• 1

Kampua: Uang Aneh Dari Buton Berbahan Dasar Kain

Kampua: Uang Aneh Dari Buton Berbahan Dasar Kain



Uang Kampua

Uang Kampua / Bida (kain tenun) yang pada jaman Kerajaan Buton abad 14, dimana nilai tukarnya sama denga satu butir telur. (Foto: Nadia Riso)
Umumnya mata uang yang digunakan Indonesia terbuat dari kertas dan logam. Namun Indonesia pernah menggunakan mata uang yang terbuat dari kain.
Saat mengunjungi Museum Bank Indonesia di Jakarta Barat, Kamis (21/12) kumparan menemukan salah satu jenis mata uang unik berbahan dasar kain. Namanya Kampua
Kampua merupakan uang dari Kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara yang terbuat dari kain berbahan kapas. Sangking uniknya, para pedagang yang datang ke Buton menyebut uang ini sebagai 'Uang Aneh dari Buton'.
Kampua adalah alat transaksi yang dibuat pada masa pemerintahan Ratu Bulawambona pada abad ke-14. Tetapi uang ini baru resmi digunakan sebagai alat pembayaran yang sah pada masa Sultan Laelangi pada akhir abad ke-16.
Pada masa Sultan Laelangi, perekonomian Buton memasuki masa kejayaannya dan pedagang dari berbagai negara berdatangan. Akibatnya banyak mata uang yang beredar di Buton. Sultan Laelangi melakukan penertiban dengan menetapkan satu mata uang saja yaitu Kampua.
Pedagang asing yang akan bertransaksi di Buton terlebih dahulu harus menukarkan mata uang mereka dengan Kampua. Setelah berdagang baru boleh menukarkan sisa Kampua mereka dengan mata uang yang diinginkan. Namun seringkali mereka menyisakan Kampua untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.
Salah satu hal unik dalam pembuatan Kampua adalah uang ini hanya bisa dibuat oleh putri-putri kerajaan. Dalam setiap pembuatan, ratu atau sultan yang berkuasa memberikan mandat kepada Bonto atau perdana menteri untuk melakukan pengawasan. Para putri menenun pintalan benang sesuai dengan desain Kampua yang telah ditetapkan.
Setiap tahun, desain Kampua baik dari corak, garis, maupun motif selalu berubah guna menghindari pemalsuan. Setelah ditenun dan menjadi lembaran kain, proses selanjutnya adalah pemotongan uang. Patokannya pemotongannya adalah ukuran telapak tangan Bonto yang sedang berkuasa, yaitu selebar 4 ruas jari dan sepanjang pergelangan tangan hingga ujung jari. Inilah kenapa ada ketidaksamaan ukuran Kampua dari waktu ke waktu, dikarenakan ukuran pergelangan tangan Bunto berbeda-beda.
Dalam Kampua tidak tertera uang nominal. Hal ini menyebabkan seluruh potongan kain bernilai sama mengacu pada pit'a, boka, dan seterusnya. Mulanya satu potong bernilai satu pit'a atau setara dengan satu butir telur. Seiring laju inflasi, nilai kain naik menjadi satu boka atau setara dengan 30 butir telur.
Seiring berjalannya waktu, Kampua mulai tergusur oleh Gulden yang dikeluarkan pada masa penjajahan Belanda. Meski demikian, beberapa daerah pedalaman masih menggunakan Kampua untuk beberapa acara tertentu sampai 1940. Setelah itu Kampua tidak pernah lagi digunakan.

Uang BaruEkonomiRupiahBank IndonesiaUang

500

Baca Lainnya