Pencarian populer

Kampung Buku Jogja: Ruang Juang Penerbit Indie

Aku suka menyadari betapa kerasnya buku bertahan, tidak pernah mau takluk begitu saja padaku; aku jadi terpedaya, capai, tetapi aku amat menikmati ambiguitas posisiku: mengerti tetapi tidak mengerti.

- Jean-Paul Sartre

Kalau mau terus terang, barangkali posisi ambiguitas itu bukan cuma pengalaman milik si filsuf eksistensialis asal Prancis itu. Tetapi milik banyak orang yang menjadikan buku sebagai karib setia mereka dalam hidup.

Mengerti tetapi tidak mengerti. Pesona semacam itu yang merengkuh jiwa orang-orang yang disentuh keajaiban kata-kata secara intim melalui lembar demi lembar buku-buku--tanpa surut ingin tahu dan menolak akal yang buntu.

Sementara tubuh butuh tenaga dengan lauk-pauk untuk bertahan hidup. Maka akal butuh kewarasan dari buku-buku untuk menghayati hidup secara kreatif. Sayangnya seringkali asupan gizi dari buku-buku tidak selalu sehat. Banyak buku yang menjadi konsumsi publik sudah didesain dan didesak berdasarkan kebutuhan pasar.

Kecenderungan hukum soal kebutuhan pasar itu sialnya soal untung-rugi. Mencerahkan atau tidak bagi konsumen, itu soal kemudian. Pada titik ini, buku yang merupakan produk pemikiran manusia, hanya akan menjadi urusan niaga, bukan budaya.

Maka ketika ekologi dunia literasi sudah didesak hukum kebutuhan pasar melalui penerbit dan toko-toko buku reguler, kehadiran penerbit indie menjadi penyegar tema-tema buku yang selama ini terpinggirkan alias tidak diakomodasi oleh penerbit dan toko buku reguler.

Kampung Buku Jogja merupakan salah satu upaya menjaga ekologi dunia literasi tersebut.

“Kalau kebutuhan pasar kan pasti (ada) simbol-simbol populer, budaya-budaya populer. Ada hukum pasar di sana. Di dunia buku, yang membedakan adalah buku-buku itu produk intelektual, hasil pemikiran. Jadi tidak bisa selalu diindustrikan 100 persen,” ujar Arif Abdulrakhim, salah seorang penggagas Komunitas Kampung Buku Jogja, kepada kumparan, Selasa (3/10).

“Jadi memang harus ada tema-tema atau kegiatan-kegiatan yang melahirkan penulis-penulis baru dari segala genre,” lanjutnya.

Kampung Buku Jogja 2017 (Foto: Instagram Stanbuku)

Selain Arif, tiga orang lain penggagas Kampung Buku Jogja ialah Irwan Bajang, Adhe, dan Wijaya Kusuma Eka Putra. Ketiga nama itu merupakan penggiat literasi yang masing-masing memiliki penerbitan indie. Irwan Bajang dengan Indie Book Corner, Adhe dengan Octopus, dan Eka denga OAK.

Kampung Buku Jogja berlangsung setiap tahun sejak 2015. Arif bercerita, Kampung Buku Jogja digagas untuk menjawab tantangan akan perubahan-perubahan yang tengah terjadi dan menyentuh urusan-urusan dunia perbukuan. Sehingga acara itu secara matang dirancang khusus bagi semua pihak yang terlibat dalam jaring perbukuan untuk saling bertukar informasi dan pikiran.

“Dari perubahan-perubahan terakhir ini banyak yang gagap, dalam artian tidak tahu harus ke mana. Si penulis juga tidak tahu harus menulis apa dan menerbitkan ke mana. Penerbit juga jadi gagap, tidak tahu peta buku apa yang bisa diterbitkan, dan kalau menjual buku menjualnya lewat mana. Bahkan di tingkat pembeli pun terjadi kebingungan, kalau mencari buku sekarang ke mana sih,” kata dia.

Atas keperluan tersebut, maka acara rutin tahunan pertemuan antara penulis, penjual, dan pembaca dibuat dan dinamai Kampung Buku Jogja. Pemilihan nama “kampung” pun bukan sekadar pengakrab telinga, tetapi personifikasi dari kampung sebagaimana dimaknai sebagai “sebuah tempat yang dirindukan” atau sebagai “tempat kembali”.

Yang dimaksud “kembali” berarti kembali untuk sekadar melepas lelah dan rindu dari sebuah perjalanan. Atau, lebih mendalam, yaitu kembali untuk menemukan jati diri setelah terombang-ambing dari perantauan identitas.

Dalam artian tersebut, Kampung Buku Jogja membangun maknanya sendiri yang membedakan ia dengan acara-acara pameran buku lain yang jamak diselenggarakan. Kampung Buku Jogja merupakan kegiatan perbukuan yang melampaui kesan “transaksi buku” seperti yang terasa pada pameran-pameran buku yang sudah ada.

Kegiatannya bukan hanya ruang dan tempat pertemuan buku dan pembelinya. Bukan pula sekadar ajang menjual dan membeli buku lalu selesai begitu saja.

Dalam kegiatan ini, para penyuka buku akan bertemu dengan teman-temannya yang sama-sama menyukai buku. Ini adalah ruang dan waktu “bertemunya buku dan dirimu”, seperti ditulis dalam proposal Kampung Buku Jogja.

“Kampung itu kan guyub gitu lho, artinya acara ini dimiliki bersama, walaupun dari sisi nilai industri, nilai ekonomis, atau sisi jual-beli, ya tetap ada. Tapi dari acara ini, yang harus dipertahankan adalah harus menjadi milik seluruh stakeholder dunia buku,” ujar Arif.

Seno Gumira di Kampung Buku Jogja 3. (Foto: Twitter/@BukuMojok)

Kampung Buku Jogja lebih guyub atau hangat dari sekadar urusan niaga perbukuan. Penyelenggaraannya pun berbasis komunitas, di mana penggeraknya bukan modal besar pihak tertentu. Melainkan, kata Arif, kesadaran para penggiat perbukuan untuk terlibat membangun lingkungan hidup yang lebih kreatif dalam memproduksi karya, menyebarluaskannya, pun menikmatinya.

Tak heran sebutan “ruang alternatif” bagi Arif kurang dekat untuk menggambarkan Kampung Buku Jogja sebagai upaya megimbangi dominasi wacana pasar dalam dunia literasi.

“Ini ruang perjuangan,” tegasnya mantap.

Prinsip itu konkret dilakukan dengan berbagai acara literasi yang bukan saja transaksi uang dan buku. Tetapi juga transaksi pertukaran pikiran, yang dapat dibaca melalui agenda Kampung Buku Jogja.

Ketika kali pertama diselenggarakan pada 8 hingga 10 Oktober 2015, Kampung Buku Jogja 2015 menghadirkan acara, di antaranya: workshop Produksi Buku Offset dan Print on Demand, Klub Baca Bentang, Jumpa Komunitas Buku Indie, Ngopi Bareng bertema ‘Jalan Sunyi Penerbit Buku’, Pertemuan Agung Toko Buku Online se-Indonesia, dan Ngobrol Bareng Distributor Alternatif.

Radiobuku--salah satu komunitas yang menjadi pelaku acara--menyebut bahwa di ajang inilah insan perbukuan yang berada di ranah mayor, minor (indie), reguler, alternatif, online, komunitas, dan lain-lain bersama-sama berkumpul.

Kampung Buku Jogja memang tidak membataskan diri pada segmen penerbit tertentu (indie). Ia lebih terbuka kepada semua insan perbukuan, termasuk penerbit besar atau mayor atau yang Arif sebut dengan penerbit reguler.

Arif menyebut ada tiga kelompok penerbit yang turut serta dalam acara tersebut, yaitu penerbit reguler, indie, dan kelompok buku lawas.

Penerbit reguler atau mainstream adalah penerbit-penerbit yang mengurusi buku-buku mainstream yang berorientasi pasar. Distribusinya melalui outlet-outlet reguler seperti toko buku besar. Sedangkan kelompok penerbit indie adalah mereka yang produknya berada di luar arus mainstream, baik tema-tema bukunya maupun cara pendistribusian buku yang umumnya melalui komunitas dan online.

Sementara kelompok buku lawas ialah mereka yang menyediakan buku-buku tua usia puluhan tahun dan belum dicetak serta diterbitkan ulang--banyak yang terbit sebelum memasuki paruh kedua abad ke-20. Buku-buku tua itu, menurut Arif, seringkali membuka cakrawala kelompok penerbit indie dan reguler untuk kembali menyegarkan tema-tema buku yang diterbitkan.

Kemeriahan Kampung Buku Jogja 3 (Foto: Twitter/@BukuMojok)

Walau terbuka bagi berbagai jenis kelompok penerbit, Kampung Buku Jogja sebenarnya secara khusus dirasakan sebagai hajatannya kelompok penerbit indie.

Berbeda dengan penerbit reguler yang memiliki ceruk pasar luas sehingga mampu mencetak dan menerbitkan buku dengan perhitungan untuk didistribusikan ke berbagai toko buku yang ada di wilayah Indonesia, penerbit indie memiliki ceruk pasar kecil. Tema buku-buku yang diterbitkannya pun secara umum tidak diakomodasi oleh penerbit besar dan rantai distribusinya tidak terakomodasi toko buku raksasa.

“Banyak sekali tema buku yang tidak mampu masuk ke pasar, karena dia enggak punya jalurnya, sehingga terpinggirkan, termarjinalkan. Padahal tema-tema buku yang seperti itu bagus-bagus, sangat mencerahkan. Nah, kalau gitu harus melalui jalur yang lain,” kata Arif.

“Dari sisi penyegaran tema juga perlu. Kami selalu menghadirkan para pakar, tokoh di dunia literasi. Jadi kami tidak hanya dikejar-kejar buku biasa,” sambung laki-laki itu yang akrab disapa Arif Doelz itu.

Menurut Arif, banyak buku-buku berbobot dan “berat”--semacam filsafat dan sastra--yang banyak dicari pembaca namun sudah tidak diterbitkan lagi. Bisa lantaran penerbitnya yang sudah tutup usia, maupun tema bukunya yang dipandang tidak memiliki pasar luas oleh penerbit-penerbit besar untuk menerbitkannya ulang.

Pada kekosongan inilah kelompok penerbit indie mengambil peran. Kebanyakan mereka menerbitkan buku-buku itu menurut perhitungan ceruk pasar yang memang sepi peminat, namun bagaimanapun tetap ada yang setia dengan tema buku tersebut.

Kampung Buku Jogja, ujar Arif, menjadi tempat bertemunya para pembaca dan penggiat buku-buku yang terpinggirkan oleh penerbit dan toko buku raksasa.

Ia mencontohkan, dari sisi pasar mainstream atau reguler, yang paling laku adalah novel-novel populer. Novel-novel filsafat dan budaya tidak begitu laku. Padahal penulis-penulis novel filsafat dan budaya pun memperoleh pengetahuan dari bacaan-bacaan serupa yang mereka tulis.

Artinya, kata Arif, kalau pasar industri hanya dikuasai oleh buku-buku populer, bisa merusak ekologi industri buku.

“Mungkin yang lebih tertarik pada buku-buku di Kampung Buku Jogja adalah orang-orang yang suka literasi, suka baca. Tapi di sana tidak menjual buku-buku psikologi semacam psikotes, tes potensi akademik, tes CPNS,” kata dia.

Ramainya Kampung Buku Jogja #3 (Foto: Dok. Adhe, Koor. Penerbit Indie Jogja)

Minat kelompok penerbit indie makin meningkat setiap kali Kampung Buku Jogja digelar. Pada 2015, sebanyak 9 penerbit indie ikut berpartisipasi. Kemudian meningkat menjadi 22 penerbit indie pada tahun berikutnya, 2016. Sedangkan tahun ini, 2017, sebanyak 53 penerbit indie memeriahkan Kampung Buku Jogja.

Peningkatan partisipasi penerbit indie maupun para penikmat buku di Kampung Buku Jogja merupakan cermin suksesnya acara itu. Di Kampung Buku Jogja, kelompok penerbit indie tidak perlu khawatir produk-produk mereka tidak dilirik pembaca. Sebab para pembaca yang datang kebanyakan memang penikmat tema buku-buku produk penerbit indie tersebut.

“Indie itu sebenarnya menerbitkan sesuatu dengan tema buku yang mereka sukai. Banyak yang salah paham kami dikira sok-sokan. Sebenarnya kami enggak memusuhi buku-buku populer. Tapi konteksnya menjaga ekologi itu,” kata Arif.

Tak ada perhitungan pasti soal jumlah pengunjung yang datang ke Kampung Buku Jogja di tahun-tahun sebelumnya. Namun, menurut perkiraan Arif, setidaknya ada sekitar 3.000 orang per hari yang meramaikan “kampung idaman” para pecinta buku di bulan Oktober itu.

Tahun ini, penerbit Laras, Art Music Today, dan Garudhawaca, menjadi tiga penerbit indie yang baru bergabung ke Kampung Buku Jogja.

Erie Setiawan dari penerbit Art Music Today mengatakan, acara seperti Kampung Buku Jogja amat penting untuk mengenalkan buku-buku dengan konten yang unik dan spesifik, salah satunya musik.

“Saya ikut tahun ini karena tertarik dengan konten-kontennya yang memang unik-unik. Apalagi buku-buku indie itu kan sangat spesifik. Beda dari tren pasar,” kata Erie.

Keramaian di Kampung Buku Jogja 2017. (Foto: Twitter: @bukumojok)

Yogyakarta memang dikenal sebagai kota di mana komunitas-komunitasnya guyub dalam kerja kreatif bersama. Selama tiga tahun berjalan tanpa sentuhan apapun dari aparatus pemerintahan, Kampung Buku Jogja berjalan lancar dan sukses.

Justru, menurut Arif, akan merepotkan jika mencoba menggandeng pemerintah, sementara kalangan birokrat belum tentu paham soal buku.

Kampung Buku Jogja merupakan cermin tradisi hidup komunal yang membuat masyarakat mampu bergerak secara mandiri. Arif berharap kegiatan literasi serupa dapat digelar di kota-kota lain dengan konteks budaya dan geografis masing-masing.

“Spirit Kampung Buku Jogja adalah menggerakkan penggiat atau dunia literasi di lingkungan yang ada di kota itu,” ujar Arif.

Akhirnya, peran penerbit sangat tidak bisa dikecilkan dalam menjaga kewarasan akal manusia melalui buku-buku. Wajah perbukuan sedikit banyak ditentukan oleh buku-buku yang dihasilkan dari kerja keras para penerbit. Persis seperti kata Mg. Sulistyorini, Pjs, dalam “Memimpikan Jogja sebagai Kota Perbukuan” yang ditulis 2012 lalu.

“Pelaku penerbitan adalah tokoh yang paling bertanggung jawab membangun prestise dunia perbukuan. Para penggiat buku yang idealis akan meletakkan kembali martabat intelektual dunia buku di tengah desakan arus komodifikasi produk buku.”

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23