• 1

Ketika Arsenal yang Membosankan Itu Menaklukkan Eropa

Ketika Arsenal yang Membosankan Itu Menaklukkan Eropa


Arsenal vs Parma

Matchday programme Arsenal vs Parma. (Foto: Dok. Arsenal)

David Seaman boleh jadi merupakan salah satu penjaga gawang terbaik yang pernah dilahirkan Inggris. Akan tetapi, sepak bola akan selamanya mengingat dirinya sebagai kiper yang dikadali Ronaldinho lewat tendangan lob dari jarak 32 meter pada perempat final Piala Dunia 2002.
Momen itu, pada akhirnya, jadi momen paling ikonik dalam karier Seaman. Meski dia juga pernah melakukan penyelamatan luar biasa kala menghadapi Sheffield United pada Piala FA 2002/03, apa yang dilakukan Ronaldinho itu benar-benar menodai reputasi Seaman.
Walau begitu, menurut Seaman bukan aksi Ronaldinho itulah yang paling menyakitkan. Menurut pria kelahiran 53 tahun lalu itu, momen yang paling membuatnya terpukul terjadi pada tahun 1995.


***
Ada suatu masa di mana manajer Arsenal bukanlah Arsene Wenger. Sudah lama sekali, memang, karena Sang Profesor sudah membesut "Meriam London" sejak 21 tahun lalu. Sebelum era Wenger ini, Arsenal sempat selama sembilan tahun dilatih oleh seorang pria bernama George Graham.
Inilah masa yang kemudian identik dengan frasa "Boring, Boring Arsenal". Pasalnya, sebagai manajer, Graham memang sosok yang berkebalikan dengan Arsene Wenger. Jika Wenger selalu berusaha supaya timnya tampil menyerang dengan atraktif, Graham tidak begitu. Bagi pria asal Skotlandia itu, safety first adalah jargon yang tak henti-hentinya dikumandangkan, meski kala aktif bermain dulu, Graham adalah seorang penyerang sayap.
Tahun 1995 adalah tahun terakhir Graham membesut Arsenal. Namun, ketika itu perpisahan kedua pihak ini tidak terjadi secara baik-baik. Pada Februari 1995, lewat investigasi yang dilakukan pihak Premier League, diketahui bahwa sang manajer menerima uang suap senilai 400 ribu dolar dalam proses transfer John Jensen dan Pal Lydersen. Seketika itu juga, Graham dipecat.

George Graham

George Graham dengan trofi Piala FA. (Foto: Dok. Arsenal)

Dipecatnya Graham itu memperparah situasi klub yang juga sedang kacau balau. Ketika dia dipecat itu, Arsenal sedang duduk di peringkat ke-10 klasemen sementara dan nantinya, di bawah caretaker Stewart Houston, Arsenal mengakhiri musim di peringkat ke-12.
Musim itulah yang kemudian menjadi musim terakhir tanpa perayaan St. Totteringham's Day sebelum akkhirnya hal itu terulang pada musim lalu. Selain itu, The Gunners juga hanya unggul enam angka dari Crystal Palace yang terdegradasi ke Divisi Satu.
Meski begitu, Arsenal ketika itu memiliki argumen yang cukup kuat untuk tidak terlalu serius di Premier League. Sejak Graham dipecat, Arsenal hanya menang empat kali di liga dari 13 pertandingan. Tujuh pertandingan lain berakhir dengan kekalahan dan dua sisanya berakhir imbang. Performa mengenaskan di liga itu dibayar lunas oleh Tony Adams dkk. dengan keberhasilan melaju ke final Piala Winners.
Bagi Arsenal, turnamen antarklub kelas tiga di Eropa itu memang merupakan satu-satunya sumber kebanggaan dan kebahagiaan mereka. Akan tetapi, mimpi buruk Seaman itu kemudian terjadi.

***

Final Piala Winners 1994

Gol Alan Smith ke gawang Parma. (Foto: Dok. Arsenal FC)

4 Mei 1994, Parken Stadium di Kopenhagen menggelar laga akbar perdananya setelah pertama kali diresmikan pada tahun 1992. Stadion kebanggaan rakyat Denmark itu ketika itu memang masih kinyis-kinyis. Arsitekturnya memang masih sedikit berbau brutalist seperti jamaknya bangunan pada pertengahan abad ke-20. Namun, dengan sentuhan kaca di sana-sini, ia terlihat jauh lebih modern.
AC Parma, klub fenomenal dari Italia, datang dengan kepala tegak sebagai juara bertahan Piala Winners. Setahun sebelumnya, Royal Antwerp berhasil mereka kalahkan dengan skor 3-1. Gol-gol dari Lorenzo Minotti, Alessandro Melli, dan Stefano Coughi hanya mampu dibalas sekali oleh Francis Severeyns. Itu adalah trofi pertama Gialloblu di Eropa dan akan menjadi awal dari kiprah menawan mereka di dekade 1990-an.
Pada tahun 1994 itu, skuat Parma bahkan sudah lebih kuat dari tim yang mengalahkan Antwerp. Pilar-pilar lawas macam Luigi Apolloni, Alberto Di Chiara, Antonio Benarrivo, Thomas Brolin, serta sang kapten, Minotti, memang masih ada. Namun, di tahun tersebut, mereka juga kedatangan nama-nama beken macam Roberto Nestor Sensini, Gianfranco Zola, dan Faustino Asprilla. Tak heran jika mereka kemudian diunggulkan untuk mempertahankan gelar.

Parma 1993/94

Parma 1993/94 (Foto: Wikimedia Commons)

Dari sisi yang berseberangan, datanglah Arsenal.
Sudah hampir seperempat abad sejak mereka terakhir kali berlaga di partai puncak kompetisi antarklub Eropa. Ketika itu, pada tahun 1970, Arsenal yang masih diperkuat George Graham sebagai pemain berhasil mengalahkan wakil Belgia, Anderlecht, dalam final Piala Fairs yang merupakan cikal bakal Piala UEFA dan Liga Europa.
Bagi Graham, laga final Piala Winners 1994 itu merupakan sesuatu yang sentimental. Jika berhasil, artinya dia akan menjadi sosok yang spesial dengan gelar Eropa sebagai pemain dan pelatih. Namun, pria kelahiran 1944 itu tahu bahwa tim asuhannya adalah underdog.
Selain karena harus menghadapi Parma, Arsenal pun harus tampil tanpa penyerang andalannya, Ian Wright, yang mendapat hukuman akumulasi kartu. Alhasil, Graham pun harus mengoptimalkan nama-nama yang tersedia.
Sebagai ujung tombak, Graham pun harus kembali bertumpu kepada kaki-kaki renta Alan Smith yang sudah berada di senjakala karier. Untuk menyokong Smith, Kevin Campbell dan Paul Merson dimainkan sebagai sayap kanan dan kiri.
Yang kemudian menjadi menarik adalah bagaimana Graham benar-benar berniat untuk membuat Parma frustrasi. Di lini tengah, dia menumpuk tiga gelandang sekaligus sebagai respons atas pakem 3-5-2 Nevio Scala. Paul Davis, Steve Morrow, dan Ian Selley dipercaya untuk mengadang laju Gabriele Pin, Massimo Crippa, dan Thomas Brolin.


Adapun, yang menjadi kekuatan utama Arsenal kala itu adalah lini belakang mereka. Di depan David Seaman, berdirilah back four legendaris mereka: Lee Dixon sebagai bek kanan, duet Steve Bould dan kapten Tony Adams di jantung pertahanan, dan Nigel Winterburn di sisi kiri.
Seperti sudah bisa diprediksi, Parma langsung mengambil inisiatif serangan dan hampir saja mencetak gol jika tendangan Brolin pada menit ke-12 tidak menghantam mistar. Namun, delapan menit kemudian, Alan Smith justru berhasil mencuri gol memanfaatkan kesalahan Minotti dalam menghalau umpan silang.
Gol itu pada akhirnya menjadi satu-satunya gol yang tercipta pada pertandingan tersebut. Parma sebenarnya sudah membombardir pertahanan Arsenal. Scala bahkan memasukkan Alessandro Melli dan menarik keluar Gabriele Pin untuk mengubah formasinya menjadi 3-4-3. Namun, kegigihan trio gelandang tengah dan kuartet bek Arsenal untuk menahan gempuran-gempuran Gialloblu membuat trofi Piala Winners itu akhirnya jadi milik Arsenal.
Setelah gol Smith itu, para suporter Arsenal yang datang ke Kopenhagen tak henti-hentinya menyanyikan bagian refrain lagu 'Go West' milik Pet Shop Boys yang liriknya dikorup menjadi "One-nil to the Arsenal". Begitu terus sampai Vaclav Krondl dari Republik Ceko meniup peluit panjang.
Awalnya, nyanyian itu dibuat oleh suporter-suporter lawan untuk menyindir Arsenal asuhan George Graham yang membosankan dan sudah puas dengan kemenangan 1-0 seperti itu. Namun, pada hari itu, lagu dan gaya bermain tim George Graham tersebut justru menjadi sesuatu paling membanggakan yang dimiliki oleh Arsenal.

***

David Seaman

Seaman pada laga semifinal Piala Winners 1995. (Foto: Wikimedia Commons)

Setahun berselang, Arsenal datang ke Parc des Princes dengan arogansi yang sebelumnya dimiliki oleh Parma. 10 Mei 1995, meski terseok-seok di liga, mereka datang ke Paris sebagai juara bertahan Piala Winners.
Dalam perjalanan menuju ke final, Arsenal sempat melakoni salah satu pertarungan paling dahsyat di ajang Piala Winners ini. Di semifinal, mereka ditantang oleh Sampdoria yang juga sedang panas-panasnya. Arsenal hampir saja tersingkir seandainya tendangan bebas Stefan Schwartz pada pengujung laga leg kedua berhasil dihalau Walter Zenga.
Setelah itu, pertandingan pun dilanjutkan lewat adu penalti. Tiga tendangan penalti Sampdoria dari Vladimir Jugovic, Sinisa Mihajlovic, dan Attilio Lombardo berhasil ditepis Seaman. Arsenal pun ke final.
Namun, lawan Arsenal kala itu, Real Zaragoza, bukan tim sembarangan pula. Di tim asuhan Victor Fernandez itu ada nama-nama seperti Miguel Pardeza yang merupakan kapten tim sekaligus alumnus La Fabrica, Juan Eduardo Esnaider, calon legenda Chelsea, Gustavo Poyet, serta Nayim.


Nayim inilah, lewat golnya pada babak kedua perpanjangan waktu, yang kemudian menjadi sosok paling dibenci oleh David Seaman. Pasalnya, pemain blasteran Spanyol-Maroko ini adalah mantan pemain Tottenham Hotspur dan selain itu, gol kemenangan Zaragoza yang dicetaknya itu tercipta lewat tendangan voli dari jarak lebih kurang 30 meter.
Meski banyak orang yang menyebut bahwa gol Nayim itu adalah sebuah kebetulan, menurut pria kelahiran 1966 tersebut, tendangan seperti itu sudah sering dia latih bersama Paul Gascoigne di Spurs dulu. Kemudian, dia juga sudah hapal dengan gaya bermain Arsenal.
Ketika itu, Arsenal memang selalu bermain dengan garis pertahanan tinggi dan Seaman bertindak sebagai seorang sweeper-keeper. Ketika Nayim melepas tendangan itu, posisi Seaman memang terlalu maju. Akhirnya, gol itu pun jadi penentu setelah sebelumnya masing-masing klub mencetak satu gol lewat Esnaider dan John Hartson pada waktu normal.
"Itu adalah momen terburuk dalam karierku," kata Seaman. "Seketika setelah dia melepas tendangan itu, aku tahu aku dalam masalah. Biasanya, tidak ada orang yang menendang dari situ, tetapi di situ, dia benar-benar bermaksud untuk menendang."

***

Tony Adams

Tony Adams pada tahun 2002. (Foto: Dok. Premier League)

Setelah membela Arsenal sejak tahun 1990, David Seaman akhirnya hengkang 13 tahun kemudian. Pada tahun 2000, lima tahun setelah Tragedi Paris itu, Seaman berkesempatan untuk merengkuh trofi Eropa keduanya pada ajang Piala UEFA.
Ketika itu, Piala Winners sudah dihapuskan dan dilebur dengan Piala UEFA. Arsenal sendiri berlaga di sana setelah sebelumnya hanya finis ketiga di fase grup Liga Champions. Itu adalah musim kedua di mana Arsenal harus mengungsi dari Highbury ke Wembley untuk pertandingan antarklub Eropa karena Arsenal Stadium sedang direnovasi.
Di final Piala UEFA itu, Arsenal berhadapan dengan Galatasaray yang juga merupakan klub buangan Liga Champions. Dalam perjalanan ke final, Arsenal mengalahkan Nantes, Deportivo La Coruna, Werder Bremen, dan RC Lens. Sementara itu, yang menjadi korban Galatasaray adalah Bologna, Borussia Dortmund, Real Mallorca, dan Leeds United.


Bagi Arsenal, laga final Piala UEFA itu punya arti sentimental. Pasalnya, laga itu digelar di Parken Stadium yang enam tahun sebelumnya memberi Arsenal trofi Piala Winners.
Ketika itu, Seaman, Dixon, dan Adams masih menjadi pengawal lini belakang Arsenal. Sementara, posisi Bould digantikan Martin Keown dan tempat Winterburn diisi Sylvinho. Namun, minus Ray Parlour yang masih bertahan, komposisi Arsenal di lini tengah dan depan sudah berubah sama sekali. Di sana, Arsene Wenger menurunkan Patrick Vieira dan Emmanuel Petit sebagai gelandang tengah, Marc Overmars sebagai sayap kiri, serta duet Dennis Bergkamp dan Thierry Henry di lini depan.
Sayang, skuat ofensif itu gagal membongkar pertahanan Galatasaray yang digalang Gheorghe Popescu dan Bulent Korkmaz serta Claudio Andre Taffarel sebagai penjaga gawang. Setelah 120 menit bermain tanpa gol, Arsenal harus rela takluk 4-1 dalam adu penalti. Taffarel dinobatkan sebagai pemain terbaik laga itu dengan keberhasilannya menggagalkan upaya Davor Suker dan Patrick Vieira.

***

17 tahun setelah malam kelam di Kopenhagen itu, Arsenal kembali ke Piala UEFA yang sudah berganti nama. Jumat (15/9) dini hari nanti, mereka akan menjamu Koeln di Emirates Stadium. Bagi Arsene Wenger, ini adalah sebuah pertaruhan terakhir. Di Premier League, timnya tampak masih terengah-engah. Apabila di Liga Europa ini Arsenal juga gagal berbicara banyak, bukan mustahil jika nanti dia di-George Graham-kan juga.


Sepak BolaLiga EuropaArsenalArsene Wenger

500

Baca Lainnya