarga. (Foto: Dok. Khoirul Anwar)
Khoirul memang sempat ragu untuk pulang ke Indonesia, menimbang segala kekurangan dan keterbatasan negaranya. Tapi, lagi-lagi, mimpi untuk memajukan Indonesia lebih besar daripada semua kekhawatirannya.
“Saya membayangkan ingin bikin research center di Indonesia. Ini mimpi ya, sampai sekarang masih terus hidup nih mimpinya,” ujar Khoirul.
ADVERTISEMENT
Khoirul bermimpi, pusat riset yang akan ia dirikan dan kembangkan itu nantinya bisa menjadi rujukan bagi seluruh dunia.
“Jadi kalau misal orang-orang mau belajar sesuatu, ya datang ke Indonesia,” ucapnya penuh harap.
Bermula dari mimpi besarnya itu, Khoirul pun terbang pulang ke Indonesia dengan menerima tawaran untuk menjadi pengajar dan peneliti di Telkom University.
Tawaran semacam itu sebenarnya juga datang dari ITB, kampus almamaternyaya, namun terpaksa ia tolak.
Pertimbangan mengapa Khoirul memilih menjadi pengajar dan peneliti di Telkom University alih-alih ITB antara lain terkait jumlah mahasiswa telekomunikasi di kedua kampus yang sama-sama berlokasi di Bandung itu.
“Kalau di Telkom University, mahasiswa telekomunikasi itu 400 sampai 600 orang. Nah kalau di ITB, mahasiswa telekomunikasi hanya 40 orang. Jadi saya berpikir, kayaknya lebih banyak pahalanya kalau mengajar 400 orang seperti itu,” kata Khoirul.
ADVERTISEMENT
“Saya juga berpikir, kalau penelitian telekomunikasi terbesar di Indonesia ya mungkin (paling pas) di Telkom University, karena kan memang khusus untuk telekomunikasi. Jadi dengan pertimbangan seperti itu, ya bismillah saya akhirnya mengambil di Telkom University.”
Telkom University (Foto: telkomuniversity.ac.id)
Keberadaan orang hebat di tempat hebat sudah biasa. Namun keberadaan orang hebat di tempat biasa, barulah luar biasa. Itu, ujar Khoirul, diucapkan teman-temannya.
Khoirul berharap, kehadirannya di Telkom University dapat menumbuhkan persaingan positif antara Telkom University dan ITB. Sebab persaingan yang baik akan bagus pula untuk kemajuan pengetahuan di Indonesia.
Tentu saja, Khoirul tak pernah berhenti bermimpi dan mengejar mimpinya.
“Saya sudah minta ke Telkom University untuk dibuatkan research center dan alhamdulillah dikasih.”
Selangkah demi selangkah ditapaki Khoirul demi mewujudkan mimpi untuk negeri ini.
ADVERTISEMENT
Di Telkom University, Khoirul kini menjabat Direktur Center for Advanced Wireless Technologies (AdWiTech).
Center for AdWiTech, dikutip dari laman resminya, ialah pusat riset di Telkom University untuk meneliti fundamental strategis dan pengembangan teknologi-teknologi termaju dalam bidang telekomunikasi nirkabel.
Misi pusat riset itu adalah mengembangkan kultur penelitian, mengembangkan model ideal dan penelitian kolaboratif, serta mempercepat kualitas penelitian Telkom University menuju taraf internasional.
Terkait permintaannya agar Telkom University membangun Center for AdWiTech itu, Khoirul terinspirasi dengan pusat riset di University of Oulu, Finlandia.
“Dulu saya datang ke Finlandia sebagai visiting professor di Oulu. Yang mengundang saya research center di sana. Jadi pusat riset di sana bikin alat 3G, punya banyak proyek, juga mengembangkan algoritma,” cerita Khoirul.
ADVERTISEMENT
“Jadi walau mungkin belum jadi rujukan dunia, menurut saya sudah cukup menginspirasi. Dan saya ingin membuat yang seperti itu di Indonesia,” ujar Khoirul, penuh keyakinan.

A dream doesn't become reality through magic. It takes sweat, determination, and hard work.

- Colin Powell

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan