Pencarian populer
USER STORY

Militansi Berbuah Tragedi

Ilustrasi hoax (Foto: Thinkstock)

Pengakuan Ratna Sarumpaet yang mengatakan bahwa kabar dirinya dianiaya di Bandung adalah berita bohong tentu tidak hanya membuahkan adanya blunder politik yang luar biasa namun juga tragedi yang ironis.

Hal ini tentu saja dikaitkan dengan posisi Ratna Sarumpaet yang tergabung dalam barisan pendukung kubu Prabowo Subianto sehingga menimbulkan dampak serius terhadap peluang elektabilitas dalam pemilu 2019.

Melalui kasus pengakuan Ratna Sarumpaet ini pula, publik pun dibuat terhenyak dan tersadar bahwa hoaks ini jelas menunjukkan siapa kawan dan siapa lawan dalam pertarungan politik di tingkat elit. Selama ini publik hanyut dalam berbagai macam isu yang menyebar dalam sosial media, namun tidak mengetahui secara pasti siapa aktor dari penyebar isu tersebut.

Selama ini publik hanyut dalam berbagai macam isu yang menyebar dalam sosial media, namun tidak mengetahui secara pasti siapa aktor dari penyebar isu tersebut.

- -

Warganet Indonesia kemudian menjadi kaum militan secara sadar dan tidak sadar yang senantiasa mengomentari peristiwa tertentu dengan figur capres-cawapres tertentu. Kondisi inilah yang menyebabkan persekusi dan alienasi sosial menjadi hal lumrah di dunia maya dan dunia nyata.

Akibatnya, publik menjadi cepat sekali emosi karena berbeda pendapat dan pilihan. Adapun pengakuan ini telah memperjelas sebenarnya siapa kambing hitam atas berkembangnya berita bohong yang selama ini bertebaran di sosial media.

Poin yang ingin saya tekankan adalah berkembangnya isu, baik itu hoaks maupun fakta telah menjadikan para warganet Indonesia yang didominasi kelas menengah menjadi kaum hiper realitas yang mengabaikan intelektualitas sehingga apapun pemikiran luar yang terlintas itu tidak sesuai dengan nilai pribadi maka akan ditolak.

Selain itu berkembangnya sikap benci dan anti karena dikompori oleh media sosial itu jelas tidak adil dalam pikiran karena orang-orang kemudian menjadi sangat keras kepala dengan pendiriannya meskipun itu salah. Kedua sikap itu sebenarnya bisa disikapi secara dewasa dengan memilih figur alternatif.

Namun yang amat disesalkan dari pengakuan Ratna untuk kita semua ini adalah semakin kuatnya intensi dan ereksi untuk membenci itu tidak diikuti sikap refleksi dan koreksi diri. Hal itu sekaligus pula menurunkan tingkat kredibilitas dan kapabilitas Prabowo Subianto – Sandiaga Uno sebagai capres dan cawapres di pemilu 2019. Elektabilitas pasangan calon ini menjadi pertaruhannya.

Poin yang ingin saya tekankan adalah berkembangnya isu baik itu hoaks maupun fakta telah menjadikan para warganet Indonesia yang didominasi kelas menengah menjadi kaum hiper realitas yang mengabaikan intelektualitas.

- -

Terkait dengan masalah kredibilitas, publik jelas mengkritik mengapa kubu Prabowo sebegitu mudahnya menelan informasi yang belum jelas realibilitasnya untuk dijadikan alat kritik politik terhadap pemerintah. Kondisi ini jelas menjadi sinyalemen darurat mengenai sikap calon pemimpin yang tidak berpikir ulang dan cenderung gegabah sehingga menimbulkan polemik yang berkepanjangan di ruang publik virtual dan riil.

Selain itu, kasus ini juga menunjukkan kepada publik bahwa kubu pendukung Prabowo lebih menujukkan aspek emosional daripada rasional karena senantiasa membesar-besarkan masalah tanpa melihat adanya pandangan ahli seperti ini.

Tentunya ini berdampak langsung mengenai kepercayaan publik terhadap sosok Prabowo karena sebegitu mudahnya termakan isu dusta oleh salah satu pendukungnya sendiri dan sebegitu rentannya untuk disusupi agenda tertentu jika pendirian politiknya justru disokong oleh kalangan demagog.

Prabowo Subianto memberikan keterangan pers mengenai penganiayaan Ratna Sarumpaet di Kertanegara, Jakarta. (Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Adapun terkait masalah kapabilitas, pengakuan Ratna ini jelas memperlihatkan kemampuan Prabowo dalam menyampaikan gagasan kepada publik ternyata diisi narasi retorika dan wacana daripada fakta dan realita. Sebelumnya, Prabowo Subianto banyak sekali mengeluarkan pendapat yang jargonistik seperti halnya Indonesia bubar di tahun 2030, perekonomian dikuasai asing, maupun ekspansi tenaga kerja asing.

Pola pikir yang mengarah pada asumsi namun kurang substansi ini jelas bukanlah menujukkan kadar kepemimpinan yang baik. Anehnya lagi adalah para pendukungnya juga dihinggapi masalah serupa yang selalu memainkan pengaruh luar negeri mengancam Indonesia.

Namun demikian pihak Prabowo senatiasa tidak berusaha untuk melakukan koreksi terhadap kesalahan yang dimaksud. Dengan artian, masih berusaha untuk mencari kambing hitam lain atas permasalahan yang dihadapi.

Kedua faktor itu jelas berpengaruh pada elektabilitas terhadap kubu Prabowo-Sandi di pemilu 2019. Jikalau masih mengandalkan hoaks yang disebar oleh para pendukungnya, maka akan semakin menjauhkan dari potensi meraih simpati dan empati publik.

Melalui kasus Ratna, kita belajar bahwa penciptaan dan penyebaran hoaks adalah ironi sementara penerimaan dan menelan hoaks sebagai preferensi politik adalah tragedi.

Melalui kasus Ratna, kita belajar bahwa penciptaan dan penyebaran hoaks adalah ironi sementara penerimaan dan menelan hoaks sebagai preferensi politik adalah tragedi.

- -

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.38