• 2

Dari Palestina ke Kaki Andes, Inilah Deportivo Palestino

Dari Palestina ke Kaki Andes, Inilah Deportivo Palestino



Bendera Palestina (Ilustrasi)

Bendera Palestina (Ilustrasi) (Foto: Scott Olson)
Sulit untuk memisahkan nama "Palestina" dengan kekerasan. Bukan bermaksud untuk mengidentikkan mereka dengan kekerasan itu sendiri, tetapi nyatanya memang begitu. Ketika ada berita soal Palestina, biasanya yang muncul adalah soal bagaimana Gaza dihujani roket oleh Israel atau bagaimana rakyat Palestina yang terjajah dan terdesak membalas hujan roket itu dengan lemparan-lemparan batu. Pendek kata, mau dijabarkan seperti apa pun, Palestina dan kekerasan sudah kadung lekat.
Jauh dari hujan bom, lontaran mortir, dan semburan mitraliur, ternyata ada sekelompok orang Palestina yang bisa hidup dalam damai. Di kaki Pegunungan Andes, mereka hidup berdampingan dengan para penduduk asli. Mereka bahkan sudah dianggap menjadi bagian dari para penduduk asli tersebut.
Awalnya memang sulit. Kebanyakan dari orang-orang Palestina yang lari ke Amerika Selatan adalah mereka yang terkena dampak buruk dari berbagai peperangan di wilayahnya. Sejak Perang Krim tahun 1850, Perang Dunia I, hingga Perang Palestina tahun 1948, sudah ribuan orang Palestina hijrah ke sebuah wilayah di kaki Pegunungan Andes yang masuk dalam wilayah negara Chile. Sekarang, jumlah mereka ada sekitar 500 ribu jiwa dan membentuk 5% dari total populasi Chile.
Ketika pertama kali datang dulu, mereka disambut dengan pandangan sebelah mata dan caci maki. Sebuah suratkabar di Chile, El Mercurio, pada tahun 1911 pernah menulis: Mau mereka (para imigran tersebut) Mahometan (pengikut Nabi Muhammad atau orang Islam) atau orang Budha, apa yang bisa disaksikan dan dicium orang-orang dari jauh adalah bahwa mereka lebih kotor dari anjing-anjing Konstantinopel. Selain karena referensi ini, kemiripan fisik juga sering membuat para imigran ini dipanggil dengan sebutan turcos (orang-orang Turki dalam bahasa Spanyol).
Kebanyakan dari mereka yang datang ke Chile adalah orang-orang miskin dan berpendidikan rendah. Mereka yang umumnya berasal dari Belen, Beit Jala, Beit Sahour, dan Beit Safafa harus melewati Beirut, Marseille, Panama, São Paulo, dan Buenos Aires sebelum menunggang keledai sampai ke tempat di mana mereka sekarang bermukim. Tak sedikit yang harus berutang untuk bisa berlayar ke sana. Lalu, setelah tiba di sana, mereka kemudian bekerja sebagai pedagang-pedagang kecil di pinggiran kota.
Meski begitu, proses integrasi para imigran Palestina ini tidak berlangsung terlalu lama. Pada dekade 1950-an, sudah banyak di antara mereka yang mampu mencapai kemakmuran dan posisi politik penting. Ada dari mereka yang bahkan bisa menjadi menteri dan duta besar. Keberadaan orang Palestina di Chile pada akhirnya sudah dianggap biasa, hingga muncul sebuah anekdot yang bunyinya begini: tidak ada satu desa pun di Chile yang tidak memiliki polisi, pendeta, dan orang Palestina.
***
Jika kalian pernah mendengar nama Luis Antonio Jimenez Garces, maka beruntunglah kalian, karena untuk perkara sepak bola dalam relasi Chile-Palestina, dialah orang yang layak untuk jadi poster boy.
Jimenez adalah pesepak bola Chile keturunan Palestina yang kariernya boleh dibilang paling cemerlang. Selain menjadi bagian integral Tim Nasional (Timnas) Chile pada medio 2000-an, pemain yang berposisi sebagai penyerang sayap ini juga pernah malang-melintang di beberapa klub sepak bola top Eropa seperti Internazionale, West Ham United, dan Lazio.

Luis Antonio Jimenez Garces

Luis Antonio Jimenez merayakan golnya untuk Cesena ke gawang Fiorentina pada sebuah laga Liga Italia Serie A musim 2010/11. (Foto: Gabriele Guerra)
Sejujurnya, Jimenez memang bukan pemain kelas A. Ia bukan Arturo Vidal atau Ivan Zamorano yang bergelimangan gelar di tanah Eropa. Pemain yang kini berusia 32 tahun tersebut hanya menjadi pemain serep di klub-klub itu. Namun, bersama klub pertamanya di Eropa, Ternana, ia pernah menunjukkan potensi yang besar. Ketika itu, ia berhasil membawa Ternana promosi ke Serie A Italia hingga akhirnya ia pun diangkut oleh Fiorentina.
Belum familiar? Baiklah, kalau begitu, bagaimana dengan nama Manuel Pellegrini? Ya, Manuel Pellegrini yang pernah melatih VIllarreal, Real Madrid dan Manchester City itu.
Nah, sebelum Jimenez bisa malang melintang di Eropa serta menjadi bagian dari Timnas Chile dan Pellegrini menjadi salah satu pelatih top dunia, mereka berdua pernah bersinggungan dengan sebuah klub bernama Deportivo Palestino.
Identik dengan seragam yang warnanya mengadopsi warna bendera Palestina, Deportivo Palestino sudah ada sejak tahun 1920. Pembentukan klub sepak bola ini menjadi salah satu cara pertama para imigran itu untuk menancapkan tonggak eksistensi mereka di Palestina. Cara lainnya adalah dengan mendirikan gereja karena mereka yang hijrah ke Chile umumnya beragama Kristen Ortodoks dan Katolik. Gereja yang baru berusia tiga tahun saat Deportivo Palestino dibentuk itu bernama Iglesia Ortodoxa San Jorge (Gereja Ortodoks Santo Georgius).
Dua tahun silam, Deportivo Palestino pernah menghebohkan dunia ketika mereka mengganti angka "1" di nomor punggung seragam mereka dengan menggunakan peta Palestina sebelum diokupasi Israel. Dunia (Yahudi) pun bereaksi keras. Seperti dikutip The Washington Times, Presiden Komunitas Yahudi Chile, Gerardo Gorodischer, ketika itu berkata, "Kami tahu bahwa FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) melarang hal semacam ini. Anda tidak bisa membuat pernyataan politik dan mengimpor konflik di Timur Tengah lewat sepak bola."
Deportivo Palestino yang berbasis di ibu kota Chile, Santiago, ini pun akhirnya mendapat hukuman berupa denda sebesar 15 ribu dolar Amerika Serikat (AS) dan mereka pun tak diperbolehkan lagi mengenakan seragam tersebut. Padahal, menurut presiden klub Deportivo Palestino, Maurice Khamis Massu, seragam tersebut -- terutama yang bernomor punggung 11 -- laku keras. Massu, seperti dilansir The Guardian, berujar, "Kemenangan Palestino adalah kebahagiaan bagi rakyat Palestina yang menderita."
Dilarangnya seragam tersebut kemudian diakali oleh para pemain Deportivo Palestino dengan cara merajah lengan mereka dengan gambar peta Palestina sebelum 1948. Para pemain itu sebagian besar memang keturunan para imigran Palestina. Mayoritas sudah tak lagi bernama Arab atau bisa berbicara dengan bahasa Arab, namun ikatan emosional mereka masih sangat erat.
Setahun sekali, pada masa libur Natal, pemain-pemain Deportivo Palestino diajak untuk "pulang kampung" ke Palestina oleh para petinggi klub. Christian Elben Nazal, general manager Deportivo Palestino, seperti dilaporkan Haaretz mengatakan bahwa kunjungan ke Palestina ini penting untuk menyambungkan kembali para pemain-pemain itu dengan tanah leluhur mereka.
Dalam kunjungan tahun ini, Deportivo Palestino mengadakan laga eksebisi dengan Timnas Palestina dan sebuah tim all-star yang berisikan pemain-pemain dari daerah Hebron. Laga yang melibatkan Deportivo Palestino dengan tim-tim lokal Palestina selalu menarik minat yang sangat besar dari warga Palestina. Bagi mereka, inilah Timnas Palestina kedua. Bagi orang-orang Palestina yang belum kunjung mampu keluar dari kesengsaraan, menyasikan Deportivo Palestino menghadirkan kebanggaan tersendiri. Kiprah klub yang bermarkas di Estadio Municipal de La Cisterna itu seakan menunjukkan bahwa Palestina tidak selalu identik dengan kekerasan dan penderitaan.
Tak hanya soal merajut hubungan dengan tanah leluhur, kesempatan ini juga digunakan sebagai ajang pencarian bakat. Di skuat Deportivo Palestino saat ini, ada nama Shadi Shaban yang direkrut dengan status pinjaman dari klub Al-Ahli yang berbasis di Hebron. Deportivo Palestino kepincut setelah Shaban tampil memukau dalam sebuah sesi latihan tahun lalu.
Tak hanya itu, Deportivo Palestino punya kontribusi terhadap Timnas Palestina. Salah satu pemain paling terkenal dari Deportivo Palestino yang pernah memperkuat Timnas Palestina adalah Roberto "Tito" Bishara.
Saat ini, Bishara yang berusia 36 tahun memang sudah pensiun sebagai pesepak bola profesional, tetapi pemain yang membela Deportivo Palestino dari 2005 hingg 2013 ini masih dielu-elukan pendukung Deportivo Palestino. Pria yang ketika masih aktif bermain dulu berposisi sebagai bek ini membela Timnas Palestina sebanyak 26 kali.
Deportivo Palestino sendiri bukanlah klub kacangan. Tercatat, hingga saat ini mereka sudah memiliki dua gelar juara Liga Chile Divisi Premier. Gelar pertama mereka rengkuh pada tahun 1955, tiga tahun setelah Liga Chile Divisi Premier terbentuk. Kemudian, bersama legenda sepak bola Chile, Elias Figueroa, mereka berhasil meraih gelar kedua mereka pada tahun 1978.
Setelah itu, memang belum ada lagi gelar liga yang mampu mereka dapatkan. Mereka pun sempat mengalami masa-masa sulit setelahnya. Hampir terdegradasi pada tahun 2006, Deportivo Palestino sukses kembali merangsek ke papan atas pada tahun 2008. Sejak saat itu pula Deportivo Palestino mampu tampil konsisten di papan atas. Kompetisi level kontinental pun bukan tempat asing bagi mereka. Tahun ini, mereka mampu menembus babak perempat final Copa Sudamericana, sebelum dikandaskan oleh San Lorenzo -- yang akhirnya takluk dari sang juara, Chapecoense.
Itulah sekelumit kisah orang-orang Palestina yang justru bahagia di tanah orang. Deportivo Palestino dan tentunya segenap komunitas Palestina di Chile, di kaki Pegunungan Andes sana, tentu tak puas hanya dengan mampu hidup tenang di tanah rantau. Mereka tak pernah melepaskan diri dari akar eksistensi mereka. Meski pada akhirnya hanya menjadi pelipur lara sesaat, setidaknya lewat sepak bola, Palestina tak melulu menjadi pesakitan.

Sepak BolaPalestinaChileDeportivo PalestinoSports

500

Baca Lainnya