• 2

PSSI Mau Pakai Pelatih Asing? Lihat Dulu Nama-Nama Lokal Ini

PSSI Mau Pakai Pelatih Asing? Lihat Dulu Nama-Nama Lokal Ini



Final Piala AFF 2016

Pesepak bola Indonesia, Boas Theofilus Erwin Salossa (7) mengekspresikan kesedihan usai Indonesia dikalahkan Thailand pada final putaran kedua AFF Suzuki Cup 2016 di Rajamangala National Stadium, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12). (Foto: Aditia Noviansyah)
Setelah kembali gagal membawa Indonesia menjadi juara Asia Tenggara, masa depan Alfred Riedl sebagai pelatih Tim Nasional (Timnas) Indonesia belum jelas. Rumor bahwa Riedl akan mundur atau dipecat masih santer tedengar.
Selain di level senior, masalah pun dihadapi Timnas Indonesia U-23. Dihadapkan pada ajang SEA Games bulan Agustus 2017 nanti, tim “Garuda Muda” belum memiliki juru taktik. Mengingat sudah dekatnya waktu penyelenggaraan kompetisi tersebut, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) harus bergerak cepat dalam menentukan siapa yang akan menjadi arsitek Timnas U-23.
Di sini, kumparan menyodorkan beberapa nama yang kami rasa memiliki kans besar untuk ditunjuk menjadi pelatih timnas baik di level senior maupun U-23.
Rahmad Darmawan

Rahmad Darmawan

Rahmad Darmawan pernah menjadi pelatih T-Team FC, klub dari Malaysia. (Foto: https://www.instagram.com/tteamofficial/)
Karier kepelatihan Rahmad Darmawan dimulai ketika ia dipercaya untuk menjadi asisten pelatih Sutan Harhara di Persikota Tangerang. Klub ini sendiri merupakan klub yang terakhir dibela Rahmad sebelum gantung sepatu tahun 1998. Setelah 3 tahun menjadi asisten pelatih, pada tahun 2001, ia mulai diberi kepercayaan untuk menjadi pelatih kepala Persikota. Setahun kemudian, ia juga ditunjuk untuk menjadi asisten Ivan Kolev yang saat itu menjadi pelatih Timnas Indonesia pada gelaran Piala Tiger 2002.
Perlahan namun pasti, Rahmad, mulai mencuat namanya ketika menukangi Persipura Jayapura. Dengan racikan tangan dinginnya, Persipura yang kala itu mulai memudar namanya berhasil bangkit dan keluar sebagai juara Liga Indonesia tahun 2005. Karena prestasinya itu, ia pun diminta menjadi pelatih di Persija.
Kesempatan menangani Persija tidak disia-siakan oleh Rahmad. Pelatih yang sempat menimba ilmu kepelatihan di Malaysia dan Jerman ini langsung menyanggupi, meski di kemudian hari ia menyesali keputusannya itu. Pasalnya, di Persija ia tidak bisa memilih pemain-pemain yang akan memperkuat timnya. Padahal, memilih pemain merupakan tugas dan kewajiban seorang pelatih kepala. Akibatnya, Rahmad pun hanya mampu bertahan selama satu musim di klub tersebut tanpa mempersembahkan satu gelar pun.
Kariernya sebagai pelatih kembali gemilang setelah menangani klub Sriwijaya FC pada tahun 2007. Rahmad dibebaskan mengatur segi teknis tim  asal Palembang itu tanpa ada intervensi siapa pun. Hasilnya, Rahmad meraih gelar ganda pada tahun pertamanya di Palembang. Padahal, dia hanya ditargetkan membawa Sriwijaya FC ke zona ISL.
Lebih membanggakan lagi, Rahmad juga sukses membawa Sriwijaya FC menjuarai Copa Indonesia tiga kali berturut-turut. Namun, setelah tiga musim melatih Sriwijaya, posisinya sebagai pelatih digantikan oleh Ivan Kolev dengan alasan penyegaran tim. Pada tahun 2010, Rahmad akhirnya kembali ke Persija.
Meski terhitung sukses sebagai peatih di level klub, peruntungan Rahmad Darmawan bersama tim nasional belum terlalu baik. Pada tahun 2011, ia sempat menangani Timnas Indonesia U-23 pada ajang SEA Games. Sayang, tim “Garuda Muda” harus kandas di partai puncak usai ditaklukkan Malaysia lewat adu penalti.
Usai kegagalan menyakitkan di SEA Games 2011 itu, Rahmad terus berkiprah di liga sepak bola Indonesia bersama Pelita Jaya, Arema Cronus, Persebaya (Divisi Utama), dan Persija Jakarta. Di sela-sela itu, ia juga sempat ditunjuk menjadi caretaker Timnas Indonesia senior dan arsitek Timnas U-23.
Pada masa jabatannya yang kedua bersama Timnas U-23, RD, sapaan akrab Rahmad Darmawan, kembali berhasil masuk ke final. Namun, lagi-lagi dia gagal mempersembahkan medali emas setelah Indonesia U-23 ditaklukkan Thailand U-23.
Saat ini, Rahmad sedang berkarier di Malaysia dengan menjadi pelatih klub T-Team dari Trengganu. Belum ada gelar yang berhasil dipersembahkan RD untuk klub yang juga diperkuat mantan bintan Persib, Makan Konate, itu.
Indra Sjafri

Indra Sjafri

Indra Sjafri pernah melatih Timnas U-19 dan Bali United. (Foto: https://www.instagram.com/indrasjafri/)
Nama Indra Sjafri mulai menonjol ketika membawa timnas junior berhasil menjadi juara pada ajang turnamen sepak bola tingkat Asia, yaitu pada HKFA U-17 dan HKFA U-19 di Hongkong. Sebelum menjadi pelatih Timnas, Indra Sjafri adalah pemandu bakat di PSSI sejak Mei 2009.
Prestasinya dalam menangani timnas junior terus menanjak. Pada 22 September 2013, Indra Sjafri sukses membawa tim asuhannya, Timnas Indonesia U-19, menjuarai Piala AFF U-19 setelah mengalahkan Vietnam lewat adu penalti.
Gelar juara Piala AFF U-19 ini adalah gelar pertama Indonesia di level Asia Tenggara sejak tahun 1991. Nama Indra Sjafri pun semakin meroket sebagai seorang pelatih yang jenius. Prestasi Indra yang tak kalah membanggakan lagi adalah ketika Timnas U-19 mampu mengalahkan Korea Selatan dengan skor 3-2, sekaligus memastikan diri lolos ke Piala Asia U-19 2014. Tak seperti pelatih kebanyakan yang memulai karier di level klub, karier klub Indra Sjafri justru sedikit tertunda.  Usai gagal membawa Indonesia U-19 berbicara banyak di Piala Asia, Indra memilih untuk menerima pinangan Bali United yang dulunya merupakan Persisam Putra Samarinda. Bersama Bali United, dia tetap mempercayai para pemain muda, meski hasilnya di Indonesia Soccer Championship (ISC) lalu tak cukup memuaskan. Bali United finis di urutan ke-12 dari 18 klub peserta.
Nil Maizar

Nil Maizar

Nil Maizar (tengah) pernah menjadi pelatih Semen padang FC. (Foto: https://www.instagram.com/semenpadangfcid/)
Nil Maizar, putra Minang asli ini, mendapat durian runtuh ketika Arcan Iurie, pelatih Semen Padang pada musim 2009/10 tidak diperpanjang kontraknya untuk musim 2010/11. Nil, yang sebelumnya merupakan asisten Iurie, dipercaya untuk membesut Semen Padang untuk mengarungi kompetisi Indonesia Super League (ISL).
Pada musim perdananya, Nil berhasil membawa Semen Padang ke posisi keempat Liga Super Indonesia. Saat klub memutuskan bergabung ke Indonesia Premier League (IPL) untuk musim 2011-12, Nil tetap bertahan.
Prestasi Nil di Padang menarik perhatian PSSI. Kebetulan, dualisme PSSI saat itu membuat pos pelatih kepala timnas lowong. PSSI, lewat koordinator tim nasional, Bob Hippy, akhirnya resmi menetapkan Nil sebagai pelatih Tim Nasional Indonesia pada 13 April 2012.
Dalam menangani timnas, didampingi oleh Fabio Oliveira, staf pelatih Persija IPL. Sementara itu, posisinya sebagai pelatih kepala Semen Padang digantikan oleh direktur teknik Suhatman Imam. Saat itu, dia sempat berjanji kepada publik Padang untuk kembali melatih “Kabau Sirah”.
Turnamen pertama Nil sebagai pelatih timnas adalah Piala Internasional Palestina 2012 pada Mei 2012. Indonesia tergabung dalam Grup B bersama Mauritania dan Kurdistan. Karena saat itu Nil masih bermasalah dengan lisensi pelatih, dia sempat harus meninggalkan kamp latihan di Yogyakarta untuk mengikuti kursus kepelatihan yang digelar oleh Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) di Koeln.
Kamp latihan pun diserahkan kepada asistennya Oliveira, dan Nil sendiri baru bisa menyusul timnas ke Palestina pada 12 Mei. Hasil yang diraih tim cukup baik, di mana Mauritania berhasil dikalahkan 2-0, meski kemudian, Kurdistan berhasil memaksakan hasil imbang 1-1. Sayang, kekalahan 1-2 dari tuan rumah Palestina pada partai semifinal membuat Indonesia harus pulang lebih cepat. Setelah itu, Nil sempat memimpin tim nasional langsung di Piala SCTV, meskipun takluk 2-0 dari Korea Utara pada 10 September 2012 di Gelora Bung Tomo, Surabaya.
Saat konflik dualisme di internal PSSI semakin meruncing, Nil tetap bersama tim yang ia persiapkan untuk Piala AFF 2012 di Malaysia. Usahanya untuk memanggil beberapa pemain kunci yang berlaga di ISL gagal, karena liga yang berada di bawah Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) itu melarang pemain-pemainnya bergabung dengan tim nasional. PSSI pun tetap bersikeras mendaftarkan enam pemain dari ISL, meski keenam nama tersebut tidak pernah berangkat.
Bertolak ke Malaysia, Nil pun membawa skuat seadanya. Hanya Irfan Bachdim, Andik Vermansah, dan Bambang Pamungkas pemain ternama yang ada di tim tersebut. Sisanya, Nil membawa pemain-pemain yang namanya belum begitu dikenal publik seperti Wahyu Tri Nugroho, Wahyu Wijiastanto, dan Vendry Mofu. Pemain-pemain naturalisasi yang turut serta, Tonnie Cusell dan Jhonny van Beukering, pun kualitasnya di bawah rata-rata.
Indonesia hanya berhasil menduduki peringkat ketiga Grup B, setelah mengantongi empat poin dari tiga laga (menahan imbang Laos, mengalahkan Singapura tetapi ditaklukkan Malaysia). Alhasil, Indonesia pun harus angkat koper lebih awal.
Pada awal Februari 2013, PSSI resmi menggaet pelatih asal Argentina, Luis Manuel Blanco, sebagai pelatih kepala tim nasional. Posisi Nil (dan Aji Santoso selaku pelatih tim U-23) pun dikabarkan akan tergusur. Meskipun rumor ini sempat dibantah oleh Ketum PSSI, Djohar Arifin Husin, Nil dan asistennya resmi dipecat pada 27 Februari. Sekretaris Jenderal PSSI, Halim Mahfudz, pun ikut dipecat.
Widodo Cahyono Putro

Widodo C. Putro

Widodo Cahyono Putro (kiri) ketika masih menjadi pelatih Sriwijaya FC. (Foto: https://www.instagram.com/sriwijayapedia/)
Kiprah Widodo Cahyono Putro sebagai pelatih dimulai di Petrokimia Gresik pada musim 2004. Semusim kemudian, Widodo memutuskan pindah ke Persijap Jepara dan menjadi asisten pelatih selama dua musim.
Berkat kemampuan dalam meracik tim dan juga menelurkan taktik brilian, Widodo kemudian dipercaya Badan Tim Nasional (BTN) untuk menjadi asisten pelatih kepala timnas kala itu, Alfred Riedl. Mantan pencetak gol terbanyak Liga Indonesia itu berhasil membantu Riedl mengantarkan “Tim Merah Putih” ke partai puncak, meski akhirnya harus takluk dari Malaysia.
Setelah itu, ia dipercaya untuk membantu Rahmad Darmawan dalam menukangi Timnas U-23. Bersama timnas U-23, Widodo juga sukses mempersembahkan prestasi gemilang dengan mengantar Timnas meraih medali perak  SEA Games 2011.
Selain itu, pemain yang sempat mendunia berkat gol saltonya ke gawang Kuwait pada Piala Asia 1996 itu juga pernah menjadi pelatih tim nasional U-21 yang tampil dalam turnamen Sultan Hasanah Bolkiah Trophy di Brunei pada 27 Februari hingga 5 Maret 2012. Ketika itu, tim asuhan Widodo gagal mengamankan gelar juara setelah ditekuk tuan rumah, Brunei Darussalam, dua gol tanpa balas.
Aji Santoso

Aji Santoso

Aji Santoso pernah melatih Timnas U-23 dan Persela Lamongan. (Foto: https://www.instagram.com/perselafc/)
Mengawali karier kepelatihan sebagai pelatih Timnas U-17 pada tahun 2005, nama Aji Santoso sebagai pelatih mulai dikenal publik saat menangani tim sepak bola Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Timur pada periode 2006-2008. Aji sukses mengantarkan pasukan Jawa Timur meraih medali emas PON Kalimantan Timur 2008. Pada saat seleksi pelatih tim nasional U-23 oleh Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) menjelang SEA Games 2011, Aji merupakan satu-satunya kandidat saingan Rahmad Darmawan. Karena pengalamannya dirasa masih ada di bawah Rahmad, Aji pun kemudian ditunjuk untuk menjadi asisten pelatih.
Pada ajang Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia, Aji Santoso sempat ditunjuk untuk menggantikan Wim Rijsbergen. Berstatus sebagai caretaker, Aji “sukses” mempersembahkan kekalahan terburuk dalam sejarah Timnas Indonesia. Bermain di Manama, Indonesia dicukur tuan rumah Bahrain 10-0.
Timnas yang ditangani Aji terbilang bobrok, bahkan dalam lingkup Asia Tenggara sekalipun. Di bawah asuhan mantan bek kiri timnas itu, Indonesia hanya mampu menang melawan Timor Leste dan Brunei Darussalam pada ajang resmi, serta Persigar Garut dan beberapa tim Pra-PON pada laga uji tanding.
Dua tahun setelah “Tragedi Manama”, Aji masih dipercaya membesut Timnas Indonesia, meski tidak untuk level senior. Meski mampu menembus babak 16 besar, Timnas Indonesia U-23 sempat merasakan dua kekalahan telak pada ajang Asian Games 2014. Pada fase grup, Indonesia U-23 dihajar Thailand U-23 enam gol tanpa balas. Kemudian, pada babak 16 besar, empat gol Korea Utara U-23 hanya bisa dibalas oleh satu gol oleh “Garuda Muda”.
Kiprah terakhir Aji bersama timnas terjadi pada Kualifikasi Piala Asia U-23 2016. Pada gelaran itu, meski berhasil menang 5-0 atas Timor Leste dan 2-0 atas Brunei Darussalam, Indonesia U-23 gagal lolos karena ditekuk Korea Selatan U-23 dengan skor 0-4.
Saat ini, Aji Santoso sedang menganggur setelah dia dan Persela Lamongan yang dilatihnya pada gelaran ISC memutuskan untuk berpisah jalan. Persela sendiri hanya mampu finis di urutan ke-15 klasemen akhir.

Sepak BolaTimnas IndonesiaSports

500

Baca Lainnya