• 1

Napoli Sudah Tak Butuh Higuain

Napoli Sudah Tak Butuh Higuain



Dries Mertens

Penyerang sayap Napoli, Dries Mertens, beraksi melawan Cagliari. (Foto: Enrico Locci/Stringer)
Naples, 24 Juli 2013. Hampir sebulan setelah kepergian Edinson Cavani ke Paris Saint-Germain, Napoli meresmikan kedatangan penyerang baru. Rumor bahwa sosok yang didatangkan tersebut adalah seorang Argentina rupanya benar. Sosok tersebut adalah Gonzalo Higuain, yang ditransfer dengan biaya sekitar 40 juta euro.
Didatangkan secara rombongan — bersama Jose Callejon dan Raul Albiol — Higuain langsung didapuk menjadi penyerang utama dalam skema yang diusung oleh Rafael Benitez. Pada musim pertamanya, Higuain langsung moncer. Namun demikian, taktik Benitez tidak sesuai dengan gaya bermain ekspenyerang River Plate tersebut. Ia seakan tak dapat berkembang lebih tinggi.
Kepergian Benitez ke Real Madrid, yang langsung digantikan oleh Maurizio Sarri pada awal musim 2015/16, menjadi pertanda akan dimulainya kisah baru Higuain bersama Napoli. Pada pramusim,  sudah mulai terlihat bagaimana Sarri mengubah pakem yang digunakan oleh Benitez ketika menangani Napoli.
Apa yang diinginkan oleh Sarri perlahan terwujud. Dengan memainkan formasi 4-3-3, Napoli bukan hanya kokoh di belakang, tapi juga tajam di lini depan.
Transisi dari bertahan ke menyerang memang menjadi hal yang paling ditakuti oleh setiap lawan Napoli di musim lalu. Meski tak seberapa cepat, namun serangan yang dibangun Napoli selalu terbilang rapi. Lewat penguasaan bola yang rapi di tengah, 17,3 percobaan per laganya mampu mereka catatkan pada musim 2015/16.
Penguasaan bola menjadi kelebihan utama Napoli pada musim lalu. Mengandalkan Jorginho, yang hanya dipasang sebagai starter 14 kali pada musim sebelumnya, Napoli dapat sering berlama-lama dengan bola. Pemain yang sebelumnya memperkuat Hellas Verona ini bahkan mencatatkan rerata 102 umpan per pertandingannya musim lalu.
Higuain sendiri mendapat peran sebagai target man pada musim lalu.Penyerang yang mengenakan nomor punggung sembilan ini dimainkan lebih depan ketimbang garis pertahanan lawan. Kondisi tersebut membuatnya dapat memilih antara meneruskan bola ke kotak penalti lawan atau memberikan umpan kepada rekan setimnya yang bergerak ke depan.
Apa yang dilakukan oleh Sarri terhadap Napoli benar-benar mengubah Higuain. Total 36 gol dalam 35 pertandingan di Serie A Italia membuatnya tampil sebagai pencetak gol terbanyak. Torehan gol tersebut bahkan membuat Higuain memecahkan rekor gol milik penyerang AC Milan asal Swedia, Gunnar Nordahl, yang bertahan selama 66 tahun.
Kembali gagalnya Napoli menjadi juara Serie A, membuat Higuain meradang. Di bursa transfer musim 2016/17, ia memilih pindah ke Juventus, rival berat Napoli dalam perebutan gelar juara Serie A musim lalu, dengan biaya transfer 90 juta euro.
Kepindahan Higuain yang sempat menjadi sumber kekesalan para pendukung Napoli, tidak membuat Sarri kecewa. Baginya, kepindahan Higuain adalah murni atas alasan sepak bola. Bagi Sarri, tak masalah Higuain pindah karena Napoli masih memiliki Manolo Gabbiadini. Selain itu, uang hasil penjualan Higuain pun kemudian digunakan untuk mendaratkan Arkadiusz Milik dari Ajax.
Gaya bermain kedua pemain yang mirip dengan Higuain semakin memudahkan Sarri untuk menyiapkan taktik. Melihat hasil beberapa uji tanding, Milik pun dipilih untuk menjadi penyerang utama Napoli.
Milik yang lebih diharapkan untuk menjadi pengganti Higuain, mampu tampil sama baiknya dengan penyerang asal Argentina tersebut. Dari empat pertandingan yang ia mulai sejak menit pertama, penyerang Tim Nasional (Timnas) Polandia tersebut mampu membukukan empat gol.
Namun sayang, cedera ACL (anterior cruciate ligament) menghentikan rentetan penampilan apik Milik. Pengganti Milik, Gabbiadini, tak cukup baik dalam memainkan peran penyerang tengah yang kosong. Dari 11 penampilan di Serie A, hanya sekali ia mampu menjebol gawang lawan.
Kondisi tersebut memaksa Sarri mengubah taktiknya. Dries Mertens yang memiliki badan lebih kecil ketimbang Milik dan Gabbiadini dipaksa tampil sebagai penyerang tengah. Agar pola permainan Napoli tak seluruhnya diganti, Sarri menginovasi taktik yang ia gunakan.
Penguasaan bola tetap di tengah tetap menjadi andalan Sarri. Sementara, untuk pola penyerangannya, Sarri memaksa pemainnya tidak melakukan umpan pendek ke sepertiga akhir lapangan, melainkan umpan panjang demi memanfaatkan keunggulan kecepatan Mertens.
Inovasi yang dilakukan oleh Sarri perlahan mulai teruji. Dalam dua pertandingan terakhir yang dilakoni, Mertens mampu mencetak tujuh gol. Tidak hanya itu, hattrick yang ia buat ke gawang Joe Hart akhir pekan lalu, membuatnya menyamai rekor back-to-back hattrick yang terakhir kali dibuat oleh pemain Juventus, Pietro Anastasi, pada tahun 1974.
Panasnya Mertens membuat Napoli layak kembali dimasukkan ke lajur persaingan juara Serie A. Meski mereka kini memiliki selisih delapan poin dari Juventus di puncak klasemen, namun untuk urusan mencetak gol, sejauh ini mereka tidak memiliki kendala berarti. Hingga pekan ke-18, Napoli jadi klub tertajam untuk urusan mencetak gol.
Penampilan Higuain pada musim lalu memang luar biasa. Tapi, melihat apa yang dilakukan Napoli saat ini, tampaknya pendukung mereka sama sekali tidak akan merindukan Higuain.

Sepak BolaLiga ItaliaNapoliSports

500

Baca Lainnya