• 1

Milan dan Montella: A Match Made in Heaven

Milan dan Montella: A Match Made in Heaven



Vincenzo Montella

Pelatih AC Milan, Vincenzo Montella, dalam pertandingan melawan Palermo di kompetisi Serie A Italia. (Foto: Tullio M. Puglia)
Jika ada dari kalian yang masih ingat bagaimana Tim Nasional (Timnas) Jerman pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, maka fakta bahwa mereka mampu menjadi juara dunia pada 2014 adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Meski secara tradisional mereka merupakan kekuatan besar dunia sepak bola, Jerman pada masa itu tak ubahnya panser tua yang berkarat.
Setelah benar-benar gagal total pada Euro 2004, sepak bola Jerman berbenah. Pemain muda mereka bina, pelatih mereka didik, teknologi mereka manfaatkan, dan kompetisi domestik mereka rapikan. Hasilnya, hanya 10 tahun setelah tampil memalukan di Portugal, Der Panzer berhasil mengangkat trofi juara dunia mereka yang keempat di Brasil.
AC Milan pun kini boleh dikatakan sedang menapaki jalan yang sama. Setelah meraih scudetto pada musim 2010/11, Milan secara perlahan menjauh dari papan atas. Titik nadir mereka ada pada musim kompetisi 2014/15 ketika mereka mengakhiri musim di peringkat ke-10.
Situasi keuangan Milan yang tak sehat menjadi pemicu utama kemunduran gradual Milan tersebut. Setelah Kaka dilego pada musim panas 2009, Milan tetap tak mampu membangun skuatnya yang kian menua. Ketika pada musim 2012/13 para pemain bintang senior mereka pergi, Milan pun kemudian benar-benar mulai limbung.
Pelatih datang dan pergi namun prestasi tak kunjung membaik, hingga akhirnya, pada awal musim ini, manajemen Milan menunjuk Vincenzo Montella.
Ekspektasi yang dibebankan pada Montella awalnya memang tak terlalu berat. Lagipula, membebankan target scudetto, misalnya, tentu tak masuk di akal. Tugas pelatih yang pernah menderita kelainan jantung ini hanya satu: membawa Milan kembali ke kompetisi Eropa. Liga Europa pun tak apa kalau Liga Champions masih terlampau jauh.
Meski materi pemain Milan tak jauh berbeda dari musim lalu, ada angin segar yang berhembus ke Milanello. Pembelian saham mayoritas Milan oleh perusahaan asal China, Sino-Europe Sports Investment Management Changxing, membuat asa yang sempat sama sekali hilang di kubu Milan, kembali muncul.
Meski begitu, Milan enggan gegabah. Mereka tahu bahwa keuangan mereka masih ada di garis merah. Oleh karena itu, mereka pun hanya mau melakukan pembelian-pembelian ala wheeler-dealer. Tidak ada nama besar di daftar pemain yang diangkut Milan. Kalau pun mau dimasukkan, nama Gianluca Lapadula-lah satu-satunya hot item yang direkrut Milan musim ini. Pendeknya, karakter belanja Milan belum berubah.
Kini, kompetisi Serie A sudah berjalan setengah musim dan Milan telah berhasil mendapatkan satu gelar. "Hanya" Piala Super Italia, memang. Tetapi, bagi Milan saat ini, gelar Piala Super Italia tersebut sudah lebih dari cukup untuk membangun momentum, karena selain soal gelar itu sendiri, Milan berhasil mendapatkan gelar itu setelah menundukkan Juventus, tim yang mendominasi Italia dalam 5-6 tahun belakangan.
Dengan kemenangan di Piala Super Italia tersebut, Milan berarti sudah berhasil menang atas Juventus sebanyak dua kali, setelah sebelumnya berhasil menaklukkan Juventus pada laga Serie A. Tak disangka tak dinyana, bukan? Milan yang bahkan tak terlalu dijagokan untuk lolos ke Liga Champions berhasil menjungkalkan tim yang diprediksi akan bisa menjuarai Serie A dengan mata tertutup.
Montella sebenarnya bukan satu-satunya sosok yang berjasa akan kebangkitan Milan musim ini. Berhasil mengorbitkan nama Gianluigi Donnarumma, Sinisa Mihajlovic juga layak menerima kredit atas restorasi Milan. Pasalnya, lewat Donnarumma-lah kepercayaan Milan atas pemain-pemain muda mulai tumbuh. Jika sebelum kolaps Milan dikenal sebagai klub destinasi para pensiunan, kini Milan punya jiwa baru; darah baru.
Selain Donnarumma (17), di skuat Milan saat ini ada beberapa nama muda lain yang tampil memikat musim ini. Sebut saja nama Manuel Locatelli (18), Davide Calabria (20), Mario Pasalic (21), Alessio Romagnoli (21), dan Suso (23). Sebenarnya, masih ada pula nama M'Baye Niang (22) yang pada musim lalu sebenarnya cukup bersinar dan hingga kini masih kerap diandalkan di pos sayap kiri, tetapi belakangan ini performa Niang agak sedikit menurun, terutama dengan kegagalannya mengeksekusi dua penalti berturut-turut.
Dari semua nama di atas, Donnarumma, Locatelli, Romagnoli, dan Suso menjadi sosok-sosok yang paling menonjol. Masing-masing dari mereka kini menjadi pemain kunci di posisi masing-masing. Donnarumma yang memang sudah sejak musim lalu tampil apik kini semakin matang. Romagnoli yang musim lalu masih angin-anginan kini menjadi sosok ball-playing defender yang tak hanya tangguh dalam bertahan, tetapi juga lihai menginisiasi serangan. Suso yang pada musim lalu terbuang ke Genoa, kini menjadi flair player yang punya kemampuan mengubah hasil pertandingan. Terakhir, Locatelli yang awalnya hanya dimainkan karena kapten Milan, Riccardo Montolivo, cedera panjang dan Milan tak memiliki stok pemain untuk peran deep lying playmaker, kini menjadi salah satu pemain muda terbaik dunia.
Berdasarkan data dari Transfermarkt, rata-rata usia skuat Milan saat ini adalah 26,1 tahun. Dibandingkan dengan seluruh skuat tim-tim Serie A lain, skuat Milan adalah skuat termuda keenam setelah Lazio (24,9 tahun), Palermo (25), Crotone (25,2), Udinese (25,5), dan Fiorentina (25,6). Bahkan, di starting XI reguler Milan musim ini tak ada satu pemain pun yang usianya di atas 30 tahun. Tiga pemain tertua, Carlos Bacca, Gabriel Paletta dan Ignazio Abate, usianya tepat 30 tahun pada 2016 ini.
Menariknya, kecuali untuk pos milik Paletta, posisi yang ditempati dua pemain berusia 30 tahun itu kerap mereka bagi dengan pemain yang lebih muda. Abate kerap bergantian mengisi pos bek kanan dengan Davide Calabria, sementara Gianluca Lapadula (26) kerap dimainkan bergantian dengan Bacca sebagai ujung tombak.
Bersama skuat yang relatif muda ini, Montella membangun sebuah tim dengan profisiensi taktik yang amat baik. Dalam posisi build-up, formasi awal Milan, 4-3-3, berubah bentuk menjadi 2-3-4-1. Duo fullback maju jauh ke depan untuk mengapit dua winger yang bermain merapat ke dalam. Kemudian, untuk menutup dua fullback yang naik ke atas, serta untuk memulai progresi serangan, dua gelandang (biasanya Juraj Kucka dan Giacomo Bonaventura/Andre Bertolacci -- tergantung apakah Bonaventura dimainkan sebagai winger atau tidak) mundur dan bergeser sedikit ke samping. Dua bek tengah, bersama tiga gelandang tengah, kemudian membentuk pola seperti huruf "W" dan di situlah inisiasi serangan Milan berawal.
Kemudian, duo fullback yang maju sampai ke depan itu, selain berfungsi untuk membantu serangan, juga difungsikan sebagai outlet untuk melancarkan counter-pressing. Sementara itu, dua winger yang seharusnya berada di samping, justru masuk ke area halfspace untuk mengeksploitasi berbagai celah serta channel antara bek tengah dan fullback. Suso, yang memang suka dengan celah-celah sempit macam ini pun bersinar. Dengan cara bermain ini yang didukung pemain macam Suso dan Jack Bonaventura sebagai second striker, dalam menghadapi lawan dengan garis pertahanan rendah, Milan tak perlu lagi perlu untuk mengitari bangun pertahanan lawan, melainkan hanya perlu melewatinya saja.
Cara bermain inilah yang walaupun sudah dimulai pada era Mihajovic, gagal diimplementasikan dengan baik ketika itu. Pasalnya, Mihajlovic tidak menerapkan permainan posisi yang baik, sehingga banyak umpan-umpan Milan ketika itu yang tidak jelas tujuannya. Tak jarang, meski sedang mendominasi penguasaan bola, serangan-serangan Milan akhirnya hanya berakhir menjadi tiki-taka* semata.
Perkara inilah yang secara fundamental mampu diperbaiki oleh Vincenzo Montella. Secara perlahan, ekspenyerang Roma dan Sampdoria ini mengajarkan kepada anak-anak asuhnya untuk memainkan juego de posicion (permainan posisi) versi dirinya sendiri. Hasilnya sampai saat ini boleh dibilang sangat baik dan jika mereka bisa terus berkembang dengan laju seperti ini, bukan tidak mungkin, dalam waktu dekat Milan akan kembali ke khitahnya sebagai raksasa Italia.
*) Menurut Pep Guardiola sendiri, sepak bola yang ia mainkan bukanlah tiki-taka, melainkan juego de posicion Bagi Pep, tiki-taka adalah sebuah penghinaan karena istilah tersebut merujuk pada umpan-umpan yang tak memiliki tujuan.

SportsSepak BolaLiga ItaliaAC MilanVincenzo Montella

500

Baca Lainnya