• 1

Timnas Indonesia di Piala AFF 2016: Jatuh, Bangun, Jatuh Lagi

Timnas Indonesia di Piala AFF 2016: Jatuh, Bangun, Jatuh Lagi



Andik Vermansah

Andik Vermansah dikurung oleh pemain-pemain Singapura (Foto: AFF Suzuki Cup)
“Kenapa sih nyari 11 orang buat main bola aja susahnya bukan main?”
Pertanyaan satire itu, bersama beberapa pertanyaan lain seperti “kapan nikah” dan “kapan lulus” adalah salah satu pertanyaan paling sulit dijawab di Indonesia. Dilontarkan hampir setiap kali tim sepak bola nasional kita tampil mengecewakan, belum ada seorang pun hingga kini yang benar-benar mampu menjawab pertanyaan itu.
Ada banyak yang sudah mencoba menjawab. Beragam alasan mulai dari buruknya pembinaan usia dini sampai korupsi di federasi sudah sering dikemukakan. Bukan hanya orang-orang sok tahu di media sosial yang mengatakan itu, tetapi mereka-mereka yang sudah lama berkecimpung sebagai praktisi.
Anehnya, meski daftar permasalahan telah dibuat, solusi tak kunjung disepakati. Alhasil, lubang kunci di lemari trofi Tim Nasional (Timnas) Indonesia level senior pun kini telah berkarat karena tak pernah diputar. Kuncinya pun (barangkali) sudah raib entah ke mana.
***
Timnas Indonesia datang sebagai underdog ke Piala AFF 2016. Selain karena pada turnamen sebelumnya, Piala AFF 2014, “Tim Merah Putih” gagal lolos dari fase grup, sanksi Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) – yang berbuntut pula pada ketiadaan kompetisi resmi – sempat membuat sepak bola Indonesia mati suri.
Usai sanksi FIFA dicabut pada pertengahan Mei 2016, Indonesia pun kembali diperkenankan untuk menjalankan aktivitas persepakbolaan baik pada level domestik maupun internasional. Indonesia memang akhirnya sudah terlanjur tak bisa berlaga pada ajang Kualifikasi Piala Dunia 2018, dan Piala AFF yang (masih) menjadi holy grail persepakbolaan kita, kemudian menjadi ajang comeback “Skuat Garuda” dalam kancah internasional.
Tidak banyak harapan yang dibebankan di pundak para penggawa timnas. Selain karena alasan-alasan yang telah disebut di atas, kebijakan dua pemain per klub juga sedikit menyulitkan Alfred Riedl, pelatih timnas Indonesia, untuk menghimpun kekuatan terbaik Timnas Indonesia. Beberapa pertandingan latih tanding yang dilakoni jelang turnamen pun tidak menunjukkan adanya harapan besar. Satu kemenangan atas Malaysia, satu kekalahan dari Vietnam, serta dua  hasil imbang dengan Vietnam dan Myanmar menjadi bekal timnas ke Piala AFF 2016.

Pelatih Timnas Alfred Riedl menggelar latihan untuk menghadapi final Piala AFF 2016

Pelatih kepala timnnas Indonesia Alfred Riedl menggelar latihan untuk menghadapi final Piala AFF 2016 melawan Thailand di Karawaci, Tangerang, Senin (12/12/2016). Timnas Indonesia akan kembali tampil di depan puluhan ribu suporternya saat menjamu Timnas Thailand di leg pertama Final Piala AFF 2016 yang digelar di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (14/12/2016). (Foto: Aditia Noviansyah/Kumparan)
Langsung Dibungkam Thailand
Benar saja. Pada laga pembuka Grup A, Indonesia harus langsung bersua dengan Thailand. Menggunakan formasi 4-4-2 yang selalu digunakan pada empat uji tanding sebelumnya, tim “Gajah Perang” berhasil menekuk “Garuda” 4-2.
Pada laga yang digelar di Philippine Sports Stadium, Bocaue, Sabtu (19/11/2016), Indonesia sebenarnya sempat mampu menyamakan kedudukan setelah tertinggal 0-2 hingga turun minum. Dua gol sundulan masing-masing dari kapten Boaz Solossa dan penyerang pendatang baru, Lerby Eliandry, sempat mengembalikan asa Timnas Indonesia untuk (setidaknya) mencuri poin.
Akan tetapi, Thailand – lewat kapten mereka, Teerasil Dangda – kemudian menunjukkan keperkasaan mereka. Dua gol Dangda usai Indonesia menyamakan kedudukan melengkapi hattrick-nya dan skor 4-2 untuk kemenangan Thailand menjadi hasil yang harus diterima anak-anak asuhan Riedl.

Teerasil Dangda

Teerasil Dangda menjadi biang kekalahan Indonesia atas Thailand pada partai pembuka Grup A Piala AFF 2016 (Foto: AFF Suzuki Cup)
Tertahan oleh Tuan Rumah
Filipina kembali menjadi momok bagi Indonesia. Setelah pada pertemuan sebelumnya di Piala AFF 2014 berhasil menghajar Indonesia empat gol tanpa balas, The Azkals kembali membuktikan diri bahwa mereka adalah batu sandungan berbahaya untuk “Skuat Garuda”.
Unggul dua kali, Indonesia harus kehilangan keunggulan dua kali pula. Bek Sriwijaya FC, Fachruddin Aryanto, berhasil membuka keunggulan Indonesia pada awal-awal pertandingan, tetapi Misagh Bahadoran kemudian mampu menyamakan kedudukan. Angka 1-1 terpampang di papan skor Philippine Sports Stadium saat turun minum.

Stefano Lilipaly

Stefano Lilipaly berusaha melepaskan diri dari kawalan pemain Filipina (Foto: AFF Suzuki Cup)
Boaz Solossa kemudian berhasil mengembalikan keunggulan Indonesia. Sayang, gol tendangan bebas Phil Younghusband kemudian menempatkan Indonesia kembali di ujung tanduk.
Comeback Dramatis Melawan Singapura
Hasil imbang kontra Filipina (22/11/2016) membuat laga pamungkas Indonesia terasa amat berat. Selain harus menang atas Singapura, Timnas Indonesia juga harus menggantungkan nasib pada hasil antara Thailand dan Filipina pada laga penutup fase grup lain. Jika Filipina kalah, barulah Indonesia bisa memastikan kelolosan ke semifinal.
Khairul Amri sempat menutup asa Indonesia lewat golnya pada menit ke-27 dan keunggulan satu gol itu bertahan hingga akhir babak pertama. Hingga saat itu, peluang Indonesia praktis habis karena selain dalam posisi tertinggal, Filipina pun masih berhasil menahan Thailand tanpa gol.
Andik Vermansah, pemain sayap yang bermain untuk Selangor FC, berhasil membuka sedikit pintu harapan bagi Timnas Indonesia. Gol indahnya pada menit ke-62 membuat tekanan sedikit mengendur untuk “Tim Merah Putih”.

Andik Vermansah

Andik Vermansah dikurung oleh pemain-pemain Singapura (Foto: AFF Suzuki Cup)
Pada menit ke-81, di laga antara Filipina dan Thailand, penyerang sayap Thailand, Sarawut Masuk, berhasil menggetarkan jala gawang tuan rumah. Asa Indonesia pun kian membumbung.
Empat menit kemudian, lewat aksi anak bangsa dari tanah rantau, Stefano Lilipaly, barulah semua beban dan tekanan itu seketika terangkat dari pundak anak-anak timnas. Gelandang serang SC Telstar tersebut berhasil mencocor bola ke gawang Singapura dan membalikkan keadaan menjadi 2-1 untuk Indonesia. Skor tersebut bertahan hingga peluit akhir dan Indonesia pun berhasil lolos dari lubang jarum setelah pada laga lainnya, Filipina juga gagal membalas gol dari Sarawut. Indonesia berhasil melaju ke semifinal.
Hal-Hal Pelik Jelang Semifinal
Lolos sebagai runner-up Grup A, Indonesia sudah dinanti oleh juara Grup B, Vietnam, pada babak semifinal. Tak seperti fase grup yang digelar di tanah netral, fase gugur Piala AFF dihelat dengan sistem kandang-tandang. Sebagai tim yang lebih tidak diunggulkan secara status kelolosan, Indonesia bertindak sebagai tuan rumah terlebih dahulu.
Renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk Asian Games 2018 membuat Indonesia harus mencari berbagai alternatif untuk menggelar laga kontra Vietnam. Beberapa nama stadion sempat diajukan, seperti Stadion Gelora Bandung Lautan Api hingga Stadion Manahan di Surakarta, namun pilihan akhirnya jatuh pada sebuah stadion yang namanya belum begitu familiar: Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor.
Stadion ini sempat dipertanyakan kelayakannya mengingat masih belum sempurnanya fasilitas-fasilitas pendukung stadion. Beberapa hari sebelum laga digelar pun masih jamak ditemui tumpukan tanah dan kendaraan-kendaraan proyek di seputaran stadion. Meski begitu, stadion ini akhirnya lolos uji kelayakan dan akhirnya ditetapkan sebagai “kandang darurat” timnas.

Stadion Pakansari

Stadion Pakansari dilihat dari udara (Foto: AFF Suzuki Cup)
Masalah tak sampai di situ. Mengingat animo khalayak yang membuncah, 27.000 tiket yang disediakan panitia penyelenggara (panpel) terasa sangat kurang. Apalagi, masalah juga terjadi saat penjualan baik secara online maupun offline (penjualan langsung di loket).
Rencana awalnya, tiket hanya akan dijual secara online lewat situsweb Kiostix, namun kegagalan mereka menghadapi traffic pembeli tiket membuat sebagian besar calon pembeli kesulitan mengakses situsweb tersebut. Pada H-1 pertandingan (2/12/2016), tiket Kategori 3 pun didistribusikan secara offline lewat loket di Gelora Bung Karno dan Stadion Persikabo, Bogor. Rinciannya, 10.000 tiket dijual di Jakarta dan 5.000 tiket dilepas di Bogor.
Meski tampak sebagai solusi yang cukup ideal, nyatanya masalah juga masih terjadi. Di loket Gelora Bung Karno, tiket ludes hanya dalam waktu kurang lebih dua jam. Para calo yang berkeliaran pun menjadi kambing hitam atas kelangkaan ini. Sekelompok pengantre yang tak puas pun kemudian sempat melakukan unjuk rasa impromptu di depan kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Sayang, aksi ini tidak mendapat tanggapan dari kementerian tersebut.
00:00:00/00:00:00

Demo Suporter
Dua Leg dengan Vietnam yang Mendebarkan
Terlepas dari segala perkara tak menyenangkan soal distribusi tiket, laga melawan Vietnam pun akhirnya tetap digelar di Stadion Pakansari, Bogor, pada hari Sabtu (3/11/2016). Pada laga yang disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo, Indonesia harus tampil tanpa dua bek tengah yang biasa menghuni jantung pertahanan pada tiga laga fase grup, Fachruddin Aryanto dan Rudolof Yanto Basna, yang terkena akumulasi kartu kuning.
Duo bek muda, Hansamu Yama Pranata dan Manahati Lestusen pun dipercaya untuk mengawal pertahanan Timnas Indonesia. Meski terlihat meragukan, dua pemain ini justru tampil brilian. Hansamu Yama, pemain yang sempat dicaci lantaran mencederai Irfan Bachdim pada latihan jelang turnamen, membuka keunggulan pada menit ke-7. Sepak pojok Rizki Rizaldi Pora berhasil ditanduk pemain berusia 21 tahun itu ke gawang Vietnam. 1-0 Indonesia memimpin.
Sepuluh menit berselang, Stadion Pakansari sempat dibungkam oleh gol penalti Nguyen Van Quyet yang berawal dari keputusan kontroversial wasit asal Australia, Jarred Gillett. Skor 1-1 ini bertahan hingga babak pertama berakhir.
Tak lama setelah babak kedua dimulai, Boaz Solossa berhasil membawa Indonesia unggul kembali setelah sepakan penaltinya gagal ditahan penjaga gawang Vietnam. Indonesia kembali unggul 2-1 dan skor ini pun akhirnya menjadi hasil akhir pertandingan leg pertama.
Empat hari kemudian, Vietnam gantian menjamu Indonesia di Stadion My Dinh, Hanoi. Berada dalam posisi tertinggal, tim asuhan berjuluk The Golden Stars itu langsung menekan habis pertahanan Indonesia sejak menit pertama. Pressing blok tinggi diterapkan anak-anak asuh Nguyen Huu Thang dan hal ini sempat membuat Indonesia kelabakan.
Pada laga ini sendiri, Riedl tampaknya paham bahwa Vietnam akan bermain sangat agresif. Pelatih gaek asal Austria itu pun mengganti formasi 4-4-2 yang sebelumnya selalu digunakan dengan formasi 4-2-3-1 yang di atas kertas lebih nyaman digunakan untuk bertahan. Manahati Lestusen yang pada laga sebelumnya mendampingi Hansamu Yama di sentral pertahanan digeser lebih ke depan menjadi satu dari dua poros (pivot), sementara itu Fachruddin sudah bisa kembali bermain.
Meski terus digempur, Indonesia justru akhirnya bisa unggul lebih dulu lewat sontekan Lilipaly. Bola liar di depan garis gawang Vietnam berhasil dikonversi pemain berusia 26 tahun itu menjadi gol.
Unggul dua gol, Indonesia semakin berada di atas angin setelah wasit asal China, Fu Ming, mengusir penjaga gawang Vietnam dari lapangan. Vietnam yang sudah melakukan tiga pergantian pun terpaksa menggunakan salah satu outfield player mereka sebagai kiper darurat.
Pada situasi ini, setidaknya ada dua peluang emas yang diciptakan oleh Indonesia, yakni lewat Ferdinan Sinaga dan Rizki Pora. Peluang Rizki Pora bahkan sempat membuat wasit sempat berpikir untuk memberi kartu merah pada kiper darurat Vietnam, akan tetapi setelah berdiskusi dengan asisten wasit, Fu Ming urung mencabut kartu.

Manahati Lestusen

Manahati merayakan gol yang memastikan kelolosan Indonesia ke final Piala AFF 2016 (Foto: AFF Suzuki Cup)
Kegagalan Indonesia mengkonversi dua peluang emas menjadi gol justru melecut semangat Vietnam. Vietnam kemudian justru berbalik unggul saat waktu normal hampir mendekati akhir. Pertandingan pun harus dilanjutkan ke babak tambahan, di mana sebuah gol penalti dari Manahati Lestusen akhirnya membuat kedudukan kembali imbang. Skor 2-2 bertahan hingga menit ke-120 dan Indonesia pun melaju ke final lewat keunggulan agregat 4-3.
Huru-Hara Jelang Final
Thailand, yang pada laga semifinal lain berhasil membekap Myanmar enam gol tanpa balas, menjadi lawan yang harus dihadapi Indonesia pada partai puncak. Dengan kekalahan pada pertemuan pertama di turnamen, rasa waswas tidak bisa tidak menjangkiti Timnas Indonesia. Nyatanya, Indonesia memang saat ini sudah kalah kelas dibanding Thailand dan bertemu dengan tim yang kelasnya sudah berbeda pada laga puncak jelas semakin mengecilkan peluang “Skuat Garuda”.
Bukan hal teknis sepak bola seperti ini saja yang menjadi kendala. Masalah ticketing lagi-lagi menjadi perkara besar. Meski penjualan tiket online sudah cenderung lebih baik dibanding penjualan jelang laga kontra Vietnam, kualitas penjualan tiket offline pertandingan yang kembali digelar di Stadion Pakansari itu justru mengalami penurunan.
Khusus tiket Kategori III, penjualan tiket offline digelar di dua markas tentara. 10.000 tiket dijual di Markas Garnisun Tetap 1 dan 5.000 tiket lainnya dijual di markas Kodim Kabupaten Bogor. Alasan pemindahan lokasi penjualan tiket ini, menurut Sekretaris Jenderal Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Ade Wellington, dalam konferensi pers di kantor PSSI, Sabtu (10/12/2016) adalah untuk meninimalisasi percaloan.
Nyatanya, meski dilakukan dengan niat baik, eksekusi penjualan justru tampak amburadul. Tiadanya sistem antrean yang jelas membuat banyak calon pembeli berang. Perlakuan kasar aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI) kepada para pengantre, termasuk dengan memukuli dan memerintahkan untuk berjalan jongkok, menjadi catatan hitam tersendiri. Hal ini belum termasuk dengan masih ditemukannya calo pada proses penjualan ini.
00:00:00/00:00:00

Antre Tiket Final Piala AFF 2016
Sebagai respons dari buruknya sistem penjualan di Markas Garnisun Tetap 1 Jakarta, sekelompok orang yang tergabung dalam Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) kemudian mengadakan konferensi pers pada hari Senin (12/12/2016) untuk menyatakan kekecewaan mereka. Mereka meminta agar suporter lebih dilibatkan dalam pendistribusian tiket timnas, agar harga tiket lebih disesuaikan dengan kemampuan suporter, dan agar PSSI memperbaiki sistem ticketing.
Harapan yang Sempat Menghampiri
Hari penentuan itu akhirnya tiba. Rabu (14/12/2016), Stadion Pakansari kembali menjadi saksi bisu perjuangan “Skuat Garuda” di ajang Piala AFF 2016. Tribun yang dimerahkan oleh suporter timnas sempat terdiam saat Teerasil Dangda mencetak gol lewat sundulan kepala. 1-0 untuk Thailand bertahan hingga peluit turun minum.
Pada babak kedua, Indonesia tampil beda. Lebih agresif dalam melakukan pressing dan lebih berani dalam melakukan umpan pendek kombinasi, “Tim Merah Putih” berhasil mencetak gol penyama kedudukan setelah sepakan keras Rizki Pora dari luar kotak penalti membentur punggung salah satu pemain Thailand sehingga berbelok arah dan mengecoh kiper Thailand, Kawin Thamsatchanan.
Tak lama setelah gol tersebut, Rizki Pora kembali menjadi aktor penting dalam terciptanya gol kedua. Sepak pojok winger Barito Putera tersebut berhasil diceploskan lewat sundulan kepala Hansamu Yama ke gawang Kawin. Indonesia pun berbalik unggul 2-1.
00:00:00/00:00:00

Gol Hansamu Yama
Pertandingan ini sendiri diwarnai oleh perubahan taktikal dari pelatih Thailand, Kiatisuk Senamuang. Jika sebelum-sebelumnya, Zico, sapaan akrab Kiatisuk, selalu menggunakan formasi 3-4-1-2, maka pada laga ini ia memilih untuk melakukan mirroring terhadap formasi Indonesia, 4-2-3-1. Kiatisuk khawatir akan kecepatan dua winger Timnas Indonesia, Rizki Pora dan Andik Vermansah, terutama dalam situasi serangan balik. “Perjudian” Kiatisuk pun justru akhirnya menjadi bumerang karena dengan formasi seperti itu, lini tengah Thailand justru kesulitan menembus lini tengah Indonesia yang dikomando Manahati Lestusen.
Selain aksi menarik di dalam lapangan, peristiwa menarik juga terjadi di luar lapangan. Pertandingan yang seharusnya menjadi momen bahagia bagi Timnas Indonesia dan segenap pendukungnya ini justru diwarnai oleh hal-hal tak menyenangkan di luar stadion. Ternyata, di pintu masuk stadion ada cukup banyak penonton bertiket resmi yang tidak bisa masuk ke stadion. Alasan yang diberikan kepada mereka adalah bahwa stadion sudah penuh. Hal ini jelas memunculkan tanda tanya besar bagi mereka yang sudah lelah berjuang mendapatkan tiket.
Gajah Lagi, Gajah Lagi
Jelang laga di Stadion Rajamangala, Sabtu (17/12/2016), Timnas Indonesia sebenarnya berada dalam kondisi mental yang bagus. Lontaran tawa dan canda menjadi pemandangan mengasyikkan yang bisa disaksikan pada sesi latihan terakhir. Optimisme belum lenyap dari kamp Timnas Indonesia.
Malam harinya, semua lenyap. Tawa berganti tangis, canda berganti air mata. Indonesia takluk 0-2 dan kalah agregat 2-3 dari Thailand. Kalah lagi, kalah lagi. Gajah lagi, gajah lagi.

Final Piala AFF 2016

Bentuk dukungan suporter Timnas Thailand pada final putaran kedua AFF Suzuki Cup 2016 di Rajamangala National Stadium, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12). (Foto: Aditia Noviansyah)
Sepak bola Indonesia memang punya trauma tersendiri dengan “gajah”. Sejak 1988, setidaknya ada tiga peristiwa besar “sepak bola gajah” yang menghantui persepakbolaan kita. Dimulai dengan kekalahan 0-12 Persebaya Surabaya dari Persipura Jayapura, gol bunuh diri Mursyid Effendi pada Piala Tiger 1998, hingga yang termutakhir, lomba gol bunuh diri antara PSS Sleman dan PSIS Semarang pada tahun 2014.
Di kancah Asia Tenggara pun, Gajah Putih menjadi momok yang amat menakutkan. Sejak gol bunuh diri Mursyid hingga final Piala AFF 2016 lalu, Indonesia sudah kalah 8 kali dari 11 pertemuan. Kemenangan pertama atas Thailand diraih “Tim Merah Putih” pada perebutan tempat ketiga Piala Tiger 1998 di mana saat itu Indonesia menang 5-4 (2-2) lewat adu penalti. Setelah itu, Indonesia butuh 12 tahun untuk kembali berjaya atas Thailand yakni ketika menang 2-1 pada fase grup Piala AFF 2010. Masa tunggu 12 tahun kemudian dipangkas setengahnya menjadi 6 tahun setelah kemenangan pada leg pertama final Piala AFF 2016 lalu.
Sepak bola Indonesia, hingga kini, masih belum kunjung mampu lepas dari “phobia gajah”. Terlepas dari segala keterbatasan yang mengantar Indonesia ke Piala AFF 2016, kekalahan tipis dari Thailand kemarin terasa begitu menyakitkan karena pada laga sebelumnya, sempat muncul harapan di dada kita semua. Akan tetapi, menilik performa beberapa pemain muda seperti Hansamu Yama dan Manahati Lestusen, kita (mungkin) masih boleh berharap bahwa dalam waktu dekat, timnas senior kita bisa kembali mengangkat trofi. Semoga.


SportsSepak BolaPiala AFF 2016Timnas Indonesia

500

Baca Lainnya