• 1

Tiada Sesal untuk Mamelodi Sundowns

Tiada Sesal untuk Mamelodi Sundowns



Suporter Mamelodi Sundowns

Suporter Mamelodi Sundowns di Pretoria (Foto: Stringer)
Piala Dunia Antarklub yang menampilkan para klub juara dari berbagai benua memang kurang mendapatkan perhatian dari publik. Kendati demikian, turnamen yang sebelumnya bernama Piala Interkontinental (dan hanya mempertemukan juara Eropa dengan kampiun Amerika Selatan)  itu mempunyai daya tarik tersendiri. Tampilnya beberapa klub “asing” melawan klub mapan Eropa dan Amerika Latin tentu menjadi tontonan yang menarik.
Turnamen kali ini diikuti oleh Real Madrid, Club America, Atletico Nacional, Jeonbuk Hyundai Motors, Mamelodi Sundowns, Auckland City serta Kashima Antlers yang bertindak sebagai tuan rumah. Dari keenam klub di atas, nama Mamelodi Sundowns terbilang paling asing. Nasibnya pun tak jauh berbeda dengan gaungnya. Mereka harus “diasingkan” usai kalah di babak perempat final. Padahal, mereka belum sempat menjajal kekuatan Real Madrid yang menjadi tim paling diunggulkan.
Sebagai wakil Afrika yang (biasanya) lebih superior dari Asia, mereka justru menelan dua kekalahan dari dua klub Asia yang berbeda. Pada laga pertama, Mamelodi takluk dari Kashima yang notabene “hanya” juara J-League. Meski bermain cukup agresif, dengan total 14 attempts yang dilepaskan oleh klub berjuluk The Brazilians itu, tidak ada satu upaya pun yang bersarang di gawang Kashima. Dua peluang emas dari Percy Tau dan Samuel Mabunda sukses dimentahkan oleh Hitoshi Sogahata yang tampil impresif.
Sogahata yang pernah menjadi deputi Yoshikatsu Kawaguchi di Tim Nasional (Timnas) Jepang sukses menggagalkan lima upaya tepat sasaran dari Mamelodi. Alih-alih mencetak gol, Mamelodi justru kecolongan dua gol pada babak kedua melalui gol Yasushi Endo dan Mu Kanazaki.  Kekalahan 0-2 ini agak ironis jika menilik dominasi Mamelodi pada laga tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan penguasaan bola sebesar 60% yang berhasil dicatatkan klub berseragam kuning-biru tersebut.
Kesialan Mamelodi masih berlanjut. Mereka kembali takluk atas wakil Asia lainnya, Jeonbuk Hyundai Motors, pada perebutan tempat keempat. Meski Percy Tau mampu mencetak satu gol spektakuler, gawang Kennedy Mweene justru digelontor empat gol oleh Jeonbuk. Mamelodi pun takluk 1-4 dan harus puas mengakhiri turnamen di peringkat keenam.
Tentu kesialan semata tak cukup untuk menjadi kambing hitam bagi sebuah tim kuda hitam sekelas Mamelodi. Selain dari segi permainan, ada dua alasan yang membuat penampilan mereka  tak maksimal. Suhu di Jepang yang terlampau dingin berpengaruh pada kondisi fisik para pemain. Saat berhadapan dengan Kashima di Suita City Football Stadium, Mamelodi juga harus bertarung melawan dinginnya cuaca yang menyentuh angka 6°C. Padahal, di Pretoria tempat mereka bermarkas, Mamelodi biasa bermain dengan suhu yang berkisar di angka 24°C. Cukup drastis.
Selain itu, perjalanan selama 22 jam yang ditempuh juga menimbulkan efek bagi para pemain. Mereka mengalami jetlag dan harus beristirahat antara satu hingga dua hari untuk pemulihan kondisi. Akibatnya, setelah tiba di Jepang pada Selasa (6/12/2016), sang pelatih, Pitso Mosimane, terpaksa membatalkan jadwal latihan yang direncanakan pada Rabu malam.
Sejatinya, Mamelodi tak perlu kecewa atas dua kekalahan kemarin, toh faktor jetlag serta cuaca bisa menjadi alasan yang rasional. Perjalanan sejauh 13.000 km ke Osaka, Jepang, juga pada akhirnya tidak sia-sia. Selain karena mereka mendapat hadiah hiburan berupa uang sebesar 13,5 juta rand, ada kebanggaan tersendiri bagi Mamelodi karena mereka merupakan klub Afsel pertama yang mengikuti Piala Dunia Antarklub.
Jika berbicara soal klub di tanah Afsel, nama Orlando Pirates atau Kaizer Chiefs jelas lebih termasyhur. Orlando Pirates yang didirikan pada tahun 1937 merupakan klub tertua di sana. Tak hanya itu, Orlando Pirates juga pernah mengharumkan nama negeri asal Nelson Mandela itu kala menjuarai Liga Champions Afrika pada tahun 1995.
Di sisi lain, Kaizer Chiefs bisa diibaratkan sebagai Manchester United–nya Afsel. Alasannya, klub berjuluk Amakhosi (dalam bahasa Zulu berarti raja) itu menjadi klub yang mempunyai pendukung terbanyak dibanding klub lainnya. Bahkan, suporter Kaizer Chiefs juga banyak berasal dari negara-negara tetangga seperti Botswana, Zimbabwe, Mozambik, hingga Namibia.
Meski nama Orlando Pirates dan Kaizer Chiefs lebih terdengar gaungnya, untuk urusan gelar juara South African Premier Division, kedua klub ini masih kalah dibanding Mamelodi Sundowns. Klub yang pernah dilatih legenda sepak bola Belanda, Johan Neeskens, itu sudah mengoleksi tujuh gelar juara liga. Bandingkan dengan Kaizer Chiefs dan Orlando Pirates yang masing-masing baru mengumpulkan empat gelar.
Kendati demikian, Mamelodi juga pernah mengalami masa suram. Dari 20 kali digelarnya South African Premier Division, mereka sembilan kali finis di luar posisi tiga besar. Bahkan mereka pernah terdampar di urutan ke-10 dalam dua musim beruntun, yakni pada musim 2002/03 dan 2003/04.
Usai mengalami masa suram, Mamelodi kembali menunjukan tajinya pada musim 2015/2016. Dari total 30 laga, mereka hanya tiga kali menelan kekalahan. Selain itu, mereka juga menjadi tim yang paling agresif (55 gol) dan paling sedikit kebobolan (20 gol). Mereka meraih gelar juara dengan mengumpulkan 71 angka, unggul jauh dari Bidvest Wits yang bercokol di peringkat kedua dengan 57 poin. Sementara itu, Kaizer Chiefs dan Orlando Pirates hanya finis di posisi 5 dan 7.
Selain itu, perjuangan klub yang ditukangi Pitso Mosimane itu di Liga Champions Afrika patut diacungi jempol. Pasalnya, mereka memulai turnamen dari babak paling awal karena pada musim sebelumnya mereka hanya menduduki posisi runner-up di bawah Kaizer Chiefs. Sejak tahun 2004, runner-up 12 liga teratas Afrika berkesempatan untuk melalui babak kualifikasi. Koefisien liga teratas dihitung melalui performa klub mereka selama lima tahun ke belakang.
Mamelodi  harus melewati tiga babak kualifikasi sebelum bisa berlaga di fase grup: babak kualifikasi, putaran pertama (32 tim), dan putaran kedua (16 tim). Setelah itu, delapan tim yang lolos akan terbagi dalam dua grup, di mana dua tim teratas akan lolos ke babak semifinal.
Usai melewati hadangan ZESCO United dari Zambia, Mamelodi Sundowns berus kembali dengan wakil Mesir, Zamalek, yang mereka tundukkan 1-0 di fase grup. Tiga gol tanpa balas pada leg pertama yang dihelat di Lucas Masterpieces Moripe Stadium, Pretoria, hanya mampu dibalas satu gol oleh Zamalek padai pertemuan kedua. Torehan itu berhasil menebus kegagalan 15 tahun silam saat ditundukan klub Mesir lainnya, Al-Ahly, di partai final.
Torehan gemilang The Brazilians saat menjuarai Liga Champions Afrika memang kemudian harus diikuti oleh hasil buruk di Piala Dunia Antarklub, tapi setidaknya Mamelodi mengukir sukses prestasi sebagai klub Afsel pertama yang ikut serta di kompetisi elite antarklub dunia tersebut. Antiklimaks yang sungguh tak perlu disesali.

Sepak BolaMamelodi SundownsPiala Dunia AntarklubSports

500

Baca Lainnya