kumparan
28 Des 2018 14:35 WIB

WarMo Rewind 2018: Bom Pasuruan dalam Kenangan

Rumah tempat meledaknya bom di Pogar, Bangil.
Pertengahan tahun 2018, tepatnya pada 5 Juli lalu, warga Kabupaten Pasuruan dikejutkan dengan meledaknya bom. Kantor Lurah Pogar, Kecamatan Bangil menjadi saksi bisu ledakan bom yang gegerkan warga itu.
ADVERTISEMENT
Anwardi alias Abdullah, terduga pelaku mulanya mempersiapkan sejumlah bom rakitan. Bom berdaya ledak rendah itu untuk “beraksi”.
Namun naas, bom yang dipersiapkan itu meledak berdekatan dengan anaknya yang masih berusia 2 tahun 4 bulan.
“Mungkin memainkan bom yang sudah disiapkan bapaknya untuk melakukan aksi, tapi lagi makan (terduga pelaku, red),” ujar Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin beberapa hari setelah peristiwa.
Di rumah kontrakan, tempat kejadian, juga ditemukan piring dengan makanan yang masih utuh, dan terletak bersebelahan.
“Disitu ada piring, ada makanan yang tidak terlalu jauh (dari tempat bom, red) tapi tidak pecah, tidak berhamburan, Ruangan tidak terlalu besar, jadi piring dan makanan disebelahnya masih utuh,” lanjutnya.
Setelah peristiwa yang sempat dikira ledakan LPG ini, Anwardi berusaha kabur dan meninggalkan anaknya dalam keadaan luka cukup parah.
ADVERTISEMENT
Waktu itu, pria asal Banten ini panik, bahkan sempat melemparkan beberapa benda seperti petasan, yang ternyata bom rakitan, untuk menghalau warga. Tetangga pelaku tak kehabisan akal. Salah seorang dari mereka yang kebetulan sedang membawa senapan angin, menembaknya. Namun sayang, pria dengan 3 KTP ini berhasil melarikan diri dengan mengendari motor bebeknya.
Sementara itu istrinya, Dina Rohana, dan anaknya sempat ingin ikut dengan suami yang kabur dari warga. Niat itu terhenti setelah warga mendesak Dina agar melarikan anak yang sedang terluka itu ke Rumah Sakit. Berbekal motor matic, akhirnya salah seorang tetangga membantu Dina ke Rumah Sakit Umum Bangil.
Konferensi Pers bersama Kapolda Jatim.
Polisi yang datang, segera menyusul Dina dan bocah malang yang terluka. Mereka pun akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Brawijaya, bersama petugas kepolisian. Sementara petugas polisi lainnya, beserta penjinak bom, melakukan penyisiran di rumah kontrakan di Jalan Pepaya RT 01 RW 01 Kelurahan Pogar, tempat ledakan bom.
ADVERTISEMENT
Yang pasti, dari penyisiran dan olah TKP petugas, ditemukan beberapa bukti petunjuk bahwa yang bersangkutan terafiliasi dalam kelompok-kelompok radikalisme. Itu terlihat dari banyaknya buku-buku tentang jihad yang didapat di TKP.
Kapolda pun menceritakan sekilas mengenai Anwardi. Dari hasil penelusuran, Ia pernah terlibat kasus teror bom di Pos lantas Kalimalang, Jakarta. Ia kemudian menjalani hukuman selama 5 tahun di LP Cipinang, dan keluar pada tahun 2015 lalu.
Anwardi sebelumnya, bermukim di sekitaran Bangil, lalu tinggal di daerah Pogar, setelah menikah dengan DN, warga Bangil.
“Pemain lama (terduga pelaku, red), minggir-minggir kawin dengan orang Bangil sini,” lanjutnya.
Kaburnya pria berusia 50 tahun ini pun membuat warga was-was. Foto-foto Anwardi beredar, supaya pelaku segera ditemukan. Di hari yang sama, ia sempat terlihat di Stasiun Kota Pasuruan. Anwardi meninggalkan motornya di tempat parkir stasiun. Lalu setelah itu, polisi seakan kehilangan jejaknya.
ADVERTISEMENT
Satu bulan kemudian, warga Malang geger setelah timah panas polisi tertembus salah seorang warga di Kalibiru, Lawang.
Anwardi ditangkap dengan kondisi penuh luka setelah melakukan perlawanan kepada polisi saat ditangkap. Kini Anwardi sudah “aman” bersama Kepolisian. Setidaknya, terduga pelaku bom ini, berhasil diamankan, setelah tahun 2018 ini penuh dengan aksi terorisme di beberapa daerah.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan