• 0

Dua Dekade Inter dan Lazio

Dua Dekade Inter dan Lazio



Jose Marcelo Salas

Jose Marcelo Salas mencetak gol ke gawang Sebastien Frey di Stadion Olimpico, Roma. (Foto: Grazia Neri/Allsport)
Serie A adalah Premier League-nya dekade 1990-an. Bagi kalian yang belum cukup tua untuk pernah menyaksikan mewahnya Liga Italia Serie A kala itu, kumparan ingin mengajak kalian semua sedikit melongok ke belakang. Tak perlu jauh-jauh, cukup dua puluh tahun saja.
***
Massimo Moratti muda menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Internazionale, klub sepak bola milik bapaknya, Angelo, menaklukkan Eropa. Tampil di pentas akbar Piala Eropa (sekarang bernama Liga Champions), Inter, begitu klub ini biasa disebut, menjadi salah satu klub paling ditakuti pada dekade 1960-an dulu.
Ketika ia beranjak dewasa dan menjadi kaya raya seperti bapaknya, Massimo Moratti pun berusaha untuk mewujudkan mimpinya: menaklukkan Eropa bersama Inter. Dulu, ketika masih muda, ia menyaksikan legenda-legenda seperti Jair, Luis Suarez, Armando Picchi, Tarcisio Burgnich, Angelo Domenghini, dan Giacinto Facchetti berlaga. Menciptakan skuat bertabur bintang seperti itulah yang akhirnya menjadi cara Moratti untuk mewujudkan mimpinya.
Tahun 1995, persis tiga dekade sejak Inter terakhir kali mengangkat trofi Piala Eropa dan Piala Interkontinental, Moratti mengambilalih I Nerazzurri dari Ernesto Pellegrini. Tak buang-buang waktu, galactico-isasi Inter pun dimulai.

Ronaldo

Ronaldo merayakan gol ke gawang AC Milan (Foto: Claudio Villa/Allsport)
Dalam kurun waktu yang kurang lebih sama, gerak-gerik “mencurigakan” juga muncul dari ibu kota Italia, Roma. Dari hasil berjualan makanan ringan, Sergio Cragnotti berhasil mengumpulkan uang untuk mengakuisisi sebuah klub sepak bola. Cirio nama merek makanan ringan itu, Lazio nama klub sepak bolanya.
Di bawah komando Cragnotti, Lazio bersalin rupa. Mereka memang pernah jadi juara pada medio 1970-an, tetapi kemudian, seiring pula dengan kepergian Giorgio “Long John” Chinaglia, Lazio meredup. Cragnotti pun memimpin kebangkitan klub yang pernah menentang Benito Mussolini tersebut. Dari klub sekadarnya, Lazio (nantinya) ia bawa menjadi satu dari Il Sette Magnifico Serie A.
Baik Moratti maupun Cragnotti tak membutuhkan waktu lama untuk mengangkat kembali pamor Inter dan Lazio. Jika Moratti mendatangkan pemain-pemain seperti Javier Zanetti, Diego Simeone, Ivan Zamorano, dan Luis Ronaldo, Cragnotti pun tak mau kalah. Pavel Nedved, Sinisa Mihajlovic, Christian Vieri, dan Juan Sebastian Veron menjadi contoh deretan bintang yang pernah digaet Cragnotti.
***
Lima belas tahun sejak menjadi Moratti kedua yang memimpin Inter, Massimo akhirnya mendapat apa yang selalu ia impikan: sebuah gelar Liga Champions. Di saat yang bersamaan, Lazio sudah (nyaris) tak pernah diperhitungkan lagi sebagai kandidat juara Italia. Masa keemasan Lazio sudah habis sejak Cirio bangkrut dan Sergio Cragnotti akhirnya diseret ke meja hijau pada awal 2000-an.

Sergio Cragnotti

Sergio Cragnotti dan para pemain Lazio merayakan kemenangan di Coppa Italia (Foto: Claudio Villa/Allsport)
Claudio Lotito, presiden Lazio saat ini, dikenal pelit. Setidaknya begitu, menurut para suporter Lazio. Namun, Lotito punya dalih yang kuat. Ia tidak ingin Lazio tersungkur lagi seperti dulu ketika keuangan Cragnotti mendadak megap-megap. Saat ini, Lazio memang tak sehebat dulu, tetapi setidaknya performa mereka cukup stabil.
Moratti sendiri akhirnya turun takhta. Setelah mengeluarkan uang yang entah berapa jumlahnya selama lebih dari 20 tahun, kantong Moratti pun kempis. Kini, meski masih sesekali terlibat, Moratti bukan lagi pemilik Inter. Klub yang berdiri pada 1909 tersebut saat ini dimiliki oleh Suning Group dari China dan Erick Thohir dari Indonesia.
***
Dini hari nanti (22/12/2016), Inter akan menjamu Lazio di San Siro, Milan. Jika menilik dari posisi di klasemen, Lazio lebih layak untuk diunggulkan. Di bawah asuhan ekspenyerang mereka, Simone Inzaghi, Lazio tampil cukup apik musim ini dan kini ada di peringkat keempat. Sementara itu, Inter yang belum kunjung stabil masih tercecer di peringkat ketujuh.
Laga ini barangkali takkan semenarik laga Inter vs Lazio pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, terutama bagi para penonton biasa. Mungkin, hanya para Interista, Laziale, dan penggemar berat Serie A saja yang masih sudi menyaksikan laga Inter vs Lazio pada 2016. Mungkin.
Nah, untuk mengingatkan bahwa pada suatu masa, laga Inter vs Lazio pernah semenarik Chelsea vs Manchester City, kami sudah mengubek-ubek daftar pemain yang pernah bermain baik untuk Inter maupun Lazio. Dari daftar yang cukup panjang itu, kami menyusun tiga Best XI dalam kurun waktu 20 tahun terakhir: Best XI Inter, Best XI Lazio, dan Best XI gabungan.
Best XI ini kami susun berdasarkan performa serta konsistensi para pemain ketika membela Inter maupun Lazio, jadi jangan harap ada nama Andrea Pirlo, Clarence Seedorf, Gaizka Mendieta, dan Ivan de la Pena di sini. Silakan dinikmati, dinilai, dan dikritisi!
Best XI Inter (4-3-3): Toldo; Maicon, Lucio, Materazzi, Zanetti; Cambiasso, Sneijder, Stankovic; Ronaldo, Ibrahimovic, Diego Milito.
Pelatih: Jose Mourinho

Best XI Lazio (4-3-1-2): Marchegiani; Oddo, Nesta, Stam, Mihajlovic; Simeone, Veron, Nedved; Hernanes; Crespo, Vieri.
Pelatih: Sven-Goran Eriksson

Best XI Gabungan (4-4-2): Told;, Maicon, Nesta, Lucio, Zanetti; Simeone, Veron, Sneijder, Nedved; Ronaldo, Ibrahimovic.
Pelatih: Jose Mourinho

SportsSepak BolaLiga ItaliaInter MilanLazio

500

Baca Lainnya