• 0

Ini Soal Atletico Nacional, Bukan Pablo Escobar

Ini Soal Atletico Nacional, Bukan Pablo Escobar



Atletico Nacional

Pemain-pemain Atletico Nacional merayakan kemenangan atas Club America (Foto: Matt Roberts)
Sejak pertengahan tahun 2016, nama Atletico Nacional de Medellin cukup banyak mendapat porsi pemberitaan di media massa. Dimulai dari keberhasilan mereka menembus babak final Copa Libertadores bersama Independiente del Valle, klub asal Ekuador. Dalam final “kejutan” tersebut, Atletico Nacional berhasil keluar sebagai pemenang. Gelar juara itu menjadi gelar Copa Libertadores pertama mereka sejak 1989.
Empat bulan berselang, nama Atletico Nacional kembali menjadi buah bibir. Sayang, bukan prestasi yang membuat nama klub asal kota Medellin itu kembali diperbincangkan. Nama mereka kembali mencuat lantaran sebuah tragedi.
Tanggal 29 November 2016 lalu, laga final Copa Sudamericana antara Atletico Nacional dan klub debutan asal Brasil, Chapecoense, seharusnya digelar. Akan tetapi, belum sempat menapakkan kaki di Medellin, rombongan Chapecooense yang menumpang pesawat sewaan LaMia 2933 gugur. Pesawat yang bertolak dari Bolivia tersebut diduga kehabisan bahan bakar dan akhirnya jatuh di daerah pegunungan dekat kota La Union, Kolombia.
Di tengah rundungan duka, partai final pun urung digelar dan sebagai bentuk penghormatan, gelar juara akhirnya diberikan kepada Chapecoense. Tanpa pretensi apa-apa, Atletico Nacional pun rela gelar itu melayang ke Chapeco. Tak apa, toh sebelumnya trofi Copa Libertadores sudah mereka amankan, dan dengan gelar itu, mereka pun berhak mewakili Amerika Selatan di Piala Dunia Antarklub.
Buah dari Bibit yang Ditanam Pablo Escobar
Sebagai klub yang notabene bermarkas di luar dua poros sepak bola Amerika Selatan, Brasil dan Argentina, Atletico Nacional memang cukup mengejutkan dunia pada tahun ini. Apa yang mereka tunjukkan seakan mengubah stigma yang muncul akibat kekuatan mafia yang berada di balik layar mereka sekitar tiga dekade lalu.
Mengejutkannya Atletico Nacional tahun ini sama mengejutkannya dengan apa yang mereka tunjukkan pada medio 1980-an lalu. Meski selalu tampil di panggung divisi utama Liga Kolombia, tidak ada prestasi membanggakan yang dimiliki Atletico Nacional
.Namun, pandangan sebelah mata yang biasa diterima Atletico Nacional sontak hilang seiring dengan mencuatnya satu nama baru di dunia kriminal Kolombia: Pablo Escobar. Sebagai gembong heroin dengan wilayah operasi sampai ke Amerika Serikat, Escobar justru mampu mengubah persepsi buruk yang muncul terhadap mafia di kalangan penggemar sepak bola lokal.

Pablo Escobar

Pablo Escobar tersenyum saat fotonya diambil oleh Kepolisian Nasional Kolombia (Foto: Policia Nacional de Colombia)
Escobar yang basis operasinya berada di Medellin secara tidak langsung menjadikan Atletico Nacional sebagai klub favoritnya. Bukan hanya menjadikan Atletico Nacional klub besar di kompetisi sepak bola Kolombia, ia juga mampu membuat Atletico Nacional menjadi klub yang benar-benar “ditakuti”, dengan kerap tampil sebagai motivator di sisi lapangan.
Dijelaskan oleh Jaime Gaviria, sepupu Pablo Escobar di film The Two Escobars, “Dia adalah raja dari segala raja. Penguasa dunia bawah tanah.” Escobar pun ditakuti oleh banyak orang dan apa yang diinginkan oleh pria yang lahir pada 1 Desember 1949 tersebut, lebih baik diikuti saja.
Plato o plomo. Perak atau timah. Harta atau nyawa. Frasa itu menjadi identik dengan sosok Pablo Escobar saking seringnya ia ucapkan ketika ia sedang “bernegosiasi”. Dengan Escobar, pilihan memang selalu ada, tetapi orang yang memilih plomo alias pelor sebagai opsi nyaris tidak ada.
Meski demikian, lanjut Gaviria, Escobar bukanlah sosok yang 100% memiliki kebengisan. Masih ada rasa manusiawi yang dimiliki oleh pria seperti Escobar. Hal tersebut secara tidak langsung membuatnya dicintai oleh kaum marginal Kolombia.
Pendidikan dan kemiskinan menjadi hal yang tak luput dari perhatian Escobar. Di dunia olahraga, terutama sepak bola, ia rutin menginisiasi pembuatan lapangan baru di pelosok-pelosok. Tak lupa, ia juga kerap mengundang pemain Atletico Nacional melawat ke daerah-daerah demi membangkitkan motivasi bermain anak-anak pinggiran.
Tak hanya menjalin kedekatan dengan masyarakat yang dalam sepak bola tampil sebagai konsumen, Escobar juga selalu berusaha membuat pemain Atletico Nacional selalu tampil penuh gelora di lapangan.
“Dia (Escobar) memberi mereka gaji yang tinggi. Dia selalu berupaya membuat pemain senang. Itu  bukanlah pesta pertama yang diadakan oleh Escobar untuk para pemain,” lanjut Gaviria, merujuk pada pesta yang diadakan oleh Escobar menyambut keberhasilan Atletico Nacional juara Copa Libertadores.
Dampak keberadaan Escobar memang cukup besar. Namun demikian, cap buruk yang terlanjur melekat justru membuat Atletico Nacional kerap disebut memanfaatkan pengaruh Escobar sehingga setiap lawan mereka takut.
Mencoba Berdiri di Atas Kaki Sendiri
Meninggalnya Escobar pada 2 Desember 1993 akibat diburu oleh pasukan keamanan Kolombia yang dibantu Amerika Serikat, sejenak meninggalkan luka yang cukup pedih bagi Atletico Nacional. Tampil bak sosok nomor satu di klub, Escobar memang memegang peran yang cukup penting untuk klub ini. Meninggalnya Escobar pun secara tidak langsung menjatuhkan posisi klub ke titik nadir.
Musim 2009 menjadi musim terkelam dalam sejarah Atletico Nacional. Tanpa kekuatan uang dan keberadaan pemain bintang, Los Verdolagas hampir jatuh ke lubang degradasi. Dari 18 pertandingan di putaran pertama, mereka hanya mampu memperoleh tiga kemenangan. Beruntung, di putaran kedua semuanya membaik dan mampu menghindari demosi.
Kebutuhan mendesak akan keberadaan sosok penyelamat akhirnya benar-benar terpenuhi pada musim 2012 setelah Juan Carlos Osorio masuk sebagai pelatih. Keberadaan Osorio yang kenyang pengalaman melatih klub-klub Kolombia seakan menjadi penanda bahwa Atletico Nacional telah menemukan sosok yang tepat.
Osorio berhasil menciptakan sebuah kombinasi harmonis antara para pemain senior dan nama-nama baru di Atletico Nacional. Baru semusim menduduki jabatan tersebut, Atletico Nacional berhasil menjadi juara Torneo Apertura maupun Torneo Finalizacion di Liga Kolombia Categoria Primera A.
Pelatih berlatarbelakang pendidikan performa atlet ini bukan hanya berhasil menciptakan skuat yang memiliki rasio kemenangan bagus, tapi juga penuh potensi. Juan Fernando Quintero dan Marlos Moreno menjadi contoh bagaimana Osorio mampu memproduksi pemain-pemain muda yang kelak diperebutkan klub-klub besar Eropa.
Fondasi yang dibangun Osorio mampu dilanjutkan dengan sempurna oleh pelatih Atletico Nacional saat ini, Reinaldo Rueda. Tanpa masalah yang berarti, ekspelatih Timnas Ekuador ini mampu membuat Atletico Nacional yang sebagian besar skuatnya nama-nama asing lebih berkembang.
Setahun sejak dilantik, Rueda mampu mengembalikan muruah Atletico Nacional di kompetisi kontinental. Dua final kejuaraan besar di Amerika Selatan, Copa Libertadores dan Copa Sudamericana, berhasil mereka dapatkan. Mereka sekarang sudah benar-benar mampu berdiri di atas kaki sendiri.
***
Tragedi Chapecoense memberikan pelajaran bagi mereka bahwa tidak ada waktu untuk bersedih. Selang beberapa pekan, Atletico Nacional harus berlaga di Piala Dunia Antarklub.
Sayang, pada laga perdana melawan Kashima Antlers, yang lolos setelah mengalahkan Mamelodi Sundowns, Atletico Nacional justru kalah dengan skor 0-3. Namun, kekalahan yang agak mengejutkan tersebut pada akhirnya mampu mereka tebus lewat kemenangan atas Club America dalam perebutan tempat ketiga. Laga itu sendiri dimenangi Atletico Nacional lewat drama adu penalti.
Prestasi cemerlang Atletico Nacional pada tahun 2016 ini adalah sebuah pembuktian bahwa dalam sepak bola -- dan dalam hidup tentunya -- harga yang harus dibayar untuk sebuah jalan pintas seringkali amat mahal. Terlalu mahal, bahkan. Tanpa gelontoran uang panas Escobar pun nyatanya klub berseragam putih-hijau ini mampu kembali bersinar. Tak ada yang tahu sampai kapan hal ini akan bertahan, tetapi selagi ada, nikmati saja.

SportsSepak BolaPiala Dunia AntarklubAtlético Nacional

500

Baca Lainnya