• 0

Lebih Banyak Untung, Peternak Pilih Jual Sapi Betina Produktif

Lebih Banyak Untung, Peternak Pilih Jual Sapi Betina Produktif


Sapi Kurban

Sapi Kurban. (Foto: Antara/Destyan Sujarwoko)

Peredaran daging kerbau impor asal India membuat para peternak sapi lokal resah. Alasannya, harga sapi hidup dalam kurun waktu 2 tahun terakhir tidak mengalami kenaikan.
Harga bobot sapi hidup di peternak saat ini berada di kisaran Rp 40.000-42.000/kg. Begitu juga dengan harga karkas (daging plus tulang) di rumah pemotongan hewan (RPH) yang tetap Rp 47.000/kg. Sedangkan di pasaran, harga daging sapi bertahan Rp 120.000/kg. Normalnya, harga daging sapi naik rata-rata 5-10% per tahun.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf mengatakan, dampak lain dari peredaran daging kerbau impor adalah minimnya kegiatan pemotongan hewan di RPH.
"Dengan kehadiran daging India ini dibuat tetap dan tidak beranjak di harga itu jadi terjadi kekurangan kegiatan pemotongan di rumah pemotongan," kata dia kepada kumparan (kumparan.com), Kamis (14/9).

Sapi kurban dari Mentan.

Sapi kurban dari Mentan. (Foto: Kelik Wahyu/kumparan)

Secara hitung-hitungan, pedagang daging eceran saat ini lebih memilih untuk menjual daging kerbau impor ketimbang daging sapi lokal karena dinilai menguntungkan. Misalnya, harga beli daging kerbau impor dari Perum Bulog hanya Rp 65.000/kg. Setelah itu, mereka wajib menjualnya ke konsumen dengan harga maksimal Rp 80.000/kg.
Yang menjadi masalah adalah banyak pedagang yang mengubah daging kerbau beku impor menjadi seperti daging segar dengan cara dithawing atau dicairkan. Daging kerbau impor hasil thawing ini kemudian dilepas ke pasaran dengan harga jual Rp 100.000/kg. Keuntungan pedagang makin membesar.
Karena minim peminat, peternak sekarang lebih memilih menjual sapi betina produktif ketimbang sapi jantan. Pertimbangannya, sapi betina produktif memiliki jeroan lebih banyak sehingga menguntungkan bagi para peternak.
"Keuntungan yang didapat dari jeroan besar. Sapi betina itu lebih banyak jeroan daripada jantan," sebutnya.
Bila kegiatan pemotongan sapi betina produktif masih terus dilakukan maka sangat membahayakan bagi kelangsungan stok sapi hidup di Indonesia.
"Yang saya khawatirkan justru terjadi pemotongan betina produktif, sumber bibit ini harusnya dijaga. Di NTT 90% sapi betina terpotong kan mengerikan," jelasnya.

EkonomiBisnisPeternakanSapi BrahmanKementan

500

Baca Lainnya