• 1

Menag: Fatwa MUI Hanya Mengikat Pihak yang Meminta

Menag: Fatwa MUI Hanya Mengikat Pihak yang Meminta



Lukman Hakim Saifuddin

Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin, di kantor Kementerian Agama, Jakarta. (Foto: Sigid Kurniawan / Antara)

Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin, angkat bicara soal polemik fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) soal peggunaan atribut agama lain. Apa kata Lukman?
Menurut Lukman, fatwa merupakan pendapat hukum yang diminta terhadap sebuah persoalan. Dalam pandangannya, MUI tak mungkin asal-asalan saat mengeluarkan fatwa..
"Fatwa itu adalah pendapat hukum yang dikeluarkan oleh seseorang yang ahli, tentu di bidang hukum, terhadap sebuah persoalan yang ditanyakan oleh pihak lain. Jadi, fatwa tidak bisa keluar begitu saja, tanpa ada pihak yang meminta. Fatwa akan muncul ketika ada pihak lain yang meminta, yang bertanya terkait dengan persoalan hukum suatu perkara," kata Lukman.
Lukman menyampaikan hal tersebut usai mengisi acara "Ekspose Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah Tahun 2016". Ia menegaskan bahwa fatwa hanya mengikat pihak-pihak yang meminta dikeluarkannya fatwa tersebut.

Kalau ada pihak yang meminta, maka kemudian pihak yang diminta lalu kemudian mengeluarkan fatwa. Maka fatwa ini hanya mengikat pihak yang meminta, dalam artian, yang tidak meminta fatwa sesungguhnya dia tidak terikat dengan isi fatwa itu

- Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin

Oleh karena itu, Lukman berpendapat bahwa ditaati atau tidaknya suatu fatwa merupakan kewenangan setiap individu. "Terkait dengan fatwa yang muncul, ia berpulang kepada kita semua, begitu," kata Lukman.
"Khusus bagi yang meminta, tentu yang meminta adanya fatwa ini, ya tentu dia terikat dengan putusan fatwa itu. Tapi bagi yang tidak (meminta), tentu tidak mengikat," lanjut Lukman yang berpendapat atas nama pribadi bukan atas nama i

NewsAgamaMUIFatwa MUI

500

Baca Lainnya