• 5

Susunan Tim "Gagal ke Piala Dunia XI"

Susunan Tim "Gagal ke Piala Dunia XI"


Gagal XI

Mereka yang gagal ke Piala Dunia. (Foto: AFP & Reuters)

Play-off Piala Dunia 2018 hampir selesai digelar. Mereka-mereka yang sudah dipastikan tidak akan berlaga di Rusia pun semakin bertambah saja daftarnya. Di antara mereka, rupanya banyak sekali nama besar. Banyak sekali malah, sampai-sampai, kami bisa membuat susunan starting XI, plus tujuh pemain cadangan.
Di sini, kami tentu saja tidak bisa memasukkan semua nama yang Anda inginkan. Namun, percayalah. Daftar dari kami ini tetap bakal bisa membuat Anda bergidik membayangkan betapa hambarnya Piala Dunia tahun depan tanpa mereka. Siapa saja para pemain pilihan kami? Silakan simak daftarnya berikut ini.
Kiper - Gianluigi Buffon (Italia)

Gianluigi Buffon

Buffon bersedih (Foto: REUTERS/Kai Pfaffenbach)
Kalau kami boleh usul, sebaiknya bubarkan saja Piala Dunia tahun depan karena tanpa Gianlugi Buffon, apakah Piala Dunia masih bisa disebut Piala Dunia? Selama pemain satu ini masih aktif berlaga, seharusnya ada spot otomatis baginya--ingat, bukan untuk Tim Nasional Italia--untuk bisa berlaga di Piala Dunia, entah bagaimana caranya.
Buffon sendiri, walau sudah hampir berkepala empat, baru saja mendapat pengakuan dari seluruh dunia bahwa dirinya masih merupakan kiper terbaik dunia. Pengakuan itu terwujud dalam penghargaan Kiper Terbaik dalam Best FIFA Awards 2017 lalu. Dari sini saja, Buffon menunjukkan bahwa dirinya masih sangat, sangat layak untuk berlaga di turnamen sepak bola terakbar di dunia.

Bek Kanan - Luis Antonio Valencia (Ekuador)

Antonio Valencia

Valencia saat menghadapi Cile. (Foto: AFP/Martin Bernetti)
Dulu, pemain satu ini adalah seorang gelandang sayap. Tetapi, belakangan, gocekan-gocekannya makin mudah terbaca, sehingga efektivitas tusukannya sebagai winger mulai berkurang. Namun, itu tidak menghalangi Antonio Valencia untuk tetap berlaga di level tertinggi. Caranya? Dengan beradaptasi, menyesuaikan atribut yang dia miliki dengan kebutuhan timnya. Akhirnya, kini pemain 32 tahun itu pun menjadi seorang bek kanan tangguh.
Bersama Manchester United, performa Valencia masih mengesankan. Bahkan, dengan kerapnya Michael Carrick absen, praktis Valencia-lah yang saat ini menjadi kapten "Iblis Merah". Sayangnya, tak seperti di United, di level timnas bersama Ekuador, Valencia tak memiliki rekan-rekan yang cukup mumpuni untuk berprestasi di level tertinggi. Hasilnya, tiket Piala Dunia pun luput dari genggamannya.

Bek Tengah - Virgil van Dijk (Belanda)

Virgil van Dijk

Van Dijk bersama Timnas Belanda. (Foto: AFP/Emmanuel Dunand)
Ada alasan mengapa Virgil van Dijk betul-betul diharapkan para suporter Liverpool untuk menjadi solusi bobroknya lini belakang mereka. Alasan itu, tak lain dan tak bukan, adalah karena sebagai bek, Van Dijk punya kemampuan komplet, apalagi di tengah tuntutan sepak bola modern yang kian kompleks.
Namun, tahun ini rupanya memang bukan tahunnya Van Dijk. Setelah gagal pindah ke Liverpool dan terpaksa bertahan (meski mungkin hanya untuk sementara) di Southampton, dia pun gagal membawa Belanda masuk putaran final Piala Dunia. Sayang seribu sayang.

Bek Tengah - Giorgio Chiellini (Italia)

Giorgio Chiellini

Chiellini di laga vs Swedia. (Foto: Reuters/Max Rossi)
Usianya memang makin menua, tetapi untuk urusan murni bertahan, Giorgio Chiellini masih jadi salah satu yang terbaik di dunia. Dia punya kekuatan, ketekunan, dan agresivitas yang diperlukan oleh seorang stopper. Buktinya, di Juventus pun dirinya masih terus jadi andalan.
Namun, celakalah Chiellini karena dia adalah orang Italia. Performa Juventus yang masih terhitung apik di Serie A itu tidak menular ke Tim Nasional Italia. Mereka gagal melewati adangan Swedia, gagal lolos ke Piala Dunia, dan Chiellini akhirnya memutuskan mundur dari Lo Nazionale.

Bek Kiri - David Alaba (Austria)

David Alaba

Alaba hebat, tetapi Austria tidak. (Foto: AFP/Joe Klamar)
David Alaba adalah salah satu pemain paling komplet di daratan Eropa. Meski posisi naturalnya adalah bek kiri, pemain keturunan Filipina ini bisa ditempatkan di mana pun karena secara teknikal dia mampu dan secara taktikal dia cukup cerdas. Selain itu, eksekusi bola-bola matinya pun aduhai.
Sayangnya, meski berkiprah di Jerman bersama Bayern Muenchen, Alaba adalah orang Austria. Dengan begini, dia pun tidak mendapatkan dukungan yang sama dengan apa yang dia peroleh di Bayern. Piala Dunia pun, setidaknya untuk saat ini, kembali lepas dari cengkeraman Alaba.

Gelandang - Arturo Vidal (Cile)

Arturo Vidal

Arturo Vidal pensiun dari Timnas Cile. (Foto: AFP/Franck Fife)
Sama seperti Alaba, Arturo Vidal juga bermain untuk Bayern Muenchen di level klub. Namun, untuk urusan timnas, Vidal sebenarnya punya rekan-rekan yang lebih baik ketimbang Alaba. Buktinya, Cile sebelum ini mampu menjadi juara Copa America dua kali dan masuk ke final Piala Konfederasi.
Namun, entah apa yang terjadi, Cile gagal di detik-detik akhir kualifikasi. Vidal yang kecewa pun sempat mengatakan bakal mundur dari timnas. Meski begitu, pemain 30 tahun ini kemudian meralatnya dan mengatakan bahwa dia siap dipanggil kapan pun La Roja membutuhkannya. We feel you, Arturo.

Gelandang - Miralem Pjanic (Bosnia-Herzegovina)

Miralem Pjanic

Pjanic merayakan gol ke gawang Yunani. (Foto: AFP/Angelos Tzortzinis)
Setelah lolos ke Piala Dunia 2014, prestasi Bosnia-Herzegovina terus menurun. Di Piala Eropa 2016 lalu, mereka juga gagal tampil. Kini, Piala Dunia 2018 pun lepas dari genggaman. Hal ini sebetulnya agak disayangkan karena mereka punya beberapa pemain berkualitas seperti Edin Dzeko dan tentunya, Miralem Pjanic.
Pjanic adalah salah satu playmaker terbaik Eropa. Visinya brilian, eksekusi bola-bola matinya cukup mematikan, dan kini, dirinya pun makin berani terlibat dalam duel-duel fisik. Komplet, untuk ukuran gelandang tengah. Namun, itu semua tidak cukup untuk mengantarkan negaranya lolos ke Piala Dunia untuk kali kedua. Sangat disayangkan.

Gelandang - Marek Hamsik (Slovakia)

Marek Hamsik

Hamsik gagal ke Piala Dunia. (Foto: AFP/Vladimir Simicek)
Satu lagi pemain hebat yang lahir di negara yang salah. Marek Hamsik adalah sosok legendaris di Napoli. Kontribusinya selama sepuluh tahun terakhir berhasil mengangkat kembali martabat Partenopei yang sempat jatuh. Hamsik pun saat ini sedang berada di trek yang tepat untuk menjadi pendamping Diego Maradona sebagai dewanya para Neapolitan.
Tetapi, Slovakia bukanlah Napoli. Di timnasnya, Hamsik tidak punya Jorginho dan Allan untuk berkolaborasi. Hasilnya, negara yang dulu pernah bersatu dengan Republik Ceko itu pun gagal mengulangi prestasi pada 2010 silam. Satu pemain berambut mohawk dan berkaus kaki pendek pun dipastikan takkan terlihat di Rusia.

Sayap Kanan - Arjen Robben (Belanda)

Arjen Robben

Arjen Robben pensiun dari Timnas Belanda. (Foto: Reuters/Stringer)
Pemain satu ini juga sudah terhitung uzur untuk ukuran pesepak bola. Namun, Arjen Robben masih punya kualitas yang bakal sangat dirindukan penikmat Piala Dunia tahun depan. Tanpa Robben, siapa lagi yang akan melakukan gerakan memotong ke dalam dari sayap kiri sebelum melakukan tembakan lengkung--selain Lionel Messi?
Robben, seperti halnya Van Dijk, memang tak cukup beruntung karena harus berada satu generasi dengan salah satu generasi terburuk Timnas Belanda. Selama kualifikasi, sudah tak terhitung berapa kali Robben yang juga berlaku sebagai kapten ini mengangkat Oranje sendirian. Namun, itu semua tentunya tak cukup. Belanda gagal lolos, Robben pun pamit mundur.

Sayap Kiri - Alexis Sanchez (Cile)

Alexis Sanchez

Alexis saat bersama Timnas Cile. (Foto: Rodrigo Garrido/Reuters)
Malang betul, memang, nasib Alexis Sanchez ini. Sudah harus terjebak di Arsenal usai transfernya ke Manchester City tiba-tiba gagal, dia pun gagal membawa Cile lolos ke Piala Dunia. Seandainya saja selisih gol Cile lebih baik, mereka bakal bisa menjaga asa ke Piala Dunia karena poin mereka sama dengan Peru yang kini masih terlibat dalam babak play-off. Namun, begitulah. Nasib memang belum jua memihak Alexis tahun ini.

Penyerang - Pierre-Emerick Aubameyang (Gabon)

Pierre-Emerick Aubameyang

Aubameyang saat berlaga di Piala Afrika. (Foto: AFP/Gabriel Bouys)
Oke, memang Gabon bukanlah salah satu negara yang punya tradisi berlaga di Piala Dunia. Namun, Pierre-Emerick Aubameyang adalah salah satu pemain terbaik dunia dan agak menyedihkan rasanya kalau pemain sekaliber dirinya belum pernah merasakan kerasnya Piala Dunia.
Namun, mau bagaimana lagi? Well, ini cuma pengandaian saja. Aubameyang, walaupun berdarah Gabon, sebetulnya lahir di Prancis. Seandainya saja dia memilih Prancis alih-alih Gabon, pemain Borussia Dortmund ini tentu akan berangkat ke Rusia tahun depan. Tetapi, yang namanya rasa cinta memang tidak bisa ditawar-tawar ternyata.

Cadangan:
Jan Oblak (Slovenia)
Kiper Atletico Madrid ini adalah salah satu yang terbaik di dunia. Sial saja dia terlahir sebagai orang Slovenia.
Leonardo Bonucci (Italia)
Walaupun kiprahnya di Milan masih begitu-begitu saja, Leonardo Bonucci dengan umpan-umpan panjangnya yang cantik itu seharusnya bakal sangat dirindukan di Rusia tahun depan.
Aaron Ramsey (Wales)
Ah, Wales. Ternyata, keberhasilan mereka di Piala Eropa 2016 lalu cuma kebetulan.
Henrikh Mkhitaryan (Armenia)
Oke, memang tidak ada yang mengharapkan Armenia lolos ke Piala Dunia. Tetapi, alangkah mubazirnya talenta seperti Henrikh Mkhitaryan jika tak pernah dipakai di ajang seperti itu.
Gareth Bale (Wales)
Lihat: Aaron Ramsey
Christian Pulisic (Amerika Serikat)
Christian Pulisic memang masih punya banyak waktu. Namun, sebagai Lionel Messi-nya Amerika, Piala Dunia 2018 seharusnya jadi ajang pembuktian bagi pemain Dortmund ini untuk menunjukkan apakah dia memang benar Lionel Messi-nya Amerika atau cuma Landon Donovan baru.
Ciro Immobile (Italia)
Sebagai salah satu penyerang tertajam di muka bumi, Ciro Immobile sebetulnya berhak untuk tampil di Piala Dunia. Namun, Gian Piero Ventura merusak segalanya.


SportsSepak BolaPiala DuniaTimnas ItaliaTimnas Belanda

500

Baca Lainnya