• 0

Agar Sepak Bola Kita Tak Cuma Mimpi dan Mimpi

Agar Sepak Bola Kita Tak Cuma Mimpi dan Mimpi


“2017, 2018, dan seterusnya, Insya Allah, bangsa Indonesia bukan bangsa yang kalah.”
Kalimat itu terlontar dari Panglima Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad), Edy Rahmayadi. Kata-kata itu sendiri tidak ada sangkut pautnya dengan pertahanan dan keamanan republik ini. Edy melontarkan pernyataan itu dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Ketum PSSI).

Edy Rahmayadi

Letnan Jenderal TNI Edy Rahmayadi, Ketua Umum PSSI, duduk di tengah. (Foto: ANTARA FOTO)
Tak hanya bersikap optimistis, ketika ditanyai pendapatnya perihal kiprah Tim Nasional (Timnas) Indonesia pada gelaran Piala AFF lalu, Edy juga bersikap apresiatif.
“Setiap pemain bola atau olahragawan hitungannya itu mengeluarkan keringat, bukan juara atau tidak juara,” imbuh pria berusia 55 tahun tersebut.
Edy, sebagai Ketum PSSI boleh saja bersikap optimistis dan apresiatif, tetapi Wolfgang Pikal, Asisten Pelatih Timnas Indonesia memilih untuk menunjuk masalah pembinaan sebagai biang kegagalan “Tim Merah Putih”.
“Pemain kita bergantung pada spirit dan fisik, sedangkan Thailand skill dan passing,” ujar Pikal.
Pendapat Pikal ini setidaknya bisa tergambar dari statistik pertandingan leg ke-2 lalu. Thailand lebih unggul dari segi penguasaan bola dan upaya mencetak gol ketimbang Indonesia.

Statistik Pertandingan Thailand vs Indonesia

Statistik Pertandingan Thailand vs Indonesia (Foto: Frans Mateus Situmorang)
Kekalahan dari segi teknik ini disebut Pikal sebagai belum adanya sesuatu yang baru dari pembinaan pemain muda di Indonesia. Meski mengakui bahwa belum ada sesuatu yang baru, Pikal tidak mau begitu saja melepas harapan.
“Mudah-mudahan ada sesuatu yang baru,” ucap pria kelahiran 1967 ini.
Tak lupa, Pikal pun kemudian menekankan soal pentingnya pembinaan pemain muda. "Pembinaan itu perlu, tanpa ini kita nggak akan bisa maju. Itu hanya akan menjadi mimpi, mimpi!” tukasnya berapi-api.
00:00:00/00:00:00

Wolfgang Pikal
Tak hanya pembinaan, Pikal yang beristrikan orang Indonesia ini juga sempat menyinggung soal perkara infrastruktur. "Infrastruktur penting, tapi pembinaan lebih penting,” tegasnya.
Lebih lanjut, Pikal menekankan tentang kepelatihan di Indonesia. "Tidak ada pelatih bagus, cuma ada 50 pelatih lokal yang berlisensi A (Konfederasi Sepak Bola Asia/AFC)".
Pada kenyataannya, federasi sepak bola kita juga terkesan tidak tegas dalam bab lisensi. Pelatih tanpa lisensi A AFC masih diberikan kesempatan “mengajar” di kompetisi teratas tanah air. Djadjang Nurdjaman, misalnya. Arsitek Persib Bandung ini hanya memiliki lisensi B AFC, padahal syarat bagi pelatih tim-tim divisi teratas sudah jelas: harus berlisensi A AFC. Tak hanya itu, beberapa pelatih asing juga lisensinya juga masih harus diverifikasi.
Pikal membandingkan kondisi di Indonesia dengan Jepang yang memiliki sampai 450 pelatih berlisensi A AFC. "Mereka (Jepang) memiliki kursus sendiri sehingga tidak bergantung pada orang lain (pelatih asing),” pungkasnya.

Sepak BolaPiala AFF 2016Timnas IndonesiaSports

500

Baca Lainnya