• 0

Mari Bicara Soal Instant Replay dan Kontroversinya

Mari Bicara Soal Instant Replay dan Kontroversinya



Teknologi Instant Replay

Teknologi Instant Replay saat digunakan dalam pertandingan American football (Foto: Jamie Squire)
Enrique Caceres, wasit asal Paraguay itu, terlihat seperti orang linglung di Yokohama International Stadium, Kamis (15/12/2016) malam. Bagaimana tidak? Setelah dengan penuh keyakinan menganulir gol Cristiano Ronaldo ke gawang Club America, tak lama sesudahnya -- ketika bola sudah kembali bergulir -- tiba-tiba Tuan Caceres meniup peluitnya untuk mengesahkan gol tersebut.
Ronaldo yang sebelumnya dianggap sudah berada dalam posisi offside, terbukti tidak melakukan pelanggaran tersebut. Hebatnya, meski momen sudah lewat setidaknya satu menit, wasit masih berani untuk menjilat liurnya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?
Sehari sebelumnya, pada laga antara antara Atletico Nacional dan Kashima Antlers di Suita City Football Stadium, Osaka, wasit asal Hungaria, Victor Kassai, juga membuat tindakan “’aneh”.
Ketika seorang pemain Kashima terjatuh di kotak penalti, Kassai tidak langsung membuat keputusan. Ia justru berlari ke tepi lapangan untuk berdiskusi dengan asistennya yang sedang memegang tablet. Setelah melongok ke layar tablet, Kassai kemudian kembali memasuki lapangan dan menunjuk titik putih. Penalti untuk Kashima Antlers.
***
Sudah sejak lama sepak bola dikritik lantaran kerap munculnya keputusan-keputusan kontroversial. Biasanya, keputusan-keputusan ini berkisar pada gol yang seharusnya disahkan tetapi justru dianulir dan sebaliknya. Karena tujuan utama bermain sepak bola adalah mencetak gol, maka ketika ada gol-gol yang dianulir, publik pasti meradang.
Wasit butuh bantuan, katanya, dan ya, memang betul. Itulah mengapa sejak awal wasit sudah dibantu oleh dua asisten wasit alias hakim garis di pinggir lapangan. Ketika wasit sedang berada jauh dari area permainan, maka keputusan hakim garis pun menjadi acuan. Tak jarang kita melihat sebuah keputusan dari wasit diubah karena hakim garis -- yang posisinya lebih dekat -- berkata sebaliknya.
Namun hakim garis, layaknya wasit, juga manusia. Kesalahan adalah bagian dari mereka dan itu tak bisa ditawar. Itulah mengapa, terutama dengan semakin majunya teknologi, wacana untuk membekali wasit dan asistennya dengan perangkat canggih makin kencang disuarakan. Goal-line Technology, atau Teknologi Garis Gawang, menjadi prioritas utama, khususnya setelah gol Frank Lampard ke gawang Manuel Neuer pada Piala Dunia 2010 dianulir wasit.
Setelah itu, kebutuhan akan teknologi garis gawang pun makin tak bisa ditawar. Dimulai sejak Piala Dunia Antarklub 2012, teknologi ini sudah semakin jamak ditemui di kompetisi antarnegara, turnamen antarklub level benua, maupun liga-liga top Eropa.
***
Piala Dunia Antarklub tahun ini kembali menjadi ajang uji coba sebuah teknologi baru: teknologi instant replay. Jika teknologi garis gawang memang dikhususkan untuk memastikan terjadi atau tidaknya sebuah gol, maka teknologi dengan nama resmi video assistant referee technology diharapkan akan mampu membantu wasit dalam membuat keputusan-keputusan seperti pelanggaran atau offside. Dua peristiwa pada bagian pembuka tulisan terjadi pada turnamen Piala Dunia Antarklub 2016 dan terbukti bahwa bantuan teknologi bisa mengubah hasil pertandingan.
Akan tetapi, meski Real Madrid menjadi pihak yang diuntungkan pada peristiwa pertama, gelandang Los Blancos asal Kroasia, Luka Modric, pada konferensi pers usai laga menyatakan ketidaksukaannya.
“(Teknologi itu) sangat membingungkan. Ketika kemarin (14/12/16) diadakan pertemuan untuk membahas penggunaannya, saya berharap agar (teknologi) itu tidak diterapkan,” tukas Modric.
Meski mengaku bahagia bisa memenangi laga semifinal Piala Dunia Antarklub 2016 melawan Club America, Modric masih sulit menyembunyikan kekesalannya akan teknologi instant replay ini. “Bagi saya, (penggunaan teknologi) ini bukan sepak bola,” tambahnya.
Kekesalan Modric memang berdasar karena wasit pun kebingungan. Ekspemain Tottenham Hotspur in juga bukan satu-satunya insan sepak bola yang “alergi” dengan teknologi. Sepp Blatter, mantan bos FIFA yang belum lama lengser itu, juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling vokal menentang penggunaan teknologi. Bagi pria 80 tahun itu, teknologi menghilangkan aspek kemanusiaan dalam sepak bola.
***
Gelar Sir barangkali takkan pernah diterima seorang Geoffrey Hurst apabila teknologi garis gawang sudah ada dan diterapkan tahun 1966 dulu. Gol pelengkap hattrick legenda West Ham United itu hingga saat ini masih jadi sumber perdebatan. Jika melihat dari berbagai tayangan ulang yang masih tersedia, maka gol Hurst seharusnya tidak disahkan, tetapi wasit Gottfried Dienst dari Swiss berkata lain. Jerman Barat pun akhirnya kehilangan momentum dan menyerah 2-4 dari tuan rumah.
Dua dekade berselang, giliran Inggris yang dirugikan. Jika sudah ada teknologi instant replay pada waktu itu, maka gol “Tangan Tuhan” Diego Maradona pasti tidak akan disahkan. Bahkan, kartu pun sudah pasti akan dilayangkan kepada El Diego. Narasi pertandingan pun kemungkinan besar akan berjalan lain. Bisa saja Inggris keluar sebagai pemenang pada laga itu.
Inilah “aspek kemanusiaan” yang dimaksud Blatter. Kesalahan-kesalahan itu pada akhirnya berujung menjadi folklor yang layak untuk terus direproduksi. Air mata yang menitik, umpatan yang terlontar, tinju yang melayang, itulah hal-hal yang membuat sepak bola kemudian disebut sebagai the beautiful game. Bukan hanya karena pertunjukan teknik, melainkan juga karena emosi yang tumpah ruah di sana.
***
Kini semua “sudah terlambat”. Sepak bola barangkali malu dengan olahraga-olahraga lainnya seperti American football, misalnya, yang sudah begitu akrab dengan teknologi. Olahraga paling populer sedunia kok kuno?
Sebenarnya, selain perkara folklor tadi, ada pula argumen yang menyebutkan bahwa penggunaan teknologi instant replay tidak bisa digunakan di sepak bola karena sepak bola adalah olahraga yang sangat cair. Maksudnya adalah, ketika permainan terhenti di sebuah pertandingan sepak bola, maka momentum akan hilang. Sebaliknya, American football justru merupakan olahraga yang “senang” ketika permainan berhenti, karena segala aliran serangan dan taktik bertahan justru ditentukan ketika permainan sedang tidak aktif.

Uji coba pertama teknologi instant replay dalam sepak bola tidak berjalan dengan mulus. Penalti Kashima, meski Victor Kassai sudah menggunakan bantuan video rekaman, tetap saja keputusannya masih bisa didebat. Kemudian untuk perkara gol Ronaldo, kebingungan yang melanda wasit sampai dengan pemain boleh jadi disebabkan karena belum terbiasanya mereka semua dengan penerapan sistem ini. Bisa jadi, asisten wasit yang memegang tablet terlambat dalam membuat keputusan dan menginformasikannya kepada Enrique Caceres.
Patut ditunggu apakah FIFA menganggap teknologi ini masih perlu dan relevan atau tidak. Cara mengetahuinya sederhana: jika tahun depan, pada gelaran Piala Konfederasi 2017 teknologi ini kembali digunakan, ada kemungkinan besar bahwa Piala Dunia 2018 nanti kontestannya bukan lagi manusia, melainkan robot.

Sepak BolaInstant ReplayPiala Dunia AntarklubSports

500

Baca Lainnya