• 0

Yang Membedakan Moyes dan Mourinho

Yang Membedakan Moyes dan Mourinho



David Moyes

David Moyes akan kembali ke Old Trafford, rumah yang pernah disinggahinya, di Boxing Day. (Foto: Julian Finney/Getty Images)
Banyak yang berkata bahwa Jose Mourinho-lah yang seharusnya menjadi The Chosen One ketika Sir Alex Ferguson memutuskan untuk pensiun pada akhir musim 2012/13. Namun, alih-alih Mourinho, sosok yang citranya lekat dengan kesuksesan dan trofi, Fergie -- sapaan akrab Ferguson -- justru menunjuk pria yang rumahnya hanya sepelemparan batu dari rumah Ferguson: David Moyes.
Sulit untuk menafikan tribalisme di sini, karena nyatanya, Moyes memang memiliki beberapa kesamaan dengan Fergie. Mereka sama-sama orang Glasgow dan sama-sama pernah memperkuat Dunfermline Athletic di Liga Skotlandia. Mungkin, Fergie melihat sosok dirinya kala muda dulu dalam diri Moyes. Dia membayangkan bahwa dengan kesamaan-kesamaan ala “cocoklogi” itu, nasib mereka pun bisa setali tiga uang.
Moyes pun akhirnya ditunjuk. Sementara itu, Mourinho yang sudah kerap terang-terangan menyatakan keinginannya menukangi Manchester United, konon sampai menangis ketika nama Moyes diumumkan. Terlepas dari benar atau tidaknya, Mourinho memang seperti punya senyawa yang cocok dengan Manchester United. Sama-sama pragmatis, sama-sama terbiasa dengan kejayaan.
Seperti telah sama-sama kita ketahui, era Moyes berakhir dengan pemecatan. Hanya 10 bulan mantan manajer Everton itu bertahan di Old Trafford. Setelah sempat digantikan oleh Ryan Giggs sebagai caretaker di pengujung musim 2013/14, manajemen United kemudian menunjuk Louis van Gaal sebagai manajer pada musim berikut.
Moyes gagal, pun demikian dengan Van Gaal. Meski telah menghabiskan uang dalam jumlah besar, manajer yang berhasil membawa Belanda ke tempat ketiga Piala Dunia 2014 itu hanya mampu mempersembahkan satu trofi Piala FA dalam dua tahun kepemimpinannya. Untuk klub sekelas United, gelar Piala FA saja jelas tidak cukup. Jika tak ada gelar Premier League dan/atau Liga Champions, maka tempat kalian bukan di Old Trafford.
Masuklah Jose Mourinho pada awal musim ini. Mourinho yang sempat lama membesut rival berat United, Chelsea. Mourinho yang kerap jadi sasaran tembak suporter United. Mourinho yang sebenarnya rapornya merah pada musim lalu.
Namun, Mourinho dan United sudah kadung cocok. Keduanya sama-sama terpukau oleh nama besar masing-masing. Akhirnya, setelah sempat tertunda, “perkawinan” itu terjadi juga.
Pada Boxing Day 2016 hari Senin pekan depan, Mourinho yang sempat agak kesulitan namun kini kembali menemukan ritmenya bersama Manchester United akan bersua dengan pria yang sempat menunda mimpinya: David Moyes. Di sini, kumparan akan berusaha menjelaskan secara ringkas apa yang sebenarnya menjadi perbedaan antara Mourinho dan Moyes secara taktikal.
Moyes Gagal di (Fase) Transisi
Pada masa awal kepemimpinan Moyes, United sempat menjadi bahan olok-olokan berkat transfer “ajaib” Marouane Fellaini. Pemain asal Belgia ini sebenarnya sudah sejak awal diisukan akan bergabung dengan Moyes di United, mengingat kala di Everton, Moyes membangun permainan tim di sekeliling Fellaini.
Fellaini memang akhirnya berhasil didaratkan, tetapi United harus membayar lebih mahal karena mereka baru melakukan pembelian pada detik akhir bursa transfer musim panas 2013, sementara klausul transfer Fellaini sebelumnya sudah tak berlaku. Selain mendatangkan Fellaini pada musim panas, Moyes pada musim dingin kemudian mendatangkan pemain “buangan” Chelsea, Juan Manuel Mata.
United, di bawah Moyes, tampil super hati-hati. Menggunakan formasi 4-4-1-1, Moyes berupaya untuk tidak mengubah penempatan posisi pemain bertahannya ketika menyerang. Meski kekurangan pemain ketika menyerang, ia terus berupaya menjadikan pemain yang memiliki peran bertahan untuk tetap berada di posisinya ketika United menyerang.
Kondisi tersebut bukan hanya mengurangi daya gempur United ketika menyerang, melainkan juga merusak citra United sebagai klub besar. Sebagai klub besar sekaligus hegemon Premier League, semua pihak -- termasuk lawan-lawan mereka -- mengharapkan United tampil ofensif dan atraktif seperti pada era Fergie.
Persoalan tersebut bertambah besar dengan buruknya United ketika melakukan transisi dari bertahan ke menyerang dan juga sebaliknya. Di masa kepemimpinan Moyes, United tidak memiliki pemain yang mampu merebut bola saat fase transisi tersebut.
Para pemain United, ketika melakukan transisi dari menyerang ke bertahan memilih untuk menunggu pemain lawan di dalam ketimbang berupaya mendapat bola secepat mungkin. Padahal, pilihan United untuk bertahan secara rendah tak didukung keberadaan pemain yang mampu memulai serangan balik. Selain itu, menuanya pemain-pemain seperti Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, serta Patrice Evra juga menjadi masalah tersendiri bagi pertahanan United kala itu.
Mourinho Mencoba untuk Lebih Proaktif
Berbeda dengan Moyes, Mourinho diberi lebih banyak kekuasaan oleh manajemen United untuk bergerak di bursa transfer. Pemain yang diinginkan oleh Mourinho benar-benar diwujudkan secara nyata oleh petinggi United.

David Moyes, Jose Mourinho

David Moyes dan Jose Mourinho, keduanya akan berhadapan di Boxing Day tahun ini. (Foto: Getty Images)
Meski diberi kebebasan oleh manajemen United, bukan berarti Mourinho langsung berhasil. Sejauh ini, United masih belum dapat menunjukkan permainan terbaiknya. Adapun, salah satu hal yang membuat mereka belum dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya adalah penggunaan taktik dan pemain yang tak sesuai.
Dalam formasi 4-2-3-1, United cukup sering menggunakan garis pertahanan medium disertai dengan keberadaan duet gelandang perebut bola serta deep-lying midfielder di poros ganda. Pada awal-awal musim, pemain termahal United yang didatangkan dari Juventus, Paul Pogba, menjadi pemain paling sering ditampilkan bersama Marouane Fellaini di lini tengah.
Cara itu terbukti gagal. Hingga pekan ke-14 lalu, United pernah mengalami masa-masa buruk yakni dengan hanya mampu meraih 2 kemenangan dari 11 laga. Pogba yang ketika Juventus diberi keleluasaan untuk beroperasi sebagai gelandang box-to-box dan gelandang serang tak terbiasa dengan peran yang diberikan Mourinho. Kegagalan rencana awal itu memaksa Mourinho untuk mengubah komposisi pemainnya. Pogba didorong untuk tampil di pos gelandang serang, sementara posisi poros ganda diisi oleh Michael Carrick dan Ander Herrera. Carrick yang merupakan wakil kapten United ditugaskan untuk berpatroli di depan kuartet bek, sementara Herrera diperbolehkan untuk sesekali membantu serangan.
Secara keseluruhan, taktik Mourinho cukup berbeda dibanding dengan apa yang ditunjukkan oleh Moyes. Mourinho memiliki garis besar pada bagaimana United mencoba secepat mungkin menutup pergerakan lawan ketika kehilangan bola, sementara Moyes melakukan hal sebaliknya.
Kesimpulan
Pada akhirnya, baik Mourinho maupun Moyes sama-sama mengalami kesulitan di Manchester United. Jika pada era Moyes masalah ada pada pemilihan cara bermain, Mourinho sempat kesulitan menemukan komposisi yang pas untuk strategi yang ia pilih.
Kini, tren United di bawah Mourinho sedang membaik dan kemungkinan untuk terus membaik hingga akhirnya bisa kembali menjadi klub yang ditakuti masih sangat terbuka. Lagipula, untuk bisa langsung nyetel dengan lingkungan baru memang tak semudah yang dibayangkan orang. Di tengah semua-semua yang masih serba terbuka itu, ada satu pekerjaan rumah yang harus segera dapat dituntaskan Mourinho: membuktikan bahwa ia memang lebih baik dibanding Moyes.

Jose MourinhoSepak BolaLiga InggrisDavid MoyesManchester United

500

Baca Lainnya