kumparan
30 Mei 2017 8:49 WIB

Mencari Petir Terbesar Sedunia di Pondok Petir Depok

Ilustrasi Petir (Foto: Pixabay)
Petir berarus listrik terbesar sedunia terdapat di Depok, Jawa Barat. Begitulah hasil penelitian yang dilakukan pada 2002 lalu oleh seorang ahli petir sekaligus peneliti dari Laboratorium Arus Tinggi dan Tegangan Tinggi Jurusan Teknik Listrik Fakultas Teknik Industri ITB, Dr. Ir. Dip Ing Reynaldo Zoro.
ADVERTISEMENT
Pada tahun itu jurusan Teknik Listrik di ITB masih berada di bawah Fakultas Teknik Industri. Namun sejak 2006 hingga saat ini, jurusan yang kemudian berubah nama menjadi program studi Teknik Tenaga Listrik itu berada di bawah Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB.
Pada penelitiannya di daerah Depok kala itu, Zoro mendapat arus petir negatif berkekuatan 379,2 kA (kilo Ampere) dan petir positif mencapai 441,1 kA. Arus petir yang besar itu khusunya ia temukan di wilayah di Depok bagian barat.
Senin (29/2) pagi, akun Instagram indozone.id mengunggah foto petir dengan membubuhkan keterangan mengenai hasil penelitian tersebut. "Bicara soal petir, Indonesia ternyata masuk sebagai negara yang memiliki petir terganas. Bahkan Anda boleh percaya atau tidak, petir yang terjadi Kota Depok, Jawa Barat, memiliki arus listrik terbesar di dunia," tulisnya.
ADVERTISEMENT
Loading Instagram...
Konon, di Depok barat ada daerah yang dinamakan Pondok Petir. Berdasarkan informasi di internet, Pondok Petir memang merupakan nama sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Bojongsari, bagian barat Kota Depok. Berbekal deretan informasi itulah, redaktur di kantor meminta saya untuk mendatangi daerah bernama Pondok Petir itu untuk memeriksa dan membuktikan apakah benar sering dijumpai petir-petir yang sangat ganas di sana. Tugas itu saya dapatkan kemarin (29/5) pagi menjelang siang dan kebetulan cuaca di Depok saat itu sedang hujan.
Saat mendapat tugas tersebut, hal pertama yang terpikirkan dalam kepala saya adalah kelurahan itu dinamakan Pondok Petir karena di sana memang terdapat banyak petir. Dengan cuaca yang saat itu sedang hujan, ada sedikit rasa khawatir tersambar petir yang terbesit dalam pikiran saya ketika saya hendak berangkat ke sana. Namun rupanya hujan lekas berhenti dan ketika saya sampai di wilayah kelurahan Pondok Petir, langit sudah cerah sehingga saya tak menjumpai satu pun petir.
ADVERTISEMENT
Meski tak berkesempatan melihat petir, saya masih penasaran dengan keadaan dan asal mula nama kelurahan Pondok Petir ini. Saya merasa perlu mewawancarai sejumlah warga setempat. Orang pertama yang saya temui adalah Hasan Asyari (60), salah satu tetua warga setempat yang menjadi pengurus DKM Masjid Jami Nurul Yakin Pondok Petir.
Ia memberi keterangan yang cukup mengejutkan saya. Ia mengatakan kelurahan ini dinamakan Pondok Petir bukan karena banyaknya petir di langit, melainkan karena dahulu di tanah ini banyak tumbuh pohon petir. Petir adalah semacam buah yang mirip petai, katanya.
Mendengar penjelasannya, saya tertawa dalam hati. Apa iya liputan khusus mencari petir ini akan berubah menjadi semacam reportase mencari penganan menjelang berbuka puasa, pikir saya sembari tersenyum masam.
ADVERTISEMENT
Yang lebih mengejutkan saya adalah ketika Hasan berkata, “Petir mah banyak tuh di Bogor."
Ia menuturkan pada Senin (29/5) siang itu, “Di sana (Bogor) ada yang namanya Desa Petir.” Lucunya, pencarian dengan kata kunci “Desa Petir” di internet melalui telepon genggam saya membuahkan hasil bahwa memang ada sebuah desa bernama Desa Petir yang berada di Kabupaten Bogor.
Tak mau percaya begitu saja pada satu sumber, saya mencoba mendatangi Kantor Kelurahan Pondok Petir dengan harapan akan mendapatkan sumber resmi mengenai sejarah kelurahan itu.
Kantor Kelurahan Pondok Petir. (Foto: Utomo Priyambodo/kumparan)
Suhendar, sekretaris kelurahan Pondok Petir yang menerima saya di ruangannya menjelaskan bahwa sebenarnya ada banyak versi mengenai asal mula nama Pondok Petir. “Ada versi yang menyatakan karena di wilayah sini tuh banyak petir. Tapi sebenarnya rata-rata daerah kecamatan Bojongsari ini memang daerah lintasan petir,” katanya, Senin (29/5).
ADVERTISEMENT
Selain itu ia juga menuturkan, “Ada versi yang lain juga yang menyatakan bahwa kenapa dinamakan Pondok Petir, dulu di Pondok Petir ini banyak pohon petir.” Ia menyebut pohon petir banyak dijumpai di wilayah kelurahan seluas 281 hektar itu sejak zaman Belanda sekitar abad 18-an.
“Tapi seingat saya semenjak tahun 1970 pohon petir itu sudah nggak ada di wilayah Pondok Petir ini. Pernah saya tanya sama orang tua pohon petir itu seperti apa, dibilang seperti pohon petai buahnya,” terang Suhendar.
Mengenai petir atau kilat di area kelurahan yang terdiri dari 17 RW dan 90 RT ini, Suhendar menjelaskan bahwa dulu memang pernah beberapa kali terdengar kabar orang meninggal akibat tersambar petir di wilayahnya. Namun peristiwa orang tersambar petir itu, kata Suhendar, terjadi sebelum tahun 2000.
ADVERTISEMENT
"Tahun 2000 ke sini belum ada kedengeran orang tersambar petir. Kalau dulu memang banyak," ujarnya.
Suhendar, sekretaris kelurahan Pondok Petir. (Foto: Utomo Priyambodo/kumparan)
Aceng (50), penduduk setempat kelurahan Pondok Petir, masih mengingat jelas kabar mengenai orang tersambar petir yang sempat ia dengar saat ia masih muda. Ada tiga orang yang ia ingat pernah tersambar petir di wilayah kelurahannya.
Yang pertama bernama Muh. “Nama lengkapnya Muhammad,” tutur Aceng, Senin (29/5). Aceng mengingat Muh meninggal disambar petir pada sekitar tahun 1992.
“Pokoknya dia disambar petir pas nebang-nebang pohon,” kisah Aceng sembari megingat kejadian tersebut. Dahlu jumlah warga Pondok Petir belum berjumlah sebanyak 26.500 orang seperti yang kini terdata oleh pihak kelurahan.
Tanpa mengurut pada tahun kejadian, Aceng menyebut korban tersambar petir kedua yang ingat bernama Panjang. “Kira-kira sekitar tahun 1987-an. Lagi nurunin batu di truk gitu, disambar petir, meninggal,” tutur Aceng.
ADVERTISEMENT
Korban meninggal ketiga, ucap Aceng, adalah ayah dari Panjang pada sekitar tahun 1989. “Bapaknya juga sama. Kesamber petir juga. Dia abis sembayang terus megang seng gitu, kesamber petir juga,” cerita Aceng melengkapi keterangan Suhendar yang mengatakan pernah ada kejadian orang tersambar petir di wilayah mereka sebelum tahun 2000.
Aceng, warga asli Pondok Petir. (Foto: Utomo Priyambodo/kumparan)
Untuk tahun 2000-an ini, Suhendar menjelaskan, di wilayah kelurahannya ia hanya pernah mendengar kabar pohon atau barang elektronik yang tersambar petir. “Kejadian pohon-pohon tersambar masih ada terutama pada pohon-pohon tinggi,” katanya.
“Yang masih sering juga kena itu barang-barang elektronik. Mungkin arus pendek ya. Misalkan TV kan pakai antena tuh. Saya juga pernah tiga tahun lalu TV saya tuh korslet tersambar petir,” cerita Suhendar.
ADVERTISEMENT
Sekretaris keluharan Pondok Petir itu mengatakan, dalam sebulan rata-rata ada tiga kali petir yang besar di wilayah kelurahannya. “Pernah saya ada tamu dari Jakarta bilang aneh, ‘Lho kok petirnya banyak amat.’ Tapi kalau orang yang udah biasa di Pondok Petir ya sudah biasa,” tuturnya. Namun begitu, Suhendar mengatakan belum ada dokumen resmi mengenai sejarah Pondok Petir.
Senada dengan apa yang dituturkan oleh Suhendar, Anwar Nasihin selaku lurah Pondok Petir juga menyatakan belum ada satu versi yang utuh tentang sejarah Pondok Petir. Ia mengaku telah meminta sejumlah anak muda dari kelurahan Pondok Petir untuk menyusun buku mengenai sejarah Pondok Petir. “Mereka masih mencari literaturnya,” ujar Anwar, Senin (29/5).
Anwar menceritakan, pencarian data mengenai sejarah Pondok Petir juga pernah dilakukan oleh wartawan koran lokal, Radar Depok. “Dia juga sempat wawancara juga tuh, tapi literaturnya belum cukup,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
“Saya selaku lurah di sini belum menerima literatur terkait dasar Pondok Petir ini. Termasuk bahan pun juga belum. Hanya dapat dua itu tadi. Yang pertama katanya karena petirnya terlalu tinggi, banyak. Yang kedua karena ada pohon petir yang menjulang tinggi,” jelas Anwar.
Anwar Nasihin, lurah Pondok Petir. (Foto: Utomo Priyambodo/kumparan)
Ketika saya menanyakan bagaimana bentuk pohon petir, baik Suhendar, Aceng, maupun Anwar sama-sama mengaku belum pernah melihatnya. Mereka mengatakan saat ini di wilayah kelurahan Pondok Petir sudah tidak ada lagi pohon petir.
Namun begitu mereka mengatakan mereka pernah mendengar bahwa masih ada sebuah pohon petir yang tumbuh di wilayah kelurahan Pohon Benda. “Di perbatasan antara Pondok Petir dan Pondok Benda,” ujar Aceng.
“Nanti coba saja tanya ke orang-orang di sekitar rumah Mandor Namat,” ucap Suhendar. Ia mengatakan pohon petir itu kabarnya berada di sekitar wilayah Mandor Namat.
ADVERTISEMENT
Mandor Namat adalah seorang tokoh setempat wilayah kelurahan Pondok Benda yang dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai mandor bangunan yang sukses. Dari kantor kelurahan Pondok Petir saya melajukan motor menuju rumah Mandor Namat. Dengan bertanya kepada beberapa orang di jalan untuk ditunjukkan arah, akhirnya saya tiba di depan rumah Mandor Namat.
Mandor Namat tidak ada di rumah, kata istrinya yang keluar dari rumah menghampiri saya. Ia mengaku tidak tahu-menahu mengenai keberadaan pohon petir.
Saya menelepon Suhendar untuk meminta informasi kembali. Ia menyarankan saya untuk bertanya-tanya saja pada orang-orang di sekitar rumah Mandor Namat. “Mereka juga tahu (pohon petir),” ujarnya dalam sambungan telepon.
Peta wilayah kelurahan Pondok Petir. (Foto: Utomo Priyambodo/kumparan)
Turun dari motor, saya pun berjalan kaki menghampiri satu per satu warga sekitar untuk menanyakan keberadaan pohon petir, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Mulanya setiap orang yang saya temui mengaku tidak mengetahui soal pohon petir.
ADVERTISEMENT
Namun seorang warga paruh laki-laki berusia paruh baya memberi saran bijak, “Coba tanya pada tetua di kampung sini. Mungkin dia tahu.” Warga itu pun kemudian menunjukkan rumah seorang sesepuh di wilayahnya yang bernama Haji Tamsir.
Muhammad Tamsir (63) menerima kedatangan saya dengan ramah. Ia mengatakan sebelumnya memang ada satu pohon petir yang masih bertahan tumbuh di wilayah kelurahan Pondok Benda yang berbatasan dengan kelurahan Pondok Petir itu. Namun sekarang pohon itu sudah tidak ada. “Udah mati sendiri. Dari tahun 2000-an,” ujar Tamsir.
Ia menunjukkan lokasi sebatang pohon petir itu tumbuh. “Di Pojok sini nih. Turunan tuh, pojok,” katanya. Di atas lahan tempat pohon petir itu dulu tumbuh kini sudah berdiri sebuah rumah.
ADVERTISEMENT
“Kayak pohon petai. Tapi gede dia mah,” ujar Tamsir sambil menunjuk pohon petai yang tumbuh di depan rumahnya.
Pohon petai (paling tinggi) di depan rumah Tamsir. (Foto: Utomo Priyambodo/kumparan)
Tamsir menceritakan, pohon petir berbeda dengan pohon petai karena batangnya berwarna putih. Pohon petir tumbuh jauh lebih tinggi dan lebih besar daripada pohon petai. Buahnya juga mirip petai, tapi lebar-lebar. Namun “dia nggak bisa dimanfaatkan untuk apa-apa”, ujar Tamsir. Istri Tamsir yang duduk di sebelahnya juga turut membenarkan.
“Umpamanya buat kayu bangunan dia tuh nggak bisa. Paling-paling kalau cabangnya jatuh dimanfaatkan buat kayu bakar. Buahnya juga nggak bisa dimakan,” terang Tamsir mengingat pohon petir yang pernah ia lihat.
Muhammad Tamsir, sesepuh kelurahan Pondok Benda. (Foto: Utomo Priyambodo/kumparan)
Tamsir mengatakan, kemungkinan besar nama kelurahan Pondok Petir dibuat karena dahulu di wilayah itu memang terdapat banyak pohon petir. Ia mengumpamakan pada nama wilayahnya, keluarahan Pondok Benda. “(Kelurahan) Pondok Benda misal, dulu karena ada pohon benda di sini.”
ADVERTISEMENT
Pohon benda? Tumbuhan macam apa lagi itu? Tanya saya dalam hati sembari juga tertawa dalam hati.
Saya yang tak berhasil menemukan secara langsung penampakan satu-satunya pohon petir yang ternyata juga sudah lenyap itu, tak mau lagi diambil pusing untuk mencari tahu sejarah kelurahan Pondok Benda ataupun wujud pohon benda, nama tumbuhan yang juga baru pertama kali saya dengar seperti halnya pohon petir.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan