• 5

Juventus Memang Sudah Mulai Terengah

Juventus Memang Sudah Mulai Terengah



Giorgio Chiellini

Bek Juventus, Giorgio Chiellini, terbaring lemas usai klubnya dikalahkan Milan di Piala Super Italia, Jumat (23/12/2016) lalu. (Foto: AK Bijuraj)
Sampai dengan musim lalu, Milan masih menjadi salah satu bahan olok-olokan favorit Juventini. Akan tetapi, dua kekalahan yang diderita "Si Nyonya Tua" dari seteru beratnya itu mau tidak mau harus dijadikan bahan evaluasi. Juventus, meski berhasil mendatangkan nama-nama besar pada musim panas lalu dan kini juga masih bercokol di puncak klasemen Serie A Italia, tengah bermasalah.
Masalah yang dialami Juventus jelas tak sekompleks apa yang ada di Internazionale, misalnya. La Vecchia Signora tidak memiliki masalah apa pun dengan manajemen klub. Dari setengah musim yang telah dilalui hingga saat ini, masalah yang paling jelas terlihat adalah bagaimana skuat Juventus semakin menua. Selain itu, ada sedikit indikasi bahwa meski spektakuler, transfer Juventus pada musim ini sebenarnya tidak terlalu cerdas.
Prahara Lichtsteiner dan Evra
Ketika Dani Alves didatangkan dari Barcelona dengan status bebas transfer, Stephan Lichtsteiner sempat merajuk. Tak tanggung-tanggung, kapten Tim Nasional (Timnas) Swiss ini bahkan meminta dijual ke seteru abadi Juventus, Internazionale. Hal ini sedikit mengingatkan kita pada kasus Gabriel Heinze yang meminta kepada Mancheser United agar dijual ke Liverpool pada tahun 2007. Heinze ketika itu akhirnya dilepas ke Real Madrid.
Lichtsteiner memang akhirnya tidak dilepas. Mungkin, ada sedikit perasaan sentimental di sini. Lichtsteiner, harus diakui, adalah bagian penting dari kebangkitan kembali Juventus pasca-Caclciopoli. Selain itu, Lichtsteiner juga sempat menjalani operasi janntung pada pertengahan musim lalu dan dianggap para suporter sebagai petarung sejati. Hal-hal nonteknis macam ini yang sepertinya kemudian menjadi pertimbangan jajaran manajemen Juventus untuk mempertahankan The Swiss Express.
Sudah dipercaya, Lichtsteiner justru tampil mengecewakan. Musim ini, tak terlihat sama sekali apa yang biasa ditunjukkannya musim-musim sebelumnya. Dia seringkali kewalahan dalam mengkover area luas di pos wingback kanan yang sebelum-sebelumnya dapat dengan mudah dia lakukan.
Ketika melawan Inter, misalnya. Setelah mencetak gol pembuka, tenaganya seperti habis. Posisi yang dihuninya pun kemudian menjadi sasaran bombardir para pemain Inter. Gol kemenangan Inter yang dicetak Ivan Perisic pun berawal dari alpanya Lichtsteiner mengawal areanya. Cedera yang baru-baru ini diderita Dani Alves membuat Lichtsteiner kemudian menjadi satu-satunya pemain Juventus di pos bek kanan dan celakalah Juventus.
Jika di kanan ada Lichtsteiner, di sisi seberang ada Patrice Evra.
Sebagai sosok pria, Patrice Evra adalah sosok yang menyenangkan dan disukai banyak orang. Sejak di Manchester United dulu, sapaan uncle alias paman sudah melekat pada pria asal Prancis ini. Namun, sebagai pesepak bola, masa keemasan Evra sudah lama lewat. Ketika pertama kali datang ke Juventus pada 2014, Evra merupakan pemain inti. Alex Sandro -- yang kini merupakan andalan tak tergantikan di pos bek dan wingback kiri -- sempat harus sedikit bersabar untuk menggeser Evra dari starting XI. Akan tetapi, Evra memang semakin menua dan meski masih menjadi salah satu senatori (pemain senior yang dihormati dan vokal di ruang ganti), seharusnya dia sudah tak punya lagi tempat di klub sekelas Juventus.
Lini Tengah yang Tak Lagi Menakutkan
Bagi Juventus, uang 105 juta euro yang mereka terima kala melego Paul Pogba ke klub lamanya, Manchester United, rasanya masih terlalu kecil. Penyebabnya: memang hanya ada satu pemain seperti si Pogba ini.
Setelah kehilangan Andrea Pirlo yang berlabuh ke New York dan Arturo Vidal yang menyeberang ke Bayern Muenchen dua muim lalu, Paul Pogba-lah yang kemudian menjadi motor utama serangan Juventus. "Si Nyonya Tua" memang masih memiliki Claudio Marchisio dan Sami Khedira yang notabene memiliki nama besar, tetapi kedua nama ini, khususnya Marchisio, lebih akrab dengan cedera. Khedira sendiri sulit diandalkan untuk mengkreasi serangan karena pada dasarnya, dia memang bukan sosok kreator.
Dengan trio Marchisio-Pogba-Khedira di lini tengah, Juventus mampu menyegel gelar scudetto untuk kelima kalinya berturut-turut pada musim lalu. Meski sempat tersendat, La Vecchia Signora akhirnya mampu tancap gas dan berpesta pada akhir musim.
Musim panas lalu, Pogba akhirnya dilepas. Rumornya memang sudah santer terdengar sejak beberapa musim lalu. Wajar, karena Pogba memang komoditi sepak bola terpanas saat ini. Tak hanya soal kemampuan menyepak Si Kulit Bulat, potensi Pogba untuk menarik fulus juga jadi pertimbangan tersendiri. Alhasil, meski banyak pihak yang mencela harga Pogba, tak sedikit pula yang menganggap bahwa harga 105 juta euro itu wajar mengingat potensi pemasukan yang bisa didapatkan lewat mantan pemain Le Havre ini.
Saat ini, Pogba memang belum menunjukkan bahwa ia pantas dihargai 105 juta euro, tetapi perlahan, seiring dengan membaiknya performa klubnya saat ini, Manchester United, performa Pogba pun mulai menanjak.
Sebaliknya, Juventus, meski masih mampu memuncaki klasemen Serie A, lini tengahnya selalu kesulitan untuk mengembangkan permainan. Kesulitan yang dialami Juventus memang tak kasatmata mengingat rataan penguasaan bola mereka masih ada di angka 54%. Akan tetapi, ketika menghadapi tim yang kelasnya (hampir) sama, Juventus selalu kesulitan. Mereka memang berhasil menang atas Roma, namun harus menelan dua kali kekalahan dari duo Milan. Ketika menang atas Roma itu pun, lini tengah Juventus dapat dengan mudah diredam dan ditaklukkan oleh lini tengah Roma. Bermain di kandang sendiri, persentase penguasaan bola Juventus hanya mencapai angka 39%. Ketika kalah dari Milan dalam perebutan Piala Super Italia lalu, Juve pun gagal mendominasi karena hanya mencatatkan persentase sebesar 49%.
Pembelian Miralem Pjanic yang diharapkan mampu meningkatkan daya kreasi I Bianconeri di lini tengah juga ternyata belum mampu membantu Juventus untuk bisa kembali dominan. Bukan salah Pjanic sebenarnya, karena pemain Bosnia & Herzegovina ini sendiri sebenarnya tampil impresif musim ini. Berdasarkan statistik yang diambil dari WhoScored, Pjanic adalah penampil terbaik kedua Juventus setelah Alex Sandro.
Dengan formasi 4-3-1-2 yang kini kerap digunakan Allegri, ada tiga gelandang tengah yang seharusnya mampu menyokong Pjanic dengan baik, tetapi baik Stefano Sturaro, Mario Lemina, maupun Hernanes, ternyata tidak cukup bagus untuk mendampingi Marchisio dan Khedira sebagai penyokong Pjanic. Tak heran jika kemudian manajemen Juventus masih berusaha untuk memburu setidaknya satu gelandang tengah baru dalam diri Axel Witsel, Steven N'Zonzi, hingga Roberto Gagliardini.
Minimnya Stok di Lini Depan
Saat ini, Juventus hanya memiliki tiga pemain depan senior di skuatnya: Mario Mandzukic, Gonzalo Higuain, dan Paulo Dybala. Winger Kolombia, Juan Cuadrado, sebenarnya juga bisa dimasukkan ke daftar, tetapi oleh Allegri, dia lebih sering dimainkan sebagai wingback kanan dalam formasi 3-5-2. Sementara itu, winger muda asal Kroasia, Marko Pjaca, selain memang belum mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Allegri, juga belum pulih dari cedera yang dia dapatkan saat memperkuat timnas.
Higuain sendiri didatangkan dari Napoli sebagai pemain termahal Serie A. Sejauh ini, ia memang sudah mampu membuktikan harga mahalnya dalam beberapa kesempatan, termasuk ketika mengalahkan Roma dan menundukkan Fiorentina -- di mana ia mencetak gol hanya 9 menit setelah masuk sebagai pemain pengganti.
Mandzukic pun demikian. Penyerang Timnas Kroasia ini tak hanya agresif dalam menyerang, tetapi juga mau "repot-repot" membantu pertahanan. Workrate pemain bernomor punggung 17 ini memang menjadi senjata utamanya. Golnya memang tak banyak. Sejauh ini, ia baru mengoleksi 5 gol dari 16 laga, tetapi keterlibatannya dalam permainan inilah yang membuatnya jadi sosok kunci.
Permasalahan kemudian ada di Paulo Dybala. Pemain yang pada musim lalu tampil begitu menawan kali ini harus bergelut dengan cedera. Bukan salah dia memang, tetapi tanpa Dybala, yang notabene merupakan satu-satunya penyerang kreatif di kubu Juventus, seringkali lini depan Juventus kesulitan untuk membongkar pertahanan rapat lawan.
Kemenangan Juventus dalam Derby della Mole dua pekan silam menunjukkan betapa Juventus sangat membutuhkan pemain seperti Dybala. Pada laga itu, Dybala melakukan comeback dari bangku cadangan dan berhasil mengubah gaya menyerang Juventus. Ia mampu menjadi katalisator serangan yang tidak dimiliki Juventus ketika dia harus absen.
***
Segala macam permasalahan yang melanda Juventus tersebut menunjukkan bahwa dalam waktu dekat ini, Juventus sudah harus segera meremajakan kembali skuatnya. Juventus harus menerima fakta bahwa beberapa dari pemain yang sebelum-sebelumnya masih diandalkan, memang sudah harus disingkirkan dan dicari gantinya. Jika tidak, terengah-engahnya Juventus saat ini bisa jadi awal dari kolapsnya mereka di kemudian hari.

Sepak BolaLiga ItaliaJuventusAC MilanSports

500

Baca Lainnya