• 5

Dari Sheffield Hingga Preston: Mereka yang Punya Kisah di Boxing Day

Dari Sheffield Hingga Preston: Mereka yang Punya Kisah di Boxing Day



Fans Sepak Bola dalam Suasana Natal

Fans Crystal Palace mengenakan atribut Natal di sebuah pertandingan Premier League melawan Chelsea. (Foto: Clive Rose)
Meski belakangan semakin kerap menuai kontroversi, sepak bola di Boxing Day tetap dinanti. Tak hanya mereka di Inggris sana yang menanti, tetapi dengan telah mendunianya liga sepak bola Inggris, khususnya Premier League, laga Boxing Day juga ditunggu-tunggu oleh para penggemar di seluruh dunia.
Untuk menyambut Boxing Day 2016, kumparan telah mengumpulkan sepuluh fakta menarik soal tradisi pertandingan sepak bola di Boxing Day.
1. Semua Berawal dari Sheffield
Sebagai klub sepak bola tertua di dunia, Sheffield FC, menghabiskan tiga tahun pertama mereka sebagai klub sepak bola dengan bertanding secara internal. Pemain-pemain dengan nama belakang A-M melawan mereka yang bernama belakang N-Z, mereka yang telah menikah melawan yang belum, mereka yang punya pekerjaan dan para penganggur, demikian tulis Rob Bagchi dalam kolomnya di The Guardian.
Semua berubah ketika tiga tahun kemudian, muncul sebuah klub baru di belahan lain kota Sheffield. Klub baru itu bernama Hallam FC, dan belum genap empat bulan setelah dibentuk, mereka sudah terlibat dalam sebuah pertandingan antarklub pertama di dunia melawan Sheffield FC. Pertandingan yang dihelat pada Boxing Day tahun 1860 tersebut dihelat di markas Hallam FC, Sandygate Road (yang juga merupakan stadion sepak bola tertua di dunia), dan dimenangi oleh Sheffield FC 2-0.
Uniknya, pertandingan ini tidak dimainkan 11 melawan 11 seperti sepak bola modern, melainkan 16 (pemain Sheffield FC) melawan 20 (pemain Hallam FC). Hal ini terjadi karena pada saat itu belum ada aturan baku dan kedua klub yang bertanding menggunakan aturan kuno bernama Sheffield Rules.
2. Jadi Penegasan Dominasi The Original Invincibles, Preston North End
Ketika Football League pertama kali digulirkan pada musim 1888/89, Boxing Day langsung dimasukkan ke dalam kalender kompetisi. Preston North End, yang pada akhir musim menahbiskan diri sebagai juara tak terkalahkan -- maka dari itu, mereka kemudian dijuluki The Original Invincibles -- harus bertamu ke markas West Bromwich Albion pada 26 Desember 1888. Lima gol dari John Goodall dan James Ross yang masing-masing mencetak dua gol, serta Jack Gordon, membungkam sekitar 5.000 suporter West Brom yang memadati Storey Lane, kandang The Baggies kala itu
3. Sepak Bola Kala Natal yang Membuat Ketagihan
Pada masa di mana hiburan yang bisa dinikmati di rumah masih menjadi barang langka, sepak bola menjadi salah satu sumber hiburan favorit warga Inggris. Momen Natal menjadi salah satu momen di mana orang-orang yang biasa bekerja kemudian memiliki waktu senggang yang cukup banyak. Belajar dari kesuksesan sepak bola di Boxing Day musim 1888/89, pengelola Football League pun kemudian menjadwalkan pertandingan sepak bola pada hari Natal itu sendiri.

Sepak Bola Football League Divisi Satu Abad 19 (Ilustrasi)

Sepak Bola Football League Divisis Satu Abad 19 (Ilustrasi) (Foto: Thomas MM Hemy)
Mulai musim 1889/90, klub-klub di Inggris harus bermain pada hari Natal dan Boxing Day. Akan tetapi, setelah berjalan lebih dari 60 tahun, sepak bola pada hari Natal secara perlahan mulai kurang diminati. Alasannya, karena orang-orang yang ingin menonton pertandingan kesulitan mendapat angkutan pada hari kudus tersebut. Selain itu, semakin mudahnya mendapat hiburan yang bisa dinikmati di rumah membuat orang-orang semakin malas untuk pergi keluar pada hari Natal.
Musim 1957/58 menjadi musim terakhir di mana mayoritas klub di liga menjalani pertandingan pada hari Natal. Pada musim 1959/60, hanya ada dua pertandingan liga yang diselenggarakan pada hari Natal dan setelah itu, pertandingan hari Natal terakhir digelar pada tahun 1965 ketika Blackpool mengalahkan Blackburn Rovers dengan skor 4-2 di Bloomfield Road, Blackpool.
4. Banjir Gol Tahun 1963
Meski dirundung kontroversi akibat (jadi) tiadanya jeda musim dingin, Boxing Day tampaknya akan sulit untuk dihilangkan dari kalender kompetisi Inggris. Salah satu penyebabnya adalah romantisme Boxing Day 1963 di mana pada hari itu, 157 gol tercipta dari 39 pertandingan liga. Dari 157 gol itu, 66 di antaranya tercipta pada sepuluh laga Divisi Satu.
Rekor fantastis itu bisa tercipta berkat hasil-hasil “ajaib” seperti kemenangan 10-1 Fulham atas Ipswich Town, kekalahan 2-8 West Ham United atas Blackburn Rovers, dan hasil imbang 4-4 antara West Bromwich Albion dan Tottenham. Berikut hasil pertandingan lengkap matchday tersebut:
5. Matchday Favorit Manchester United
Berdasarkan penuturan kolumnis sepak bola, Yusuf Arifin, pada musim dingin, klub-klub dari Inggris bagian utara lebih mampu mendulang angka dibanding saingan-saingan mereka dari selatan. Hal ini disebabkan oleh kemampuan tim-tim dari utara memainkan kick and rush dengan lebih baik. Meski dianggap kuno, kick and rush sesungguhnya amat berguna pada periode musim dingin karena dengan terus bergerak, maka kalor (panas) tubuh akan terus terjaga.
Manchester United, salah satu jagoan dari utara, sudah membuktikan hal ini. Di era Premier League saja, dari 22 laga Boxing Day, “Setan Merah” berhasil memenangi 18 di antaranya. Ini berarti, persentase kemenangan klub asuhan Jose Mourinho ini mencapai angka 81,8%.
Kedigdayaan Manchester United di Boxing Day pun ternyata bisa dirunut sampai era Football League. Data dari SkySports yang dirilis pada tahun 2015 pun menunjukkan bahwa Manchester United punya persentase kemenangan terbaik di Boxing Day sepanjang sejarah Liga Inggris dengan 54,95%. Angka itu didapat dari 50 kemenangan yang diraih, dibandingkan dengan total 91 laga yang telah dijalani.
6. Bahaya yang Ditebar Fowler
Bagi suporter Liverpool, Robbie Fowler adalah Tuhan. Wajar saja, mengingat Fowler adalah salah satu pencetak gol paling produktif untuk klub itu. Dari 163 gol yang dicetak Fowler di Premier League, 128 di antaranya ia persembahkan untuk The Reds. Dengan total catatan 183 gol di semua kompetisi untuk Liverpool, Fowler duduk di peringkat keenam tabel pencetak gol terbanyak Liverpool sepanjang masa. Di daftar pencetak gol terbanyak Premier League pun Fowler menduduki peringkat yang sama. Pendek kata, Robbie Fowler adalah salah satu penyerang terbaik yang pernah ada di kompetisi terpopuler sejagat itu.
Khusus urusan Boxing Day, Fowler pun punya catatan spesial. Sampai saat ini, ia adalah pencetak gol terbanyak di hari spesial itu dengan torehan 9 gol. Jumlah itu saat ini paling mungkin disamai oleh Jermain Defoe yang saat ini telah mengoleksi 6 gol di Boxing Day. Mengingat Defoe yang tak lagi muda (meski masih cukup tajam) dan Sunderland, klub tempatnya bermain, yang angin-anginan, sangat mungkin jika rekor Fowler ini bertahan sampai beberapa tahun ke depan.
7. Respek untuk Sang Profesor
Pro dan kontra soal masih tepatkah sosok Arsene Wenger menangani Arsenal sudah menjadi perdebatan menahun yang belakangan mulai membosankan. Memang benar bahwa dalam satu dasawarsa terakhir, Arsenal seperti tak kunjung mampu lepas dari bayang-bayang The Invincibles. Wenger pun jadi pesakitan. Ada yang bilang ia pelit, ada yang bilang metode latihannya kuno, ada pula yang bilang racikan taktik Sang Profesor tak lagi manjur.
Terlepas dari itu semua, pendukung Arsenal (yang masih setia dengan Wenger, tentunya) boleh menepuk dada atas rekor impresif Arsene Wenger di Boxing Day. Sejak mengambilalih tampuk manajerial Arsenal pada musim panas 1996, sudah 16 laga Boxing Day dilakoni manajer asal Prancis tersebut. 11 laga di antaranya berhasil ia menangi sedangkan 5 laga lainnya berakhir dengan 3 hasil imbang dan 2 kekalahan. Ini berarti, Wenger merupakan manajer aktif di Premier League dengan jumlah dan persentase kemenangan terbesar: 68,75%. Cukup baik, bukan?
8. Catatan Hitam Tuan Ranieri
Lain Wenger, lain pula Ranieri. Meski dianggap sebagai salah satu manajer papan atas Premier League, ada satu catatan kelam yang (seharusnya) masih menghantui Claudio Ranieri. Musim ini adalah musim keenam eks-allenatore Juventus itu di Premier League, dan dari lima musim yang telah ia arungi, tak satu pun kemenangan pernah ia bukukan pada laga Boxing Day.

Claudio Ranieri

Ekspresi manajer Leicester City, Claudio Ranieri, dalam sebuah pertandingan Premier League melawan Bournemouth. (Foto: Dan Mullan)
Selama empat tahun membesut Chelsea, Ranieri menelan 2 kekalahan dan hanya mampu meraih 2 hasil imbang. Sementara itu, meski mampu membawa Leicester City menjadi juara Premier League musim lalu, Ranieri pun gagal menang pada laga Boxing Day. Jika menilik performa The Foxes yang masih naik-turun, ada kemungkinan besar bahwa pada musim ini pun Ranieri harus puasa kemenangan di Boxing Day.
9. Mereka yang Belum Beranjak dari Titik Nol
Di daftar peserta Premier League musim ini, ada dua nama “spesial” jika bicara soal laga Boxing Day: Bournemouth dan Watford. Dua nama ini menjadi “spesial” karena dua klub ini sama sekali belum pernah memenangi laga Boxing Day di Premier League.
Untuk Bournemouth, barangkali wajar, mengingat klub ini baru menjalani debut Premier League pada musim lalu. Setidaknya, Bournemouth tidak menelan kekalahan pada laga Boxing Day perdana di Premier League. Sementara itu, Watford yang sebelumnya selalu langsung terdegradasi tiap kali berhasil menapak Premier League belum pernah menang sekali pun pada laga Boxing Day di Premier League. Dengan penampilan yang tak buruk-buruk amat (untuk ukuran Watford), kemungkinan The Hornets untuk mengais kemenangan perdana cukup terbuka musim ini.
10. Tak Hanya Milik Sepak Bola
Seperti sudah disebutkan sebelumnya, sebelum hiburan bisa dengan mudah didapatkan di rumah, masa liburan Natal adalah masa di mana orang-orang bepergian untuk mencari tontonan. Sepak bola boleh jadi yang paling populer, tetapi sepak bola bukan satu-satunya olahraga yang memiliki tradisi bertanding pada Boxing Day.
Selain sepak bola, olahraga-olahraga lain yang memiliki tradisi berlaga di Boxing Day adalah rugbi, pacuan kuda, dan berburu. Khusus berburu, olahraga ini sudah dimainkan jauh sebelum olahraga-olahraga lain dimainkan karena Boxing Day sendiri bertepatan dengan St. Stephen’s Day atau Hari Santo Stefanus yang merupakan santo pelindung kuda-kuda. Orang-orang Inggris memberi penghormatan kepada Santo Stefanus dengan mengendarai kuda untuk berburu rubah.
Sementara itu, mengingat Boxing Day tidak hanya dirayakan di Inggris, melainkan juga di negara-negara persemakmuran, olahraga-olahraga populer di masing-masing negara persemakmuran juga memiliki tradisi bertanding di Boxing Day. Di Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan, misalnya, kriket dipertandingkan pada hari libur tersebut. Bahkan, lomba balap yacht dari Sydney ke Hobart juga dihelat pada Boxing Day.

SportsSepak BolaLiga InggrisBoxing Day

500

Baca Lainnya