• 0

Menelusuri Jejak Kematian Tan Malaka

Menelusuri Jejak Kematian Tan Malaka



Tan Malaka

Tan Malaka, sosok pahlawan Indonesia, (Foto: KITLV)
Kematian Tan Malaka bukanlah kematian seorang pahlawan. Padahal bila ditelisik dari perannya terhadap Republik Indonesia, Tan Malaka punya banyak catatan perjuangan heroik.
Menurut sejarawan asal Belanda yang meneliti sosok Tan Malaka hingga 40 tahun, Harry A Poeze, Tan Malaka ditembak mati prajurit nasionalis dalam pelariannya di Desa Selopanggung, Gunung Wilis dekat Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
"Ia ditembak mati begitu saja atau ditembak setelah divonis oleh pengadilan semu," tulis Poeze dalam karyanya berjudul Memuliakan, Mengutuk dan Mengangkat Kembali Pahlawan Nasional: Kasus Tan Malaka.
Pendapat Poeze mengenai jasad Tan Malaka dikuburkan di Kediri bukan tanpa bukti. Ia bersama ahli forensik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dr Djaja Surya Atmadja membongkar untuk mengidentifikasi jasad Tan Malaka.
Dalam bukunya, Poeze mengungkapkan, Tan Malaka dieksekusi mati oleh pasukan dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. Menurut Poeze, perintah menembak mati pejuang berdarah Minang itu datang dari Letda. Soekotjo. Ia menyebut Soekotjo adalah “Orang kanan sekali yang beropini bahwa Tan Malaka harus dihabisi.”
Hari-hari terakhir Tan Malaka dimulai ketika dia dibebaskan dari penjara di Magelang, 16 September 1948. Tan Malaka dipenjara kerena dianggap pemerintah sebagai oposisi berbahaya. Saat itu Tan Malaka bergerak melalui organisasi Persatuan Perjuangan, Maret 1946 hingga September 1948.
Sekeluar dari penjara, masih menurut buku Poeze, Tan mencoba mengumpulkan kembali pendukungnya dan pada 8 Oktober 1948 menggagas pembentukan Partai Murba yang berasaskan nilai-nilai “antifasisme, antiimperialisme dan antikapitalisme”. Partai Murba akhirnya berdiri pada 7 November 1948.
“Namun dia (Tan) tidak mau jadi ketua. Mungkin dia berharap jadi Presiden RI. Dia selalu tidak senang dengan politik diplomasi,” kata Poeze dalam tulisan lainnya berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 4.
Perjuangan Tan Malaka melawan Belanda tak pernah tanggung-tanggung. Ia berkali-kali berhasil melancarkan propaganda yang membuat Belanda kalang kabut. Contoh kesuksesan propaganda Tan Malaka, sebanyak 17-19 batalion bergabung dalam Gabungan Pembela Proklamasi (GPP) untuk mengantisipasi serangan Belanda.
Mengingat peran Tan Malaka yang besar, Poeze berharap pemerintah bisa memberikan penghargaan yang layak untuk Tan Malaka. "Jika (makamnya) dipindahkan, mengapa tak ke Taman Makam Pahlawan Kalibata?" tanya Poeze.
Sementara sejarawan Anhar Gonggong berpendapat anak muda saat ini harus mengenal sosok Tan Malaka lebih dari sekadar jejak kematiannya. Menurut dia, peran Tan sebagai "Bapak Republik" tak sedikit.
"Menurut saya Tan Malaka itu orang yang paling hebat. Dia pejuang yang tidak pernah menikmati kemerdekaan ini. Sebab dia meninggal dibunuh pada tahun 1948. Dia masuk ke sini (Indonesia) juga dengan sembunyi-sembunyi dan akhirnya tampil menciptakan kekuatan," kata Anhar kepada kumparan, Jumat (23/12).

Makam Tan Malaka

Makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kediri. (Foto: Prasetia Fauzani)
Kini makam Sang Revolusioner itu tengah diperebutkan dua kubu. Mereka adalah Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota dan Pemerintah Kabupaten Kediri. Keduanya sama-sama merasa memiliki pejuang yang lahir pada 2 Juni 1897 itu.

NewsSejarahTan Malaka

500

Baca Lainnya