• 1

Di Balik Koin Rp 200 Baru: Dokter Tjipto, Pemberontak Sejati dari Jepara

Di Balik Koin Rp 200 Baru: Dokter Tjipto, Pemberontak Sejati dari Jepara



Uang Pecahan Baru

Gambar Pahlawan Nasional Dr. Tjiptomangunkusumo sebagai gambar pada bagian depan Rupiah logam NKRI dengan pecahan Rp200. (Foto: Aditia Noviansyah)
Mengapa Tjipto Memberontak?
Wajah Tjipto Mangoenkoesoemo diabadikan di uang logam cetakan baru Rp 200 yang terbit hari ini. Tjipto adalah seorang dokter dari Jawa yang memiliki jiwa “pemberontak sejati”.
Tjipto dilahirkan pada 4 Maret 1886 di Desa Pecangakan, Jepara, Jawa Tengah. Ia adalah putera tertua dari Mangoenkoesoemo, seorang priyayi rendahan dalam struktur masyarakat Jawa. Sementara, sang ibu adalah keturunan dari tuan tanah di Mayong, Jepara.
Saat menempuh pendidikan di sekolah kedokteran STOVIA, Tjipto memperlihatkan sifat yang baik, seperti jujur, rajin belajar dan menghormati sesama. Setiap waktu luangnya selalu diisi dengan kegiatan positif seperti membaca buku dan menggali informasi terbaru.
Sejak muda, Tjipto sudah dikenal memiliki jiwa “pemberontak”. Jika dia tidak setuju dengan sesuatu yang dianggapnya mengganjal dengan nuraninya, ia langsung tegas bersuara.
Salah satu buktinya, ketika dia tak mau menaati peraturan sekolah yang dianggap melambangkan segregasi sosial mengarah ke feodal. Banyak peraturan di sekolahnya yang tidak sesuai dengan pemikirannya, seperti pada pakaian di sekolah yang mengharuskan penduduk pribumi non-Kristen dengan level kemasyarakatan rendah memakai pakaian adat daerah.
Hal ini menurutnya tidak masuk akal. Dalam pandangan Tjipto, aturan ini mengakibatkan kurang hormatnya masyarakat terhadap bangsanya sendiri. Ia sudah menyadari bahwa sistem tersebut sengaja ditumbuhkan oleh Belanda.
Tak sampai di situ, Tjipto juga merasa ada kondisi kolonial lainnya yang patut ditentangnya, yaitu diskriminasi ras. Implikasi dari diskriminasi tersebut antara lalin seperti dalam perbedaan gaji yang tinggi untuk pekerja Eropa dibanding orang pribumi meski pekerjaan yang dilakukan sama. Ia melihat hal tersebut harus dilawan. Dalam bidang pemerintahan, politik, ekonomi dan sosial warga, Tjipto juga merasa pribumi sulit untuk menduduki posisi atas.

Desain Uang Logam Terbaru Tahun Emisi 2016

Desain Uang Logam Terbaru Tahun Emisi 2016 (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)
Semua perlawanan Tjipto tersebut dituangkan dalam bentuk tulisan di harian De Locomotief dan Bataviaasch Nieuwsblad. Tjipto menjadi penulis di harian tersebut sejak tahun 1907. Akibat tulisan-tulisannya tersebut, Tjipto sering mendapat teguran dan peringatan dari pemerintah.
Saat itu, Tjipto masih bertugas menjadi salah satu pegawai di pemerintahan Belanda. Untuk mempertahankan kebebasan dalam berpendapat, Tjipto kemudian keluar dari dinas pemerintah Belanda. Ia juga harus menerima konsekuensi harus mengembalikan sejumlah uang ikatan dinasnya yang tidak sedikit, mencapai lebih dari 1000 gulden.
Tak hanya lewat tulisan, Tjipto juga sering melancarkan protes dengan bertingkah melawan arus dari kebiasaan-kebiasaan yang diciptakan oleh Belanda. Salah satunya, ia seakan menantang dengan menggunakan kain batik dan jas lurik, ia masuk ke sebuah pertemuan yang penuh dengan orang-orang Eropa. Dalam pertemuaan, Tjipto bersikap lebih berani lagi. Saat duduk, ia menjulurkan kakinya.

Uang Pecahan Baru

Gambar desain uang pecahan baru tahun emisi 2016. (Foto: Aditia Noviansyah)

Hal itu mengundang kegaduhan ketika seorang opas (penjaga) mencoba mengusir Tjipto dari gedung. Apakah Tjipto lantas pergi? Tentu saja tidak. Sekali lagi, ia memiliki jiwa “pemberontak sejati”. Dengan lantangnya Tjipto memaki-maki si opas serta orang-orang berada di dekatnya dengan mempergunakan bahasa Belanda.
Sebagai seorang pegawai negeri, Tjipto memang mahir berbahasa Belanda karena kecerdasannya. Si opas pun terdiam, terpana, melihat adegan Tjipto marah-marah tersebut. Kewibawaan Tjipto dan penggunaan bahasa Belandanya yang fasih membuat orang-orang Eropa terperangah.
Karier organisasi Tjipto dimulai dari Budi Utomo yang dibentuk pada tanggal 20 Mei 1908. Meskipun diangkat sebagai pengurus Budi Utomo, Tjipto merasa tak sepaham dengan konsep yang ditawarkan oleh penggagas organisasi ini. Jiwa “pemberontak” Tjipto bergejolak.
Ia melawan ketika Budi Oetomo hanya memfokuskan perjuangannya kepada masyarakat Jawa dan Madura. Baginya, hal tersebut tak ada bedanya dengan apa yang telah dibuat oleh penjajah. Sampai akhirnya, Tjipto mengundurkan diri dari Budi Utomo yang dianggap tidak mewakili aspirasinya. Budi Utomo kehilangan kekuatan progesifnya.
Setelah mengundurkan diri dari Budi Utomo, sebagai seorang dokter, Tjipto merasa perlu untuk membuka praktik pengobatan sendiri untuk membantu masyarakat kelas bawah. Ia membuka praktik dokter di Solo. Meskipun demikian, karier politiknya tidak ditinggalkan sama sekali.
Di sela-sela kesibukannya melayani pasien, Tjipto mendirikan Raden Ajeng Kartini Klub yang bertujuan memperbaiki nasib rakyat, khususnya mereka yang terpinggirkan karena status sosialnya. Semakin hari, keyakinannya untuk berjuang lewat politik kian kuat. Apalagi setelah dia bertemu dengan Douwes Dekker atau Multatuli yang tengah berpropaganda dan mendirikan Indische Partij. Tjipto melihat Douwes Dekker sebagai kawan seperjuangan. Visi dan pemikirannya sama, mereka sama-sama memiliki jiwa “pemberontak sejati”.
Saat Tjipto Diburu Belanda
Kerja sama dengan Douwes Dekker telah memberinya kesempatan untuk melaksanakan cita-citanya, yakni gerakan politik bagi seluruh rakyat Hindia Belanda. Bagi Tjipto, Indische Partij merupakan upaya mulia mewakili kepentingan-kepentingan semua penduduk Hindia Belanda, tidak memandang suku, golongan, dan agama. Berbeda dengan Budi Utomo yang mementingkan sebagian golongan.
Pada tahun 1914 Tjipto bergabung dengan Insulinde, suatu perkumpulan yang menggantikan Indische Partij yang kehadirannya sejak awal tidak disukai Belanda. Sejak itu, Tjipto menjadi anggota pengurus pusat Insulinde untuk beberapa waktu dan melancarkan propaganda untuk Insulinde, terutama di daerah pesisir utara Pulau Jawa.
Setelah itu, Tjipto berekspansi. Ia berusaha menyebarkan gagasan perjuangannya, lagi-lagi medianya adalah tulisan. Ia bersama kawan-kawan di Insulinde membuat sebuah majalah berlabel Goentoer Bergerak. Kemudian ia juga menggagas dibuatnya surat kabar harian berbahasa Belanda De Beweging, surat kabar Madjapahit, dan surat kabar Pahlawan.
Melihat manuver Tjipto tersebut, Pemerintah Hindia Belanda menganggap dia sebagai orang yang sangat berbahaya dan paling diwaspadai. Dewan Hindia (Raad van Nederlandsch Indie) pada 15 Oktober 1920 memberi masukan kepada Gubernur Jenderal untuk mengusir Tjipto. Ke mana? Ke daerah yang tidak berbahasa Jawa. Akan tetapi, pada kenyataannya pembuangan Tjipto ke daerah Aceh, Palembang, Jambi, dan Kalimantan Timur masih tetap membahayakan pemerintah.

Presiden Jokowi

Presiden Jokowi di acara Peresmian Pengeluaran dan Pengedaran Uang Baru di Bank Indonesia, Jakarta. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Tjipto masih memberontak dan mengajak masyarakat mengikuti jejaknya. Oleh sebab itu, Dewan Hindia berdasarkan surat kepada Gubernur Jenderal mengusulkan pengusiran Tjipto lagi, kali ini ke wilayah yang lebih pelosok yakni ke Kepulauan Timor. Setelah membuang Tjipto ke Timor, nampaknya Belanda belum puas. Tjipto dibuang lagi dari daerah yang tidak berbahasa Jawa tetapi masih di Pulau Jawa, yaitu ke Bandung, dan dilarang ke luar kota.
Di Bandung, Tjipto justru bertemu dengan kaum nasionalis yang lebih muda, seperti Soekarno yang pada tahun 1923 membentuk Algemeene Studie Club. Pada tahun 1927 Algemeene Studie Club diubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Meskipun Tjipto tidak menjadi anggota resmi dalam Algemeene Studie Club dan PNI, Tjipto tetap diakui sebagai penyumbang pemikiran bagi generasi muda. Misalnya Soekarno dalam suatu wawancara pers pada 1959, ketika ditanya siapa di antara tokoh-tokoh pemimpin Indonesia yang paling banyak memberikan pengaruh kepada pemikiran politiknya, tanpa ragu-ragu Soekarno menyebut Tjipto Mangunkusumo.
Pada saat pemberontakan PKI 1926, ribuan orang yang terlibat ditangkap atau dibuang. Tjipto juga ditangkap dan didakwa turut serta dalam perlawanan terhadap pemerintah. Pada bulan Juli 1927, Tjipto kedatangan tamu seorang militer pribumi berpangkat kopral dan seorang kawannya. Kepada Tjipto, tamu tersebut mengatakan rencananya untuk melakukan sabotase dengan meledakkan persediaan-persediaan mesiu. Tetapi dia bermaksud mengunjungi keluarganya di Jatinegara, Jakarta, terlebih dahulu. Untuk itu dia memerlukan uang untuk biaya perjalanan. Tjipto memberi nasihat agar orang itu tidak melakukan tindakan sabotase. Dengan alasan kemanusiaan, Tjipto kemudian memberikan uang sebesar 10 gulden kepada tamunya.
Sang Dokter Pemberontak Sejati Pergi Selamanya
Setelah pemberontakan komunis gagal dan dibongkarnya kasus peledakan gudang mesiu di Bandung, Tjipto dipanggil pemerintah untuk menghadap pengadilan karena dianggap telah memberikan andil dalam membantu anggota komunis dengan memberi uang 10 gulden dan diketemukannya nama-nama kepala pemberontakan dalam daftar tamu Tjipto. Sebagai hukumannya Cipto kemudian dibuang ke Banda pada tahun 1928.
Dalam pembuangan, penyakit asmanya kambuh. Beberapa kawan Tjipto kemudian mengusulkan kepada pemerintah agar Tjipto dibebaskan. Ketika Tjipto diminta untuk menandatangani suatu perjanjian bahwa dia dapat pulang ke Jawa dengan melepaskan hak politiknya, Tjipto secara tegas mengatakan bahwa lebih baik mati di Banda daripada melepaskan hak politiknya.
Tjipto kemudian dialihkan ke Makasar, dan pada tahun 1940 dipindahkan ke Sukabumi. Pada tahun 1940 Tjipto dipindahkan ke Sukabumi. Kekerasan hati Tjipto untuk berpolitik dibawa hingga tutup usia pada 8 Maret 1943 karena sakit asma yang telah lama dideritanya.
Tjipto dimakamkan di TMP Ambarawa. Selain diabadikan di uang rupiah, Tjipto juga menjadi nama dari sebuah rumah sakit rujukan nasional terbesar di Indonesia yaitu RSCM.

Ilustrasi Instalasi Unit Gawat Darurat RSCM

Ilustrasi Instalasi Unit Gawat Darurat RSCM (Foto: Akbar Ramadhan)


NewsUang BaruSejarahKeuanganBisnis

500

Baca Lainnya