Politik
·
26 Januari 2017 10:59

Yang Gagal Disampaikan 'Istirahatlah Kata-Kata'

Konten ini diproduksi oleh Wildan Sena Utama
Yang Gagal Disampaikan 'Istirahatlah Kata-Kata' (317981)
searchPerbesar
Ilustrasi Wiji Thukul dan puisinya. (Foto: Mateus Situmorang/kumparan)
Kehadiran film Istirahatlah Kata-Kata patut disambut dengan apresiasi di tengah sedikitnya upaya sineas film untuk berani mengangkat ke layar lebar satu episode kelam sejarah Indonesia.
ADVERTISEMENT
Melalui film ini kita bisa tahu bahwa pernah ada satu periode sejarah Indonesia di mana yang bersuara kritis terhadap kekuasaan akan ditangkap, dipenjara tanpa diadili atau dihilangkan sama seperti tokoh utama dalam film ini.
Film ini bercerita tentang pelarian Wiji Thukul, penyair rakyat, aktivis Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker) yang menjadi organ kebudayaan Partai Rakyat Demokratik (PRD), di Pontianak, Kalimantan Barat. Thukul kabur dikejar aparat karena dituduh terlibat dalam kerusuhan 27 Juli 1996 di kantor PDI.
Sebelum mendarat di Pontianak, Thukul bersembunyi. Ia berpindah-pindah dari Wonogiri, Yogyakarta, Magelang, Salatiga, kembali ke Jakarta, Bogor dan Bandung hanya dalam hitungan satu bulan. Cepatnya ia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain secara singkat memperlihatkan bahwa Thukul bukanlah figur sembarangan.
ADVERTISEMENT
Yang Gagal Disampaikan 'Istirahatlah Kata-Kata' (317982)
searchPerbesar
Wiji Thukul membaca puisi. (Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan)
Ia adalah salah satu musuh utama dari Orde Baru. Pamflet-pamfletnya protesnya membuat murka rezim yang gampang kepanasan itu.
Pelarian Thukul jelas memperlihatkan watak rezim Soeharto yang represif. Dan mengapa Thukul begitu ketakutan dan kesepian dalam pelariannya di Pontianak bukanlah sebuah hal yang aneh. Meskipun Pontianak relatif lebih aman dibandingkan dengan tempat-tempat pelariannya di Jawa.
Film ini memang tidak menceritakan fakta itu. Hal ini mungkin menjadi masalah ketika penonton yang tidak tahu siapa Thukul tiba-tiba disuguhi sosoknya yang paranoid, takut dan curiga terhadap sekitarnya.
Kita tahu bahwa Thukul sedang berada dalam pelarian. Tapi mengapa ia sangat ketakutan? Itu tidak dijelaskan.
Istirahatlah Kata-Kata memang lebih menyuruh penonton untuk berintepretasi daripada mendapat informasi. Film ini puitis. Dengan teknik pengambilan gambar yang diam dan lambat dan tidak banyak dialog dan mengandalkan bahasa tubuh, film ini secara artistik menampilkan Thukul yang manusiawi.
ADVERTISEMENT
Thukul yang bisa takut, cemas dan kesepian ketika ditindas dan terasing.
Saya sendiri merasa bahwa inilah pesan yang ingin disampaikan oleh film ini. Film ini ingin mengajak penontonnya merasakan kegelisahan Thukul diburu oleh rezim Orde Baru lewat karakter Thukul yang manusiawi.
Jadi, bagi para aktivis yang mengharapkan kisah Thukul yang heroik, mereka tidak akan menemukan dalam film ini. Dan bagi saya itu bukan masalah yang perlu dibesar-besarkan.
Yang Gagal Disampaikan 'Istirahatlah Kata-Kata' (317983)
searchPerbesar
Film Wiji Thukul 'Istirahatlah Kata-Kata' (Foto: Dok. Twitter @FilmWijiThukul)
Justru terkadang sutradara Indonesia yang terbebani dengan hal itu cenderung terjebak ke dalam penggambaran cerita yang nasionalis romantik. Untung saja film ini tidak begitu. Namun, film ini juga bukannya tanpa cela.
Menurut hemat saya, Yosep Anggi Noen cenderung hanya mengeksplorasi aspek visualitas artistik untuk bisa mengangkat sisi manusiawi Thukul. Tapi ia malah melupakan konteks sosial-politik yang menjadi setting waktu film tersebut.
ADVERTISEMENT
Sehingga Istirahatlah Kata-Kata kesulitan – atau mungkin tidak mau –menjelaskan siapa sebenarnya sosok Wiji Thukul kepada penonton.
Film biopik dihadirkan setidaknya untuk dapat memberikan informasi kepada audiens tentang siapa sebenarnya tokoh itu. Untuk memenuhi tugas itu, unsur-unsur penting terkait tokoh, seperti konteks sosial-politik dan aktivitas sang tokoh, wajib untuk dihadirkan.
Lubang besar dalam film ini adalah konteks sosial-politik yang sedikit sekali disinggung.
Istirahatlah Kata-Kata memang dibuka dengan narasi kecil peristiwa 27 Juli yang membuat Thukul diburu. Tapi film ini terlalu terburu-buru masuk ke dalam karakter Thukul.
Tidak dijelaskan lebih lanjut siapa itu Thukul dan apa aktivitas politiknya. Apa yang menyebabkan Thukul sampai separanoid itu ketika berada di Pontianak, seperti yang saya jabarkan di atas.
ADVERTISEMENT
Akibat film ini mengabaikan konteks sosial-politik, tidak ada satupun scene yang menghubungan pelarian Thukul dengan situasi politik di Jawa. Sehingga muncul banyak pertanyaan:
Bagaimana situasi yang terjadi di Jawa atau Jakarta? Bagaimana aktivitas politik dari jaringan Thukul di Jakarta? Atau apakah Thukul tidak penasaran dengan situasi politik di Jawa dan nasib teman-temannya di sana?
Thukul sendiri dalam film ini digambarkan tidak pernah berdiskusi politik selama berada di Pontianak. Lagi-lagi muncul pertanyaan, apakah benar Thukul yang secara psikologis berangsur pulih sama sekali tidak pernah berbicara tentang politis? Film ini tampaknya ingin menjadi politis tanpa memperlihatkan masalah politik yang kompleks.
Dengan formulasi seperti itu, film ini memang sukses untuk mengangkat sisi kemanusiaan Thukul. Tapi ia gagal dalam menghadirkan siapa itu Thukul.
ADVERTISEMENT
Terlepas dari itu, kehadiran film ini memancing animo generasi muda untuk mencari tahu siapa Wiji Thukul. Meskipun Thukul adalah salah satu sosok penting yang berkontribusi terhadap tumbangnya rezim Orde Baru, namun banyak anak muda yang tidak familiar dengan namanya.
Kehadiran film ini harus diletakkan sebagai memori pengingat bahwa masih ada belasan orang yang dihilangkan oleh Orde Baru dan belum kembali hingga ini. Pesan ini penting untuk disebarkan di tengah rendahnya komitmen pemerintah Jokowi untuk menyelesaikan persoalan HAM masa lalu.
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white