• 1

Xhaka Bersaudara: Dari Pristina ke Pentas Dunia

Xhaka Bersaudara: Dari Pristina ke Pentas Dunia


Xhaka Bersaudara

Granit bergelut dengan Taulant Xhaka. (Foto: Reuters/Carl Recine)

Dalam catatan sejarah peradaban, kisah rivalitas antara dua saudara kandung adalah salah satu yang tertua. Para pemeluk agama samawi—meski dengan detail yang berbeda—tentu masih ingat betul kisah terbunuhnya Habil (Abel) di tangan kakaknya, Qabil (Cain), yang terbakar iri dan dengki.
Pada akhirnya, sudah tak terhitung lagi berapa kakak-beradik yang mengikuti jejak dua putra Adam tersebut. Dari Romulus dan Remus sampai Jack dan Bobby Charlton. Dari Mary dan Anne Boleyn sampai Adi dan Rudolf Dassler. Banyak sekali.
Akan tetapi, bagi kakak-beradik Xhaka, tidak pernah ada yang namanya rivalitas. Meski sama-sama mencari nafkah di lapangan hijau, Taulant dan Granit hampir tak pernah saling jegal untuk membuktikan siapa yang terbaik. Bagi kedua orang itu, jika salah satunya bahagia, maka yang lain akan berbahagia pula. Setidaknya begitu sampai akhirnya, kakak-beradik ini harus bersua di Stade Bollaert-Delelis, Lens, 11 Juni 2016 lalu.
Di situ, akhirnya terbukti bahwa Granit—atau lebih tepatnya tim yang dibela oleh Granit—lebih baik dibanding (tim yang dibela oleh) Taulant. Gol tunggal Fabian Schaer saat laga baru berumur tiga ratus detik membuat Swiss memetik poin penuh atas Albania pada laga pembuka Grup A Piala Eropa 2016 lalu.


Kemenangan itu sebenarnya tidak terlampau mengejutkan bagi Swiss, mengingat mereka adalah salah satu negara langganan Piala Eropa. Sementara, Albania adalah negara debutan. Ditambahnya jumlah peserta Piala Eropa oleh Presiden UEFA kala itu, Michel Platini, membuat negara di Semenanjung Balkan itu akhirnya punya kesempatan untuk unjuk gigi di putaran final turnamen antaregara paling bergengsi nomor dua di dunia itu.
Namun, bagi kedua negara itu, pertandingan tadi punya arti lebih. Di kubu Swiss, ada cukup banyak pemain berdarah Albania. Selain Granit Xhaka, di sana juga ada Xherdan Shaqiri, Valon Behrami, Admir Mehmedi, Blerim Dzemaili, dan juga Shani Tarashaj.
Sebaliknya, dari kubu Albania, selain Taulant Xhaka, ada Arlind Ajeti, Freddie Veseli, Amir Abrashi, Shkelzen Gashi, dan Mignjen Basha yang lahir dan besar di Swiss. Alhasil, pertemuan dua negara itu jadi tak ubahnya reuni keluarga yang berakhir dengan perkelahian.
Duka Albania di situ terlihat betul dari gestur Taulant Xhaka saat dirinya ditarik keluar pada menit ke-62. Saat berjalan menuju bangku cadangan, pemain Basel itu terlihat begitu kesal. Botol minuman yang diberikan salah satu staf langsung dibuangnya begitu saja.
Meski begitu, ketika wasit Carlo Velasco meniup peluit panjang, semua amarah Taulant Xhaka itu seperti lenyap. Disaksikan oleh sang ibu yang mengenakan separuh kostum Albania dan separuh kostum Swiss bertuliskan nama "Xhaka", Taulant menghampiri adiknya yang 18 bulan lebih muda itu. Mereka berdua pun bertukar kaus.

***

Xhaka Bersaudara

Xhaka Bersaudara bentrok di Piala Eropa. (Foto: Reuters/Darren Staples)

Bagi Granit dan Taulant Xhaka, keberhasilan mencapai Piala Eropa adalah sebuah hasil dari sebuah petualangan menghindari maut yang dijalani oleh kedua orang tua mereka, Ragip dan Elmaze.
Menjelang ambruknya Blok Timur, Ragip Xhaka yang lahir dan besar di Kosovo itu adalah salah satu orang yang getol sekali menyuarakan penentangan terhadap komunisme. Tak sekali dua kali saja demonstrasi dia lakukan hingga akhirnya, pada suatu hari di medio 1986, Ragip Xhaka dijebloskan ke penjara.
Ketika dia dibui itu, sebenarnya Ragip dan Elmaze sudah berencana untuk segera angkat kaki dari Kosovo. Situasi di kampung halaman mereka memang sudah tidak kondusif dan mereka sudah menetapkan hati untuk secepatnya pindah ke Swedia, yang pada akhirnya menjadi salah satu negara favorit para pencari suaka dari Balkan.
Akan tetapi, rencana dua sejoli itu harus tertunda sampai tiga setengah tahun kemudian. Lalu, ketika akhirnya, Ragip dibebaskan, tanpa pikir panjang lagi, mereka segera meninggalkan Pristina.
Dalam perjalanan menuju ke Swedia, bus yang mereka tumpangi sempat singgah dulu di Swiss. Kesempatan itu pun digunakan oleh Ragip dan Elmaze untuk mengunjungi kerabat mereka yang sudah lebih dahulu menetap di sana.

Xhaka Bersaudara

Xhaka dan Xhaka di dua tim berbeda. (Foto: Reuters/Carl Recine)

Namun, alih-alih melanjutkan perjalanan ke utara, Ragip dan Elmaze ternyata telanjur jatuh hati pada Swiss. Dengan banyaknya orang Kosovo yang juga menetap di sana, ditambah dengan kedamaian yang tidak bisa mereka temukan di rumah, pasangan Xhaka pun akhirnya menuruti saran salah satu kerabat mereka dan memilih untuk ikut menetap di sana pula.
Adalah di Basel, sebuah kota yang terletak di ujung barat laut Swiss, Ragip dan Elmaze akhirnya menemukan rumah baru. Mereka menemukan penghidupan hingga akhirnya bisa membangun keluarga dengan dua putranya, Taulant dan Granit.
Ketika kecil dulu, Taulant dan Granit kerap disangka anak kembar. Pasalnya, selain paras dan ukuran tubuh yang mirip, sang ibu juga doyan sekali memakaikan pakaian identik ke tubuh mereka. Namun, ada satu hal lain yang membuat kedua bocah itu sering dikira kembar yakni karena mereka selalu melakukan apa-apa berdua. Benar-benar tak terpisahkan.
Ketika Taulant berusia enam tahun—Granit berusia lima tahun—, Ragip memutuskan untuk memasukkan mereka ke sebuah akademi sepak bola bernama Concordia Basel. Tujuan Ragip kala itu hanya satu, yakni untuk menjauhkan mereka dari jalanan. Masuk akal, memang, mengingat mereka sudah susah payah meninggalkan rumah, akan sangat mengecewakan jika kedua putranya itu terjerumus ke kenakalan yang tidak diinginkan.
Apa yang berawal dari kekhawatiran sang ayah itu di kemudian hari memang bakal berbuah manis. Akan tetapi, tak selamanya perjalanan dua bersaudara ini di lapangan hijau berjalan mulus.

Granit Xhaka

Granit Xhaka di Basel. (Foto: Twitter/Throwback Arsenal)

Awalnya memang semua baik-baik saja. Bakat besar yang dimiliki Taulant dan Granit membuat mereka langsung dilirik oleh FC Basel hanya dua tahun setelah masuk ke Concordia sebagai kadet. Klub tersukses di Swiss itu benar-benar tertarik melihat bagaimana kedua bocah itu bertandem di tengah lapangan.
Dalam perjalanannya, Taulant memang seperti lebih dimudahkan. Tanpa hambatan berarti, secara bertahap dia akhirnya berhasil menemukan pintu ke tim utama. Sebaliknya, Granit sempat mengalami cedera yang membuat kariernya terancam di usia muda.
Pada usia 16 tahun, sekitar tahun 2008, cedera ligamen lutut memaksanya absen selama beberapa bulan dan hampir saja absen dari gelaran Piala Dunia U-17. Granit pun sudah menerima kenyataan kalau dia nantinya bakal tidak diikutkan ke dalam skuat tim nasional karena waktu bermainnya memang minim.
Namun, cederanya salah seorang rekan setim Granit akhirnya membuat pelatih Dany Ryser memanggil Granit. Di turnamen itu, dengan dikapteni Freddie Veseli, Swiss berhasil keluar sebagai juara. Di final, mereka mengalahkan tuan rumah Nigeria yang sebenarnya jauh lebih diunggulkan.
Pada musim 2010/11, Taulant dan Granit akhirnya sama-sama dipromosikan ke tim utama Basel. Meski begitu, Granit-lah yang kemudian diberi debut lebih awal, yakni tatkala mereka mengalahkan wakil Hongaria, Debreceni, pada laga kualifikasi Liga Champions. Sementara, Taulant baru diberi kesempatan beberapa bulan kemudian dalam sebuah pertandingan Piala Swiss.
Pada akhirnya, bakat Granit memang lebih besar dan tanpa kesulitan menjadi salah satu pilar Basel di lini tengah. Sementara itu, Taulant sempat harus dipinjamkan ke Grasshopper untuk mendapat menit bermain. Tren seperti itu berlanjut hingga akhirnya, Granit dilepas ke Borussia Moenchengladbach pada musim panas 2012.

Xhaka Bersaudara

Xhaka Bersaudara di Liga Champions 2016/17. (Foto: Twitter/@whoisitthisweek)

Sejak itu, karier Granit melesat dengan cepat dan bahkan, pada musim 2015/16 lalu, dia dipercaya menjadi kapten tim oleh pelatih Gladbach, Lucien Favre, sebelum akhirnya hijrah ke Arsenal selepas Piala Eropa. Soal ban kapten yang melingkar di lengan Granit itu, sang pemain pernah berkisah bahwa ketika kecil dulu, meski merupakan saudara muda, dia lebih dipercaya oleh sang ibu untuk memegang kunci rumah karena Taulant adalah anak yang ceroboh dan pelupa. Itulah mengapa, menjadi "kapten" bukanlah hal asing bagi dirinya.
Sementara itu, Taulant sampai saat ini belum juga hengkang dari Basel. Meski begitu, mulai musim ini, Taulant sudah dipercaya untuk menjadi deputi kapten Basel.
Sepanjang karier profesionalnya, selain bentrokan di Piala Eropa itu, Granit dan Taulant hanya pernah bertanding satu sama lain selama empat kali. Dua pertandingan pertama terjadi kala Taulant dipinjamkan ke Grasshopper, sementara dua lainnya terjadi ketika Granit sudah memperkuat Arsenal dengan Taulant sudah menjadi personel reguler di Basel.
Dalam lima pertandingan tersebut, tak sekali pun (tim yang diperkuat) Taulant memenangi pertandingan. Hasil terbaik diraih sang kakak ketika Grasshopper mengimbangi Basel pada putaran pertama Liga Super Swiss musim 2012/13 lalu.
Walau begitu, Taulant Xhaka tidak pernah berkecil hati. Sebaliknya, Granit pun tidak pernah mengangkat dagu terlalu tinggi. Bagi mereka, yang terpenting adalah kebahagiaan dan kebanggaan orang tua mereka. Itu saja.


Sepak BolaLiga EuropaArsenalSwissAlbania

500

Baca Lainnya