• 0

Para Administrator Korup Sepak Bola

Para Administrator Korup Sepak Bola



Logo FIFA

Logo FIFA di markas mereka di Zurich, Swiss. (Foto: Matthias Hangst)
Matahari baru naik sepenggalahan di kota Zurich ketika tujuh orang dicokok aparat gabungan Kepolisian Swiss dan Biro Investigasi Federal (FBI) dari Hotel Baur au Lac, 27 Mei 2015 silam. Ketika digelandang keluar, wajah ketujuh pesakitan itu ditutup dengan seprai hotel.
Ada semacam ironi di situ karena tanpa perlu dibungkus kain pun, publik akhirnya tahu nama-nama mereka: Jeffrey Webb, Eugenio Figueredo, Eduardo Li, Julio Rocha, Costas Takkas, Rafael Esquivel dan Jose Maria Marin. Ketujuh orang tersebut adalah para pejabat Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) yang sedang berada di Swiss untuk menghadiri Kongres FIFA ke-65.
Penangkapan tujuh orang itu menjadi penyingkap tabir kebobrokan FIFA yang selama puluhan tahun dijalankan dengan "jabat tangan". Hasil investigasi menyeluruh akhirnya menetapkan 34 orang, termasuk Sekeretaris Jenderal Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF), Chuck Blazer, sebagai tersangka.
Mereka yang menjadi tersangka dituduh bersalah dalam pasal penipuan, pemerasan, dan pencucian uang dalam kasus penyelenggaraan Copa America Centenario 2016 di Amerika Serikat. Dari total 150 juta dolar yang dipermasalahkan, 110 juta di antaranya merupakan uang pelicin yang digunakan untuk memastikan posisi Amerika Serikat sebagai tuan rumah Copa America Centenario.
Hingga kini, belum semua pihak mampu diproses secara hukum dan beberapa yang sudah diproses secara hukum pun pada akhirnya dinyatakan tidak bersalah. Meski terkesan tidak memuaskan, tetapi apa yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat ini kemudian juga memicu investigasi di berbagai negara lain seperti Swiss dan Inggris.
Selain itu, munculnya investigasi ini juga berujung pada dibukanya investigasi mengenai pemilihan tuan rumah Piala Dunia pada 2018 di Rusia dan 2022 di Qatar. Investigasi ini, lagi-lagi, dilakukan oleh Kepolisian Swiss dan FBI. Selain karena memang mecurigakan sejak awal, pernyataan Chuck Blazer yang menyebutkan bahwa dia menerima suap untuk penyelenggaraan Piala Dunia 1998 dan 2010, membuat investigasi terhadap dua event ini menjadi semakin beralasan.
Jerome Valcke, yang namanya cukup dikenal di Indonesia akibat keterlibatannya dalam pembekuan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), akhirnya ditetapkan sebagai salah satu tersangka dalam kasus suap Piala Dunia tersebut. Mantan sekjen FIFA asal Prancis tersebut kemudian diberi hukuman larangan beraktivitas di dunia sepak bola selama 12 tahun.
Puncaknya adalah ketika Sepp Blatter, bersama Michel Platini, juga kemudian ikut terseret.
Blatter yang sebenarnya terpilih kembali menjadi presiden FIFA pada Kongres FIFA 2015 lalu itu kemudian menyatakan pengunduran dirinya tak lama setelah dinobatkan kembali. Sementara itu, Platini ketika itu masih menjabat sebagai presiden Persatuan Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA). Kedua pejabat tinggi ini dikenai hukuman larangan beraktivitas di sepak bola selama 8 tahun. Penyebabnya adalah, Blatter dituduh memberi "uang terima kasih" sebesar 2 juta dolar kepada Platini atas kontribusinya di kamp pencalonan Blatter sebagai presiden FIFA tahun 1998 lalu.
FIFA memang sudah tak asing lagi dengan korupsi. Walau tak pernah benar-benar terbukti secara hukum, praktik korupsi dan kolusi di tubuh FIFA ini diperkirakan mulai marak terjadi sejak organisasi bentukan Jules Rimet tersebut dipegang oleh Dr. Joao Havelange mulai tahun 1974.
Dr. Havelange yang pada 16 Agustus 2016 lalu wafat pada usia 100 tahun merupakan mantan perenang dan atlet polo air Olimpiade. Kerap disebut sebagai mentornya Sepp Blatter, Dr. Havelange memimpin FIFA selama 24 tahun hingga kemudian digantikan "sang padawan".

Dr. Joao Havelange

Mantan presiden FIFA, Dr. Joao Havelange (Foto: Getty Images/Stringer)
Proses suksesi dari Dr. Havelange ke Blatter ketika itu pun tak luput dari kontroversi.
Ketika itu, Dr. Havelange memutuskan bahwa dirinya akan pensiun sebagai presiden FIFA setelah 24 tahun berkuasa. Kandidat terkuat pengganti Dr. Havelange kala itu adalah presiden UEFA, Lennart Johansson, yang salah satunya didukung oleh Inggris. Padahal, ketika itu Dr. Havelange sudah menjanjikan jatah tuan rumah Piala Dunia 2006 kepada Perdana Menteri Inggris, Tony Blair. Namun, FA saat itu sudah menjatuhkan pilihan dukungan kepada Johansson, sementara Dr. Havelange ingin agar Blatter yang menjadi suksesor.
Akhirnya, lewat berbagai praktik suap – yang sayangnya tak pernah (benar-benar) terbukti, Blatter memenangi pemilihan tahun 1998 tersebut. Ketika itu, seperti yang telah disebutkan di atas, Blatter juga mendapat bantuan dari Michel Platini – kala itu merupakan kepala Komite Penyelenggara Piala Dunia 1998 bersama Fernand Sastre – yang sedang memersiapkan diri menjadi penantang serius bagi Johansson untuk mengisi pos presiden UEFA.
Kasus kriminal di tubuh FIFA ini menjadi semacam pengingat bahwa sepak bola memang tak pernah lepas dari segala macam tangan-tangan kotor yang berusaha mengobok-oboknya. Fakta bahwa ia adalah olahraga terpopuler di dunia dan siapa pun yang tergila-gila padanya sudah pasti akan berlaku irasional, membuat banyak pihak kemudian berusaha untuk menggaruk untung sebesar-besarnya dari sepak bola. Kasus FIFA ini, meski boleh jadi merupakan kasus yang terbesar, bukanlah kasus pertama yang melibatkan korupsi dan kolusi dalam sepak bola.
Momok Lain: Pengaturan Skor
Selain kasus yang umumnya melibatkan uang pelicin untuk penyelenggaraan suatu event, momok menakutkan lain bagi sepak bola adalah pengaturan skor. Bagi banyak pencinta sepak bola, perkara pengaturan skor ini bahkan jauh lebih mengesalkan dibanding kasus korupsi penyelenggaraan event karena di sinilah sepak bola benar-benar dicederai secara langsung.
Di Indonesia, masalah pengaturan skor ini sampai sekarang belum bisa benar-benar dibuktikan meski sudah banyak desas-desus yang dilempar ke sana-sini. Sementara itu, di Italia, Turki, Brasil, Jerman, dan Prancis, perkara pengaturan ini pernah menjadi masalah besar. Di Italia, bahkan, kasus pengaturan skor dalam skala besar sudah pernah terungkap sampai tiga kali dalam 40 tahun terakhir.
Pada tahun 1980, di Italia, ada kasus Totonero yang turut melibatkan klub-klub besar seperti Milan dan Lazio. Tak hanya itu, pemain-pemain legendaris seperti Enrico Albertosi dan Paolo Rossi pun ikut terseret dalam kasus yang jenisnya hampir mirip dengan Calcioscommese pada 2011 lalu. Dalam dua kasus ini, para pemain dan pelatih dituduh menjual pertandingan demi uang. Pada Calcioscommese 2011, nama-nama besar yang sempat terlibat adalah Antonio Conte, Cristiano Doni, Mauro Bressan, dan Giuseppe Signori.
Kemudian, di sela-sela dua kasus pengaturan skor berbau judi itu, ada pula Calciopoli pada 2006 yang melibatkan klub-klub seperti Juventus, Milan, Lazio, dan Fiorentina. Berbeda dengan Totonero dan Calcioscommese, kasus Calciopoli tidak mengandung unsur judi di dalamnya. Dalam kasus ini, yang terjadi adalah wasit beserta ofisial pertandingan disuap dan dipengaruhi untuk memberi keuntungan pada tim-tim yang terlibat tersebut. Trio pemimpin Juventus, Luciano Moggi, Antonio Giraudo, dan Giampiero Boniperti pun akhirnya mundur karena kasus ini. Moggi bahkan kemudian diberi hukuman larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup.
Di Turki, juga pada tahun 2011, dua klub raksasa Istanbul, Fenerbahce dan Besiktas, sempat ditengarai terlibat kasus pengaturan skor. Setelah dilakukan investigasi, kedua klub tersebut akhirnya menerima hukuman larangan berkompetisi di Eropa pada tahun 2013 lalu.
Sementara itu, kasus besar lain pernah terjadi di Prancis pada 1993. Ketika itu, Olympique de Marseille sedang menatap kemungkinan untuk meraih gelar ganda: Liga Prancis dan Liga Champions. Pada laga yang akan menentukan juara Liga Prancis, Marseille dijadwalkan untuk bertanding dengan Valenciennes, sementara di final Liga Champions, L'OM sudah ditunggu wakil Italia, Milan.
Agar para pemainnya bisa lebih segar kala menghadapi Milan, presiden Marseille kala itu, Bernard Tapie, kemudian menyuap beberapa pemain Valenciennes agar mengalah kepada Marseille. Lewat perantara Jean-Jacques Eydelie, Tapie menyuap Jorge Burruchaga dan Christophe Robert. Satu pemain lain yang ditawari suap, Jacques Glassmann, menolaknya mentah-mentah dan kemudian diberi penghargaan Fair Play oleh FIFA. Atas kasus ini, Tapie, Eydelie, Burruchaga, Robert, dan general manager Marseille, Jean-Pierre Bernes, dijatuhi hukuman pidana serta larangan beraktivitas di sepak bola.
Para Strongman yang Keblinger
Sudah banyak contoh yang menunjukkan bahwa sepak bola di negara yang belum sepenuhnya maju selalu akan diintervensi oleh para strongman. Rumania, misalnya. Walaupun dari segi prestasi sepak bola negara ini tidak buruk-buruk amat, tetapi dari segi ekonomi, negara ini adalah salah satu yang termiskin di Eropa.
Masuklah nama Gigi Becali, seorang fasis yang dibenci banyak sekali orang di Rumania sana.
Bicara soal Gigi Becali berarti -- kita, mau tak mau, harus -- bicara soal Nurdin Halid. Jika Nurdin pernah memimpin PSSI dari balik jeruji besi akibat korupsi minyak goreng impor, Becali pernah memimpin Steaua Bukares dengan status terdakwa akibat kasus tukar guling tanah dengan Angkatan Bersenjata Rumania.
Sengketa dengan Angkatan Bersenjata itu kemudian berujung pada dipermasalahkannya status kepemilikan Becali atas Steaua. Bagi yang belum familiar dengan perkara ini, Steaua awalnya adalah klub olahraga milik Angkatan Bersenjata Rumania dan sepak bola menjadi salah satu cabang aktivitasnya.
Tim sepak bola Steaua ini pada 1998 menjadi sebuah perusahaan mandiri karena militer Rumania ketika itu sudah tak mampu lagi membiayai tim. Akhirnya, pada 2003, Becali menjadi pemegang saham mayoritas Steaua. Sementara itu, tim olahraga Steaua lain seperti bola basket, bola tangan, dan polo air tetap dibiayai oleh militer.
Pada 2014 lalu, status kepemilikan Becali dipermasalahkan, dibawa ke meja hijau, dan akhirnya dicabut karena dianggap ilegal. Hal ini bisa terjadi karena pada tahun 2007, Becali pernah dengan sengaja membangkrutkan perusahaan lama Steaua, AFC Steaua Bucuresti agar bisa mengemplang pajak. Bagi pihak militer yang menuntut Becali, merek Steaua yang ada saat ini tidak sah karena meski telah menjadi perusahaan baru, nama dan logo Steaua lama masih digunakan oleh Becali.
Alhasil, pada waktu itu, Steaua kemudian sempat harus berlaga dengan mengenakan kostum tanpa logo akibat kasus ini. Sekarang, Steaua sendiri sudah kembali berjalan dengan normal dan Becali sudah tidak punya kaitan resmi dengannya. Namun, cengkeraman kuat Becali masih sangat terasa lewat kroni-kroninya yang masih bercokol di sana.
***

La Nyalla Mattalitti

La Nyalla Mattalitti (Foto: antarafoto)
Sepak bola memang barangkali takkan pernah bisa lepas dari kepentingan-kepentingan yang bermain, entah itu sifatnya politis maupun ekonomis. Fakta bahwa hal seperti ini juga terjadi di luar Indonesia, bahkan di tingkat dunia, seharusnya tidak membuat kita berpikir, "Oh, ternyata kita nggak sendiri."
Seharusnya, hal-hal seperti ini semakin membuat kita waspada akan tangan-tangan kotor yang ingin mengobok-obok persepakbolaan kita. Kasus La Nyalla Mahmud Mattalitti dan Nurdin Halid adalah constant reminder bagi kita. Di bawah cengkeraman mereka, sepak bola Indonesia pernah mengalami masa yang amat kelam, dan jika tak waspada, jika kita lengah, bisa jadi sepak bola kita akan kembali dikuasai oleh La Nyalla-La Nyalla dan Nurdin-Nurdin berikutnya.
***
Post-Scriptum: Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa (27/12) siang, publik sepak bola Indonesia masih berharap-harap cemas menantikan putusan akhir untuk La Nyalla Mattalitti dalam sidang korupsi dana hibah Kadin Jawa Timur tahun 2012. Ia dituntut hukuman penjara 6 tahun ditambah denda 500 juta rupiah subsidier 6 bulan kurungan. Selain itu, dia juga diperintahkan mengganti kerugian kepada negara sebesar 1,105 miliar rupiah.

Sepak BolaFIFAKorupsiSports

500

Baca Lainnya