• 10

Riany, Mengasuh Anak di Balik Jeruji

Riany, Mengasuh Anak di Balik Jeruji



Kegiatan Olahraga di Lapas  Tangerang

Para narapidana perempuan bermain bola voli di Lapas Tangerang. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Siang itu cerah. Riany Wijaya menggendong bayi perempuannya di bawah rimbun pohon mangga. Selendang merah muda tersampir di bahu, membungkus hangat si bayi di dadanya. Riany yang bersandal jepit kemudian duduk bersila beralaskan tikar di atas rumput, memangku nyaman si bayi.
Mereka tidak sedang berada di halaman rumah atau taman, tapi di dalam kompleks Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Anak Wanita Tangerang yang berlokasi di Jalan Daan Mogot. Di sana, bangunan-bangunan lapas mengelilingi sejumlah ruang terbuka hijau.

Seorang Narapidana dan Bayinya di Lapas Tangerang

Riany, seorang narapidana yang membesarkan bayi perempuannya di Lapas Tangerang. (Foto: Utomo Priyambodo/kumparan)
Berhadapan dengan Riany dan bayi tujuh bulan di pangkuannya, berteduhkan lebat daun mangga yang batang besar pohonnya menjulang tinggi, ingatan sontak melayang pada cerita anak berjudul The Giving Tree karya penulis Amerika Shel Silverstein.
The Giving Tree mengisahkan tentang persahabatan sebatang pohon dengan seorang anak hingga si anak tumbuh remaja dan menua. Cerita yang cukup populer di mancanegara itu kerap ditafsirkan sebagai analogi kasih sayang orang tua, terutama ibu, yang besar kepada anaknya.
Demikian pula cinta Riany kepada bayi mungilnya sungguh besar. Usai melahirkan, Riany memilih berutang Rp 6 juta untuk biaya bersalin, daripada menerima uang Rp 25 juta namun mesti menyerahkan bayi perempuannya kepada orang lain.
“Saya tanggung biaya persalinan, tapi kamu enggak boleh bawa bayinya,” ujar Riany menirukan ucapan Mami, seorang wanita di luar lapas yang meminjaminya uang ketika hendak melahirkan.
Riany tak percaya pada Mami. Ia khawatir bayi perempuannya itu tak akan diurus dengan benar oleh Mami, dan jangan-jangan malah dijual ke pihak lain. Maka Riany membawa bayinya ke dalam lapas untuk ia besarkan sendiri.
Perempuan 28 tahun yang semula menatap curiga saat disambangi tim kumparan itu, Selasa (13/12), perlahan membuka diri dan membagi kisah hidupnya.
Di pelukan Riany, si bayi mungil begitu tenang, tak sedikit pun rewel. Ia kini berusia tujuh bulan. Dengan rambut jabrik dan baju bermotif kembang-kembang, si bayi tampak menggemaskan.

Narapidana dan Anaknya di Lapas Tangerang

Riany, seorang narapidana, menggendong bayi perempuannya di Lapas Tangerang. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Riany dan anak perempuannya belum lama menempati Lapas Tangerang. Mereka baru dua minggu lalu pindah dari Rumah Tahanan Kelas IIA Pondok Bambu di Jakarta Timur.
Si bayi lahir ketika Riany masih berada di Rutan Pondok Bambu. Ia belum pernah bertemu dengan ayahnya yang tinggal di Dadap, Kabupaten Tangerang.
Kini setelah mendiami Lapas Tangerang, Riany berharap putrinya dapat berjumpa dengan sang ayah.
“Saya enggak tahu kenapa saya dipindahkan ke sini. Mungkin sudah takdir Tuhan, sebab papanya tinggal tak jauh dari sini,” kata Riany.
Ia terakhir kali dijenguk lelakinya saat masih ditahan di Rutan Mabes Polri, Jakarta Selatan. Selanjutnya ketika pindah ke Rutan Pondok Bambu dan sekarang di Lapas Tangerang, Riany belum pernah lagi disambangi.
Riany cemas lelakinya terpengaruh omongan miring orang lain tentang dia.
00:00:00/00:00:00

Kisah Riany Wijaya, Mengasuh Bayi di Balik Jeruji Besi

Jika dihitung, Riany sudah menghabiskan satu tahun tiga bulan hidup di tahanan, mulai dari Rutan Mabes Polri, Rutan Pondok Bambu, sampai Lapas Tangerang. Ia optimistis dapat bebas akhir 2018 jika memperoleh remisi atau pengurangan hukuman tiap 17 Agustus dan Hari Natal.

Lapas Wanita Tangerang

Gerbang Lapas Wanita Tangerang dilihat dari dalam. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Semua berawal dari narkotika. Satu malam di bulan September 2015, Riany digerebek polisi di kamar kosnya di Grogol, Jakarta Barat. Saat itu ia usai mengonsumsi sabu-sabu bersama tiga temannya. Riany dan seorang kawannya ditangkap, sedangkan dua orang lainnya lepas karena kebetulan sedang tak di kamar.
“Saya sedang mandi. Enggak lama kemudian ada yang mengetuk pintu, dan lampu mati,” kata Riany, mengenang malam celaka itu.
Polisi masuk ke kamar ketika Riany masih memakai handuk. Ia langsung diminta memakai baju dan digelandang ke Mabes Polri.
Maka hari-hari pahit Riany dimulai. Ia diadili saat hamil.
Walau begitu, Riany bersyukur karena dijatuhi vonis lebih rendah dibanding tuntutan hukuman maksimal 20 tahun penjara.
Ia juga terharu karena hakim bersikap baik padanya usai persidangan. Saat Riany bersalaman dengan hakim dan mengucapkan terima kasih, hakim itu memberinya sedikit uang untuk bekal hidup di tahanan.

Lapas Wanita Tangerang

Kondisi kamar narapidana perempuan yang harus tinggal bersama di Lapas Tangerang. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Air mata Riany menetes saat bercerita. Perempuan muda itu kini tak punya sandaran hidup.
Keluarga besar Riany tinggal di Medan, dan mereka belum pernah menjenguknya sejak ia ditahan.
Riany merantau ke Jakarta sejak 2010. Dia menjadi penjaga kios di Blok B Tanah Abang, sampai akhirnya narkotika mencelakakannya.
Selama di Rutan Pondok Bambu, Riany menghidupi anak perempuannya dengan bekerja sebagai buruh cuci pakaian bagi narapidana lain. Dari situ, ia mendapat upah Rp 50 ribu per minggu. Uang itu ia pakai untuk membeli susu dan popok bayi.
Namun sekarang di Lapas Tangerang, Riany belum punya pekerjaan. Ia pun sulit membeli barang atau makanan murah. Di Lapas Tangerang pun tak ada kamar khusus untuk ibu dan anak karena keterbatasan anggaran pembangunan lapas.
Meski begitu, Riany merasa udara di Lapas Tangerang lebih segar karena di sana banyak ruang terbuka hijau.

Lapas Wanita Tangerang

Ruang hijau terbuka di tengah-tengah Lapas Tangerang. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Herti Hartati, Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Kegiatan di Lapas Tangerang mengatakan, lapasnya tahun ini tak punya anggaran untuk ibu hamil dan menyusui.
“Kalau tahun lalu kami ada dana yang bisa dipakai untuk beli vitamin, beli susu ibu hamil, dan beli susu bayi. Untuk tahun ini enggak ada,” kata dia.
Riany perlu membelikan susu untuk bayi perempuannya karena ASI-nya sudah tak keluar.

Seorang Narapidana dan Bayi Perempuannya di Lapas Tangerang

Riany, seorang narapidana perempuan, dan bayi perempuannya di Lapas Tangerang. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Berdasarkan Pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Warga Binaan Pemasyarakatan, narapidana perempuan boleh membesarkan anaknya dalam lapas sampai si anak berusia dua tahun, sesuai masa ASI yang diperlukan seorang anak untuk pertumbuhannya.
Selanjutnya setelah si anak mencapai umur dua tahun, ia harus diserahkan kepada keluarga atau pihak lain sesuai persetujuan si ibu.
Riany baru bisa bebas paling cepat dua tahun lagi, sedangkan putrinya akan mencapai usia dua tahun sebelum itu. Persoalan ini jadi beban pikiran dia.
“Keluarga saya tidak mau terima (saya dan bayi ini). Paling saya kasih ke orang gereja. Titip asuh di situ. Setelah saya bebas, baru saya ambil,” kata Riany.
Orang gereja yang dimaksud Riany ialah seorang pendeta di Bukit Duri, Jakarta Selatan. Riany menganggap pendeta itu sebagai kakak angkatnya. Mertua sang pendeta pun menganggap anak Riany sebagai cucu, dan keluarga besar mereka mau menerima bayi itu dan ibunya dengan tangan terbuka.
Sang pendeta, En Tian, secara terpisah mengatakan mau membantu Riany karena kasih Tuhan. Perempuan itu dulu pernah menjadi jemaat gerejanya. En Tian pun membantu membiayai kebutuhan Riany selama di lapas tanpa minta imbalan apapun.

Kebaktian di Lapas Tangerang

Para narapidana Nasrani mengikuti kebaktian di Lapas Wanita Tangerang. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Lagu-lagu kebaktian mengalun dari gereja yang berada dalam kompleks lapas, di tengah perbincangan dengan Riany. Puluhan penghuni lapas yang beragama Nasrani sedang menyanyikan “Makananku ialah Melakukan Kehendak Bapa”.
Pada waktu bersamaan, para muslim penghuni lapas menggelar pengajian di Gedung Aula. Pengajian tidak digelar di masjid yang juga berada dalam lapas, karena kapasitas aula lebih besar untuk menampung banyak orang.

Kisah Narapidana Lapas Tangerang

Para narapidana perempuan sedang melakukan pengajian di Gedung Aula Lapas Tangerang. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Tuhan menjadi tempat Riany berpaling di masa sulit ini. Meski semula ia tak bisa menerima nasib yang membawanya masuk ke dalam jeruji, Riany yakin fase kehidupannya saat ini membuat dia lebih dekat kepada Tuhan.
Riany percaya Tuhan akan selalu mendampingi dan menolongnya.
Mencari pekerjaan yang baik menjadi cita-cita Riany selepas keluar dari lapas. Ia ingin membesarkan dan mendidik anak perempuannya dengan baik pula.
“Semoga (anak saya ini) bisa jadi dokter, atau di pelayanan gereja,” ucap Riany penuh harap.

Kebaktian di Lapas Tangerang

Para narapidana berdoa sembari menangis saat mengikuti kebaktian di Lapas Wanita Tangerang. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)




AnakLapas Hari IbuLapas Wanita TangerangLiputan Khusus

500

Baca Lainnya