Entertainment
·
11 Juni 2021 14:13
·
waktu baca 4 menit

Dari KKN: di Antara Aku, Dia, dan Kampus

Konten ini diproduksi oleh wisroni
Dari KKN: di Antara Aku, Dia, dan Kampus (4620)
Ilustrasi simbol cinta Foto: Getty Images
Mendiang Bob Tutupoli, biduan 1970-an pernah berkata, “Adalah suatu kebohongan, apabila ada orang yang berkata bahwa ia dapat hidup tanpa cinta. Cinta itu adalah segala-galanya...”. Karena “tanpa cinta, hidup ibarat bergugurannya daun-daun hijau sebelum jadi salira”, kata Rano Karno. Bimbo menambahkan bahwa “Dengan cinta, segalanya indah bercahaya. Tanpa cinta, semuanya hambar pucat tiada warna”.
ADVERTISEMENT
Seperti banyak orang pahami, cinta adalah anugerah terindah Sang Mahapencipta. Penggenggam alam semesta, namun tidak pernah sok kuasa. Yang maha pemberi tapi tak pernah berharap kembali. Yang ketentuan dan aturannya sering kita ingkari, namun tidak pernah memendam benci. Cintanya tajam tak bertepi, tapi tidak pernah melukai.
Sayangnya, keanugerahan itu sering kita lakoni dengan kedangkalan makna. Meraih capaian-capaian kesementaraan dan mengabaikan keabadian. Merangkul yang kelihatannya besar, namun menemukan kehampaan. Memburu fatamorgana asmara dan melepas realita cinta yang sudah dalam genggaman.
Cinta itu memang anugrah terindahNya. Kita semua adalah dalam proses mencari dan menemukan makna bahwa cinta itu memang indah.
Indah Dewi Pratiwi misalnya. Ia baru menyadari keindahan dan kesejatian cinta si kekasih, justru setelah mereka tidak lagi bersama atau berpisah. “Baru aku tahu apa itu cinta, setelah kau bukan milikku,” sesalnya. Sadarilah, penyesalan memang tidak pernah datang lebih awal dalam peristiwa apa pun, termasuk juga pada peristiwa cinta! Makanya, janganlah larut dalam asmara cinta fatamorgana, yang berujung pada penyelewengan dan pengkhianatan cinta. Sebaliknya, rawat dan setialah pada keanugrahan, kebermaknaan, keagungan, kefitrahan, kesucian, dan kesejatian cinta. Seperti Fatin yang “Memilih Setia” mengikuti jejak pendahulunya, Glen Fredly yang berjanji “Pada Satu Cinta”. Andai cinta terpaksa memilih jalan berbeda, jadilah teman baik seperti janji Tulus dalam “Pamit”-nya.
ADVERTISEMENT
Pada peristiwa cinta, anak cucu Hawa mengekspresikannya dengan beragam cara dan gaya. Di era 1980-an misalnya, Maharani meratapi kesedihan cinta dengan ”Desember Kelabu”. Sebulan sesudahnya. Andi Mariem Mattalata, menyatakan bunga-bunga cinta lewat “Januari Biru”. Saking sedih dan kecewa, Crace Simon, pernah bermohon melalui “Tuhan, tolong hapuskan air mataku”. Begitulah ekspresi cinta. Fariz RM mengaku bahwa mengingkari sanubari tak semudah yang dikira lewat lagu “Sakura dalam Pelukan”. Jimmy Manopo bahkan mengeklaim bahwa bulan purnama ikut tersenyum melihatnya merajut cinta di sebuah situs perbakala lewat kidung “Purnama Prambanan”. Berikutnya, tak ketinggalan, sang lagendaris, Iwan Fals dengan “Buku Ini Aku Pinjam”.
Di abad ini, lain pula caranya. Yofi dan Nuno melantunkan tentang “Janji Suci”, Sammy Simorangkir dengan “Lagu Rindu”, Bunga Citra Lestari dengan “Pernah Muda” dan “Kecewa”, dan Siti Nurhaliza dengan “Bukan Cinta Biasa”. Lain Vidi Aldiano, lain pula Afgan. Ketika Vidi mengharap dan memelas dengan “Cinta, Jangan Kau Pergi”, sebaliknya, Afgan malah merelakan dan pasrah dengan “Bawalah Pergi Cintaku”.
ADVERTISEMENT
Maaf! Ada yang terlupa. Di era 1980-an Iwan Fals juga pernah bercerita tentang “Antara Aku, Dia, dan Bekas Pacarmu”. Dan kini, masih tentang kisah yang sama, tulisan ini akan cerita tentang “Dari KKN: di Antara Aku, Dia, dan Kampus”. Asli cerita cinta ini adalah karya nenek bangsa, Titik Puspa. Dengan sedikit modifikasi, semoga kisah ini menginspirasi.
Waktu itu masih sekitar tahun 1985-an. Ketika aku berkuliah kerja nyata (ber-KKN) di sebelah desanya. Kala hadir asmaranya menyentuh relung jiwa. Cinta seorang dara es em aa nan ayu, anggun, dan penuh ceria. Di antara sinyal cinta, cintanya mekar dan merona serta mengisi segenap sudut dan tepian jiwa. Bak melati yang tumbuh di antara belukar berduri, aromanya tetap mekar dan mewangi, mengisi dan merasuk sanubari. Di kesunyian malam, keceriaannya mengusir sepi. Dalam lelap, keayuannya menghiasi mimpi. Saat fajar, keanggunannya menyertai kicau burung pagi. Legenda cinta seorang gadis es em aa dengan seorang calon sarjana cukup tampan lagi baik hati.
ADVERTISEMENT
Lanjutan kisahnya seperti ini ...
Waktu Ku masih mahasiswa
Ka ka en di sebelah desanya
Agaknya ku tampan pada waktu itu
Dia cinta kepadaku
Selulusnya dari es em a
Dia hijrah ke kota
Kuliah di kampus yang sama
Aku makin lama makin mencinta
Anehnya dia tambah cantik
Juga manjanya selangit
Sayangnya banyak pengagumnya
Tambah bergaulnya disenangi kawannya
Masa bodoh kucari kompensasi
Tancap gas belajar sendiri
Kayaknya dia juga rajin
Tapi kumbang jahil tambah banyak
Ngiteriiin
Makin lama aku makin makan hati
Habis bayak yang jatuh hati
Sudahlah gaya mereka anak orang kaya
Aku hanya orang bias dari desa
Singkat cerita tibalah graduation day
Dia Ku undang di hari wisuda
Disalaminya aku air matanya berlinang
ADVERTISEMENT
Setengah berbisik malu-malu minta dipinang
Perempuan eh dasar wanita
Hatinya susah diraba
Ketika anak kami sudah dua
Malah katanya masih mau ngidam juga
Dia setiaaa
Aku mencintaaa
Hidup kami bahagia
Sekian saja.
Dari KKN: di Antara Aku, Dia, dan Kampus (4621)