Pencarian populer

Di Saat Semua Berlari, AS Roma Masih Merangkak

Pelatih Roma, Eusebio Di Francesco. (Foto: Reuters/John Sibley)

"Musim lalu saya mencetak banyak gol, tetapi musim ini akan jauh lebih sulit. Saya tidak banyak mendapat bola malam ini. Semoga di laga-laga ke depan saya bisa punya lebih banyak kesempatan, sehingga gol saya pun bisa lebih banyak," beber Edin Dzeko usai Roma ditahan imbang Atletico Madrid lebih kurang sebulan yang lalu.

Sepintas, kata-kata Dzeko itu terlihat seperti pembelaan biasa. Biar bagaimana pun, hasil imbang tanpa gol melawan salah satu kesebelasan terkuat di Eropa tentu bukan sesuatu yang memalukan. Selain itu, Atletico Madrid memang dikenal karena pertahanannya yang tangguh. Jadi, tidak mengherankan jika Dzeko kesulitan untuk mengembangkan permainan di laga itu.

Namun, apabila ditelusuri lebih jauh, apa yang dikatakan Dzeko itu sebenarnya merupakan sebuah peringatan. Malam itu, Roma mendominasi penguasaan bola dengan persentase 52%. Akan tetapi, mereka hanya mampu mencatatkan satu upaya tepat sasaran. Sebaliknya, Atletico mampu menciptakan sepuluh.

Atletico memang punya kelebihan di segi itu. Mereka bisa menyerap tekanan lawan dengan baik sebelum melancarkan serangan balik mematikan. Akan tetapi, ketika Roma hanya mampu memaksa Jan Oblak melakukan satu penyelamatan dengan penguasaan bola yang lebih dominan, artinya jelas ada yang salah dari permainan Roma sejauh ini.

Sulitnya Roma menciptakan peluang memang jadi masalah besar pada musim ini dan hal itu pada akhirnya berimbas pada menurunnya catatan gol mereka. Musim lalu, I Lupi adalah kesebelasan paling produktif di Serie A dengan 94 gol. Jika dirata-rata, dalam satu pertandingan mereka bisa mencetak 2,47 gol.

Lalu, dalam delapan giornata Serie A, Roma musim lalu bisa menyarangkan 19 gol yang berarti 2,38 gol per pertandingan. Musim ini? Sampai giornata kedelapan ini, Roma hanya mampu mencetak 14 gol atau 1,75 gol per laganya.

Kalau mau bicara soal hasil akhir, sebenarnya Roma tidak lebih buruk dibanding musim lalu. Minus laga melawan Sampdoria yang masih tertunda, Roma sudah kalah dua kali, sama seperti catatan musim lalu dalam delapan pekan. Sisanya, mereka mampu meraih kemenangan. Apabila mereka mampu meraih kemenangan melawan Sampdoria, mereka malah bisa punya catatan lebih baik dibanding musim lalu.

Namun, menurunnya jumlah gol itu bakal sangat mengkhawatirkan musim ini, mengingat semakin meningkatnya kualitas rival-rival mereka di Serie A seperti Lazio, Internazionale, dan tentunya, Napoli.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat Roma mengalami penurunan?

Edin Dzeko gagal menyelamatkan Roma. (Foto: Reuters/Ciro De Luca)

Dzeko menyebut kehilangan Mohamed Salah menjadi faktor utama penurunan tersebut dan kapten Tim Nasional Bosnia-Herzegovina itu sama sekali tidak berlebihan. Pasalnya, Mohamed Salah adalah kreator terbaik Roma pada musim lalu dengan catatan 11 assist-nya. Selain itu, pemain andalan Timnas Mesir itu juga mampu mencetak 15 gol.

Dzeko sendiri bertanggung jawab atas 38 gol Roma di liga pada musim lalu dengan 29 gol dan 9 assist-nya. Jika dipadukan dengan catatan Salah, berarti mereka terlibat dalam 68% gol Roma (64 gol). Sedangkan, pada musim ini Dzeko benar-benar mengangkat Roma sendirian. Dari 14 gol Roma di liga, Dzeko punya andil pada 8 di antaranya (57%).

Ketergantungan macam ini jelas tidak sehat dan buktinya terlihat pada laga melawan Atletico itu. Ketika Dzeko dimatikan, habislah Roma. Apabila musim lalu ada Mohamed Salah yang bisa memberi alternatif kala sang juru gedor utama dimatikan, kini mereka tidak punya sosok semacam itu. Baik Diego Perotti, Stephan El Shaarawy, maupun Gregoire Defrel sama sekali belum bisa menunjukkan kualitas sebagai pengganti sepadan bagi Salah.

Lalu, apakah hanya ini yang membuat Roma menurun?

Mohamed Salah melakukan selebrasi. (Foto: Reuters/Phil Noble)

Tentu tidak. Masalahnya, ada satu perubahan fundamental yang dilakukan Eusebio Di Francesco pada tim Roma-nya, yakni bagaimana dia mengutilisasi Radja Nainggolan.

Di bawah Luciano Spalletti, Nainggolan dimainkan sebagai gelandang serang di belakang Dzeko. Dari situ, pemain berpaspor Belgia itu menjelma menjadi salah satu gelandang paling produktif di dunia dengan 11 gol di kancah Serie A. Namun, oleh Di Francesco pemain 29 tahun itu dipasang sebagai satu dari trio gelandang tengah bersama Daniele De Rossi, Lorenzo Pellegrini, atau Kevin Strootman.

Untuk memainkan skema favoritnya, Di Francesco menihilkan posisi sekaligus peran yang membuat Nainggolan menjadi salah satu gelandang terbaik dunia. Ini tentu saja menjadi masalah karena setelah Mo Salah hengkang dan Edin Dzeko kehilangan tandem sehati, Nainggolan yang jadi penyokong pun ditarik ke belakang. Manuver Roma, terutama di area depan kotak penalti, pun menjadi lebih terbatas.

Masalah tidak berhenti di sini. Musim ini, Roma tampil dengan banyak sekali pemain baru. Namun, dari daftar pemain-pemain baru tersebut yang benar-benar sudah bisa membuat impak adalah Lorenzo Pellegrini, Aleksandar Kolarov, dan Cengiz Uender. Sementara, Maxime Gonalons, Hector Moreno, Rick Karsdorp, bahkan sang pemain termahal, Patrik Schick, sama sekali belum memberi kontribusi.

Dari sini, kebijakan Monchi sebagai direktur olahraga pun sebenarnya bisa dipertanyakan. Yang paling gamblang tentu saja adalah: Apakah pemain-pemain baru tersebut memang didatangkan sesuai dengan pesanan serta kebutuhan Eusebio Di Francesco atau tidak?

Kebijakan transfer Monchi patut dipertanyakan. (Foto: Reuters/Alberto Lingria)

Dengan berbagai pertanyaan yang masih belum terjawab ini, Roma bakal bertandang ke markas Chelsea, Stamford Bridge dalam laga matchday ketiga fase grup Liga Champions. Chelsea sendiri bukan tanpa masalah karena mereka saat ini punya skuat yang tidak terlalu dalam dan celakanya, pemain-pemain kunci mereka seperti N'Golo Kante dan Victor Moses pun tengah cedera.

Namun, Chelsea sendiri saat ini sudah punya taktik yang lebih matang, terbukti dari gelar Premier League yang mereka raih musim lalu. Meski bakal tampil dengan tidak diperkuat sejumlah pemain kunci, mereka kini sudah kembali memiliki Eden Hazard yang sempat begitu dirindukan pada awal-awal musim.

Tidak hanya itu, Antonio Conte sendiri saat ini sudah semakin berpengalaman di Eropa, terbukti dari keberhasilannya mengalahkan Atletico Madrid di Wanda Metropolitano. Sebaliknya, Eusebio Di Francesco adalah pelatih debutan. Roma pun bisa sampai ke sini bukan karena andilnya, melainkan karena andil Spalletti. Selain itu, sebagai pelatih, Di Francesco pun belum pernah bisa mengalahkan Conte, setidaknya di ajang liga, entah itu di Serie B maupun Serie A.

Akan tetapi, bukan berarti Roma sama sekali tidak punya peluang. Pasalnya, di tangan Crystal Palace pun Chelsea yang compang-camping ini bisa keok. Dengan sikap yang tepat, di atas kertas Roma seharusnya bisa lebih punya kans mengejutkan Gary Cahill dan rekan-rekan.

Dari segi pengalaman pelatih, Conte tentu saja unggul. Akan tetapi, dari segi pengalaman pemain, pasukan Di Francesco sama sekali tidak kalah. Di sini, setidaknya, para pemain Roma seperti De Rossi, Dzeko, Nainggolan, dan Strootman tidak akan minder menghadapi Chelsea dan sikap yang tepat ini, kalau memang tidak bisa muncul dari diri Di Francesco, seharusnya bisa datang dari para pemain-pemain Roma yang berpengalaman ini.

=====

Laga matchday ketiga Grup C Liga Champions Chelsea vs Roma akan digelar pada Kamis (19/10/2017) pukul 01.45 dini hari WIB.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: