• 0

3 Penyebab Utama yang Bikin Produksi Kakao di RI Terus Anjlok

3 Penyebab Utama yang Bikin Produksi Kakao di RI Terus Anjlok



Petani menjemur biji kakao di Padas, Dagangan, Kabupaten Madiun, JawaTimur, Rabu (23/11).

Petani menjemur biji kakao di Padas, Dagangan, Kabupaten Madiun, JawaTimur, Rabu (23/11). (Foto: Antara)

Produksi biji kakao Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) mencatat secara umum anjloknya produksi biji kakao sudah terjadi sejak tahun 2006 dan berlanjut di tahun 2011 hingga sekarang.
"Produksi kita turun terus mulai dari 2009, puncaknya di 2006. Kalau 2016 proyeksinya 350.000 ton, itu masih turun," keluh Ketua Umum Askindo Zulhefi Sikumbang saat ditemui di Resto Sobeers Kabali Kopi, Thamrin City, Jakarta, Jumat (16/12).
Ia menjelaskan puncak produksi kakao terbesar di Indonesia pernah terjadi di 2006 dengan produksi 620.000 ton. Setelah itu, produksi kakao terus turun.
Produksi kakao di 2007 menurun menjadi 525.174 ton. Disusul tahun 2008 menjadi 520.462 ton, 2009 menjadi 542.075 ton. Produksi kakao pernah naik di tahun 2010 menjadi 557.596 ton. Namun di 2011 kembali anjlok menjadi 460.809 ton disusul 2012 menjadi 452.606 ton, 2013 menjadi 444.035 ton dan di 2014 menjadi 368.925 ton.

Petani menjemur biji kakao di Padas, Dagangan, Kabupaten Madiun, JawaTimur, Rabu (23/11).

Petani menjemur biji kakao di Padas, Dagangan, Kabupaten Madiun, JawaTimur, Rabu (23/11). (Foto: Antara)

Produksi kakao sempat kembali naik di tahun 2015 menjadi 377.000 ton. Tetapi di tahun ini, proyeksi panen hingga akhir tahun hanya mencapai 350.000 ton.
"Produksi turun dan belum ada optimisme produksi akan naik," katanya.
Sementara itu di tempat yang sama peneliti dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) Pujianto menyebut ada beberapa faktor yang menyebabkan turunnya produksi biji kakao. Salah satu penyebab utama adalah meledaknya hama peyakit serta kondisi lingkungan yang berubah.
"Dulu tanahnya masih subur karena sudah tidak ditanami lama jadi degradasi ditambah lagi iklim berubah. Sekarang sulit diprediksi kondisi cuaca secara makro," ungkap Pujianto.

EkonomiBisnis

500

Baca Lainnya