Tekno & Sains
·
13 Januari 2021 20:01

Pedagogi Kritis: Guru Sebagai Objek Lontaran Tuntutan di Masa Pandemi

Konten ini diproduksi oleh Yodi Vendria
Tercatat sudah kurang lebih sebelas bulan Pandemi virus Covid-19 menyerang Indonesia. Pandemi yang menurut WHO sebagai bencana non-alam ini tidak hanya menyerang segi kesehatan saja. Segala sistem dan elemen di dalam negara ini pun ikut terkena dampaknya. Dampak yang diberikan oleh pandemi tidak bisa dibilang sebagai sebuah dampak biasa. Hasil penyerangan virus tersebut berhasil merombak seluruh aspek kehidupan sosial yang saling berkaitan. Pada aspek ekonomi misalnya, sebagai aspek infrastruktur, ekonomi sangat merasakan dampak buruknya. Akibat dari kebijakan PSBB yang diterapkan pemerintah, roda ekonomi mengalami hambatan yang cukup serius. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik dari lima provinsi di Indonesia menunjukkan 5 dari setiap 10 perusahaan berhenti beroperasi. Pada survei lainnya yang dilakukan BPS menunjukkan 35,56% perusahaan mengambil langkah PHK terhadap karyawannya (Analisis Hasil Survei Dampak Covid-19 Badan Pusat Statistik, 2020).
ADVERTISEMENT
Dengan fenomena yang terjadi pada sektor ekonomi akibat pandemi ini, akan memberi imbas juga kepada sektor sosial lainnya. Fenomena PHK menjadi problematika nasional yang tidak menutup kemungkinan menaikkan kurva kemiskinan di Indonesia. Krisis kebutuhan pangan juga tak luput dari dampak pandemi ini. Belum lagi pada aspek pendidikan yang terkena imbasnya pula.
Di sektor pendidikan akibat pandemi, memaksa seluruh elemen di dalamnya untuk segera bertranformasi, mencari cara terbaik untuk menjalankan proses pendidikan di masa pandemi ini. Beberapa kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah mengenai pendidikan; Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 tahun 2020 mengenai pembelajaran yang dilakukan di rumah melalui pembelajaran daring. Tentu hal ini membuat seluruh aktor di dalam aspek pendidikan mencari jalan terbaik yang efektif dan efisien untuk melaksanakan pembelajaran tanpa tatap muka ini. Hambatan dan tantangan pun tentu bermunculan di mana guru dan peserta didik terpaksa melakukan pembelajaran melalui berbagai platform teknologi yang tidak biasa mereka lakukan pada pembelajaran seperti pada saat sebelum pandemi.
ADVERTISEMENT
Pembelajaran di tengah pandemi ini cukup sulit untuk keluar dari arus hambatan pembelajaran yang selalu muncul. Masalah seperti jaringan internet, kemampuan serta pengetahuan terhadap teknologi, ketersediaan kuota internet, pemberian tugas, dan kurangnya komunikasi antar guru, siswa, dan orang tua menjadi kendala utama yang hampir selalu hadir dalam pembelajaran daring. Hal semacam ini memang membutuhkan solusi yang paling efisien dan efektif namun mengingat situasi yang ada, hal tersebut sangat sulit untuk menjawab segala permasalahan yang ada dalam pembelajaran daring.
Guru Sebagai Objek Lontaran Tuntutan
Guru sebagai unsur penting di dalam proses pendidikan tentu memiliki peran yang begitu besar dalam proses pembelajaran di kelas. Di tengah pandemi yang melanda ini, beban tugas guru menjadi lebih berat ditinjau dari pembelajaran yang dilakukan secara daring. Secara institusional dan profesionalitas, guru dalam ranahnya sebagai pendidik di sekolah perlu dibekali modal budaya institusional seperti sertifikat, kompetensi, gelar kependidikan, dan lain sebagainya. Pada metode pengajaran atau segi teknisnya, guru perlu merangkai sedemikian rupa bagaimana ia dapat secara maksimal menyampaikan materi dan membangun suasana pedagogi yang kuat serta progresif. Secara simbolik melalui uraian bekal guru dalam menjalankan perannya, guru bukanlah mereka yang sekadar mengajar. Lebih dari itu ia memikul sebuah peran besar dan krusial.
ADVERTISEMENT
Di masa pandemi ini di mana pembelajaran harus dilakukan secara tanpa tatap muka melalui berbagai jenis platform teknologi, guru harus kembali memutar otak untuk bagaimana menjalankan pembelajaran daring yang nyaman dan efektif bagi kondisi pembelajaran. Ditambah bahwa guru di masa pandemi ini menjadi suatu objek yang sering diperbincangkan oleh banyak pihak seperti praktisi pendidikan, akademisi, masyarakat sipil, dan lain sebagainya. Mereka kembali ditinjau segi profesionalitas dan institusional. Misalnya pada beberapa penelitian yang dilakukan oleh beberapa praktisi pendidikan terhadap guru di masa pandemi. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyono, et.al, (2020) secara ringkas menghasilkan asumsi bahwa bagaimanapun kompetensi guru menjadi penentu keberhasilan proses belajar, berperan sebagai pengorganisasi lingkungan belajar, dan memenuhi aspek guru sebagai pemimpin, model, peramal, perencana, dan penunjuk jalan ke arah pusat belajar. Di penelitian lain juga membahas kompetensi guru di masa pandemi yaitu : 1) Kompetensi Literasi, 2) Kompetensi ketrampilan pengelolaan kelas, dan 3) Kompetensi komunikasi dan sosial (J. Sudrajat, 2020:106-107).
ADVERTISEMENT
Dari uraian di atas bisa dilihat bahwa peran guru merupakan peran yang begitu berat. Berbagai tuntutan mereka dapatkan; kompetensi, kreatifitas, inovasi terus menerus memaksa mereka untuk memertahankan eksistensinya sebagai guru.
Perspektif Pedagogi Kritis Henry Giroux
Henry Giroux, seorang pemikir pendidikan asal Amerika Serikut yang juga menjadi profesor dari McMater University memiliki gagasan penting dalam dunia pendidikan. Giroux merupakan salah satu pendiri pedagogi kritis (critical pedagogy) di mana ia mengaitkan ilmu pendidikan, kajian budaya, kajian politik, kajian media, dan teori kritis (A.A Wattimena, 2018:182). Melalui pedagogi kritis, Giroux (dalam A.A Wattimena, 2018) memperluas makna dari pedagogi yang tidak hanya sebagai ilmu pendidikan namun sebuah paradigma kehidupan yang dianut seseorang secara mendalam di dalam melihat hubungannya dengan dunia dan orang lain.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, pedagogi kritis bagi Giroux mencakup wawasan luas dan kepekaan moral. Artinya wawasan luas ini adalah kemampuan atau kesadaran untuk melihat sebuah persoalan dan kaitannya dengan persoalan-persoalan lainnya (A.A Wattimena, 2018:181) terutama persoalan pendidikan dan masyarakat. Kepekaan moral dalam hal ini sebagai kemampuan rasional untuk menilai baik dan buruknya suatu persoalan. Sehingga menurut Giroux melalui cakupan wawasan luas dan kepekaan moral, pedagogi kritis bisa menjadi inspirasi untuk memotivasi keterlibatan sosial dan perubahan dalam masyarakat.
Dalam melihat situasi pendidikan di masa pandemi, dengan diterapkannya pembelajaran daring, guru menjadi sosok yang terus menerus disorot dan dilontarkan berbagai tuntutan. Terkait bagaimana guru bisa membuat pembelajaran daring dengan cara sedemikian rupa agar pembelajaran tetap substansial seperti pembelajaran tatap muka. Tidak ada salahnya dengan berbagai lontaran tuntutan atau kajian lainnya mengenai kompetensi dan profesionalitas guru dalam melaksanakan pembelajaran daring ini secara institusional dan profesionalitas. Namun realita melupakan konteks sosiologis pada situasi yang terjadi. Akan menjadi lebih baik apabila lontaran tuntutan bernuansa institusional tersebut tidak terus menerus dilemparkan kepada guru. Ditarik dari gagasan Giroux mengenai pedagogi kritis, situasi seperti ini sangat memerlukan kesadaran dalam melihat sebuah persoalan serta kepekaan moral. Artinya, publik perlu paham mengenai hal-hal yang non institusional. Guru tidak bisa dijadikan objek tunggal dalam tuntutan perannya. Singkatnya, siswa juga perlu untuk disodorkan pedang tajam lontaran tuntutan dalam pembelajaran di masa pandemi ini. bagi Giroux dalam dunia sekolah, guru dan siswa perlu mencari celah dalam sebuah tatanan sosial atau persoalan yang ada dan bisa membuat sebuah perubahan (Teda Ena, 2017). Artinya di sini mengingat situasi yang terjadi melahirkan segala permasalahan terutama pada pembelajaran di mana pada posisi guru memiliki permasalahan yang tidak sedikit, dan begitu pun pada siswa, publik perlu memahami bahwa tidak hanya guru saja yang ditinjau namun siswa juga perlu dituntut lebih, didorong kesadarannya untuk mengaktifkan imajinasi sosiologis, kepekaan moral, dan wawasannya terkait situasi apa yang sedang terjadi begitu pun pada kesadaran publik melihat situasi yang terjadi. Siswa dan elemen masyarakat lain juga perlu mengeluarkan inovasi, produktivitas, dan kreativitasnya untuk menunjang pembelajaran daring ini. Misalnya, dalam beberapa kegiatan pembelajaran guru tetap mengalami kesulitan dalam penggunaan teknologi, bahan ajar, infomasi yang disampaikan, dan lain sebagainya. Di situlah tuntutan untuk elemen lain harus dilontarkan, siswa bisa membantu guru, dan mengedukasi. Di sisi lain, elemen masyarakat bisa membuat kajian, membuat semacam pelatihan, edukasi , dan kritik bahwa guru bukan menjadi sebuah objek yang berdiri sendiri dalam menghadapi pembelajaran di situasi pandemi ini. Semua itu memiliki tujuan agar mencapai kesekapatan pembelajaran yang nyaman dan efektif melalui sebuah kolaborasi. Tidak ada salahnya melakukan hal tersebut. Hal inilah yang dipandang dari perspektif pedagogi kritis di mana nuansa kepekaan moral terbangun, tidak hanya sebatas narasi institusional terhadap guru.
ADVERTISEMENT
Penutup
Dalam situasi pandemi ini hampir semua aspek kehidupan mengalami beragai permasalahan dan kesulitan terutama pada pendidikan. Di mana pendidikan harus dilakukan secara tanpa tatap muka sesuai dengan kebijakan yang dilakukan pemerintah. Tentu hal ini sangat menuai polemik dalam masyarakat. Komponen-komponen pendidikan pun merasakan berbagai permasalahan yang timbul. Instansi pendidikan mengalami kesulitas dalam mengatur hal-hal administratif. Guru kesulitan dalam menjalankan pembelajaran secara daring. Murid kesulitan dalam mengikuti pembelajaran daring. Orang tua siswa juga kesulitan dalam memonitori anaknya dalam mengikuti pembelajaran daring. Semua permasalahan yang muncul perlu diminimalisir dengan tindakan-tindakan yang kolaboratif, inovatif, dan kreatif. Guru tidak bisa menjadi objek yang terus menerus dituntut secara institusional. Dalam pandangan pedagogi kritis, semua komponen perlu adanya wawasan sosiologis dan kepekaan moral agar mencapai pada tujuan yang dirasa nyaman pada sebuah pembelajara di tengah masa yang entah kapan berakhirnya.
ADVERTISEMENT
Daftar Pustaka
Ena, Ouda Teda. 2017. Giroux, Pendidikan Postmodern, dan kurikulum kita. Diunduh dari repository.usd.ac.id
Giroux, H., 1997, Pedagogy and the Politics of Hope, Colorado & Oxford: Westview Press.
Giroux, H., 2011, On Critical Pedagogy, The Continuum International Publishing Group, London.
Illich, Ivan. 1971. Deschooling Society. (Harmondsworth: Penguin. 116 pages. First published by Harper and Row 1971; now republished by Marion Boyars).
Sudrajat, Jajat. 2020. Kompetensi Guru di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Riset Ekonomi dan Bisnis 13 (1) (2020) 100-110
Wahyono, P. & Husamah, H. (2020). Guru profesional di masa pandemi COVID-19: Review implementasi, tantangan, dan solusi pembelajaran daring. Jurnal Pendidikan Profesi Guru. Vol 1 (No 1), 51-65. doi: https://doi.org/10.22219/jppg.v1i1.12462.
ADVERTISEMENT
Wattimena, R.A.A, 2018. PEDAGOGI KRITIS: PEMIKIRAN HENRY GIROUX TENTANG PENDIDIKAN DAN RELEVANSINYA UNTUK INDONESIA. Jurnal Filsafat, ISSN: 0853-1870 (print); 2528-6811 (online) Vol. 28, No. 2 (2018), p. 180-199, doi: 10.22146/jf.34714.
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white