• 1

Chapecoense di Copa Sudamericana 2016: Berakhir di Langit

Chapecoense di Copa Sudamericana 2016: Berakhir di Langit



Chapecoense

Pemain Sao Paulo mengenakan seragam penghormatan kepada Chapecoense. (Foto: Friedemann Vogel/Stringer)
Bagi sebuah klub yang baru merasakan kerasnya divisi sepak bola teratas pada 2014, keberhasilan Chapecoense menapak babak final sebuah turnamen kontinental saja sudah boleh disebut sebagai sebuah kisah dongeng. Naik turun, memang. Kadang mereka kalah, kadang mereka tertahan, namun sebagai finalis, tentu mereka tahu caranya menang.
Berawal dari Cuiaba
Sebagai klub asal Brasil, Chapecoense sedikit diuntungkan karena hanya harus melakoni satu fase eliminasi. Aturannya memang begitu. Selain klub-klub dari Brasil dan Argentina, semua klub peserta Copa Sudamericana harus melalui dua babak fase eliminasi.
Pada fase kualifikasi babak kedua, Chapecoense berhadapan dengan Cuiaba, klub yang baru berdiri 15 tahun silam. Pada leg pertama yang digelar di Arena Pantanal, Cuiaba, Chapeconese takluk lewat gol tunggal Dakson. Namun, pada leg kedua di kandang sendiri, Chapecoense berhasil membalikkan keadaan dengan memenangi leg tersebut 3-1. Kemenangan agregat 3-2 ini cukup untuk mengantarkan Chapecoense ke fase akhir (final stages).
Independiente Sempat Menyulitkan
Lolos ke babak 16 besar di fase akhir, Chapecoense sudah ditunggu Independiente yang sebelumnya mengandaskan wakil Argentina lainnya, Lanus. Setelah berlaga selama 210 menit, tak ada satu gol pun tercipta baik dari Chapecoense maupun Independiente. Adu penalti pun kemudian digelar di Arena Conda, kandang Chapecoense. Lima dari delapan penendang Chapecoense berhasil menyarangkan bola ke gawang Independiente, sementara gawang Danilo hanya mampu dibobol sebanyak empat kali.
Pulih dari Gigitan Hiu
Sebagai satu-satunya klub dari zona Karibia di Liga Kolombia Categoria Primera A, Junior sebenarnya mampu tampil cukup baik pada leg pertama. Bermain di Estadio Metropolitano Roberto Melendez, Chapecoense gagal mengadang sang tuan rumah. Junior menang tipis 1-0 pada laga tersebut.
Namun, Chapecoense lagi-lagi berhasil membalikkan keadaan. Pada leg kedua yang dihelat pada 26 Oktober 2016, Chapecoense menang telak 3-0 atas The Sharks lewat gol-gol dari Ananias, Gil, dan William Thiego. Tim berjuluk Verdao (Tim Hijau Besar) ini pun berhasil lolos ke semifinal.
Uletnya San Lorenzo
Klub asal Argentina lagi-lagi menjadi rintangan yang cukup berat bagi Chapecoense. Setelah Independiente berhasil memaksakan adu penalti, San Lorenzo berhasil memaksakan dua hasil imbang meski akhirnya Chapecoense-lah yang lolos.
Hasil imbang 1-1 pada leg pertama yang digelar di Estadio Pedro Bidegain, Buenos Aires, sudah cukup untuk mengantarkan Chapecoense ke partai puncak setelah pada leg kedua, pertandingan berakhir imbang tanpa gol. Chapecoense lolos ke partai puncak lewat aturan gol tandang.
Final di Langit
Sorak sorai di ruang ganti Chapecoense jadi momen yang terus-menerus digulirkan di dunia maya ketika kabar bahwa pesawat yang mereka tumpangi dari Bolivia jatuh di belantara Kolombia. Rasanya seperti sudah juara. Begitu lepas tawa mereka. Siapa pula yang bisa menduga bahwa hanya dalam waktu lima hari setelah momen tersebut diabadikan, mereka akan bersua dengan maut?
"Biarlah (momen) ini jadi potret terakhir para petarung kita," begitu tulis akun Facebook resmi Chapecoense untuk menggambarkan keriuhan di atas. Sekali lagi, siapa pula yang bisa, berani, dan/atau mau menduga bahwa itulah momen terakhir para pemenang itu? Lima hari setelahnya, (sebagian besar dari) mereka terbang, jauh, dan tak pernah kembali. Bagi mereka yang tertinggal pun hidup tak serta merta lebih mudah. Mereka memang selamat dari maut, tetapi ketika puluhan karib tiba-tiba tiada, siapa yang bisa berbahagia?
Sedianya, mereka yang gugur itu akan bertamu ke markas Atletico Nacional di Medellin. Partai final Copa Sudamericana itu adalah final kompetisi kontinental kedua pada tahun 2016 bagi Atletio Nacional setelah sebelumnya mereka berhasil mengalahkan Independiente del Valle di final Copa Libertadores. Setelah ada wacana bahwa laga Atletico Nacional melawan Chapecoense akan ditunda -- bukan dibatalkan, Atletico Nacional pun kemudian meminta agar pertandingan ditiadakan saja dan gelar juara diberikan kepada Chapecoense.
Kini, trofi telah resmi diterima Chapecoense. Tahun depan, mereka akan berlaga di Copa Libertadores sebagai juara Copa Sudamericana. Selain itu, mereka juga akan kembali menghadapi Atletico Nacional pada Recopa Sudamericana 2017. Tidak ada jaminan sama sekali bahwa mereka akan kembali menciptakan kejutan, tetapi siapa yang tahu? Siapa pula yang berani memberi vonis bahwa mereka pasti akan gagal?

SportsSepak BolaCopa SudamericanaChapecoense

500

Baca Lainnya