Merawat Toleransi Antarumat Beragama

Kolomnis dan Mahasiswa FKIP UNS
Konten dari Pengguna
19 Maret 2021 7:22
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Yoggi Bagus Christianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Merawat Toleransi Antarumat Beragama (7512)
zoom-in-whitePerbesar
Toleransi beragama | Foto: Mohammad Ayudha/Antara
Persoalan agama sebagai pembicaraan hangat di NKRI. Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki sisi religius sangat tinggi. Di dalam Pancasila, tepatnya pada sila pertama berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Sila pertama ini yang mendasari keempat sila berikutnya. Membuktikan bahwa bangsa Indonesia memiliki kepercayaan kepada Tuhan yang sangat kental.
ADVERTISEMENT
Maka rakyat Indonesia membutuhkan pedoman untuk mencapai tujuan sila pertama. Indonesia memiliki 6 agama yang telah diresmikan yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu. Setiap kepercayaan memiliki ciri khas yang berbeda-beda, maka dari sebuah kemajemukan itu merupakan sebuah potensi besar untuk memajukan bangsa.
Dengan demikian dapat saling belajar sehingga akan saling memperkaya dan secara bersama-sama berkiprah dalam membangun bangsa demi kesejahteraan bersama. Tidak ada ukuran besar atau kecil harga suatu agama, namun secara sepakat bangsa ini memiliki ukuran harga yang sama untuk ciptaan Tuhan yakni saling menghormati manusia dan memberikan hak hidup untuk setiap orang. Jika ada sisi baik pasti juga ada sisi buruk.
Di era sekarang sering dibincangkan mengenai perpecahan karena sebuah agama bahkan antarumat beragama. Hal ini membuktikan bahwa dahulu umat beragama pernah menjadi satu persatuan utuh yang berdampak tidak hanya di dalam negeri, namun juga di luar negeri. Pada 30 September 1960, Bung Karno berpidato di PBB hingga mengguncangkan dunia dengan menawarkan Pancasila pada dunia.
ADVERTISEMENT
Pidato itu bergelora, pasalnya hingga menelanjangi konsep yang dibangun barat (kolonialisme/imperialisme). Dalam penyampaiannya, Bung Karno mengutip ayat-ayat kitab suci Al-Quran dan kitab Injil agama Nasrani yang mengisyaratkan pentingnya perdamaian dunia dan tidak saling menindas. Sistem yang diambil Bung Karno yaitu To Build The World A New.
Membangun dunia kembali artinya membangun fitrah manusia di dunia yang sebelumnya berperilaku baik dan menjunjung tinggi Ketuhanan yang kemudian bergeser kepada arus kolonialisme maupun imperialisme. Sehingga moral dan etika manusia menjadi rusak, begitu juga dengan roda kehidupannya. Pada hari ini persoalan mengenai antarumat beragama sangat mudah untuk digelorakan.
Persoalan agama bak menyulut api kecil yang jika dibiarkan akan mengganas. Perpecahan memang sangat mudah terjadi karena saling menghina, tidak menghormati, diskriminasi, demo atas nama agama, bahkan hingga menganggap agama milik pribadi adalah agama yang paling baik dan sempurna di antara agama lainnya. Jika diangkat dari kasus di Indonesia seperti membakar masjid dan pelarangan mendirikan gereja masih sering terjadi.
ADVERTISEMENT
Secara tidak langsung, perpecahan ini akan berdampak pada kemajuan bangsa. Jika setiap umat beragama hanya mementingkan egoisme pengajaran agamanya sendiri, maka sila pertama Pancasila tidak akan terpenuhi. Hal ini karena sifat umat beragama di Indonesia masih bersifat ekspresif, maksudnya masih terlalu besar menggunakan perasaan dan fantasi di dalam permasalahan setiap agama.
Misalnya pada kasus corona. Saat “momok” corona ini mulai menyebar di Indonesia, kegiatan peribadatan mulai guncang. Tentunya, masih banyak masyarakat yang tidak patuh pada peraturan pemerintah mengenai protokol kesehatan saat ibadah. Mereka berpikiran “mereka beribadah kepada Tuhan sehingga segala sakit penyakit yang dari setan tidak akan menimpa dirinya”.
Sifat demikian menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih terlalu ekspresif dan terlalu religius hingga hilang akal. Hal ini juga memicu pertentangan antar umat beragama dan tidak hanya itu, bahkan hingga antarumat sesama agama namun berbeda liturgi. Persoalan ini dipersulit hingga sikap deskriminatif terhadap agama atau kepercayaan lokal seperti Kejawen, Sunda Wiwitan, Alok Todolo dan sebagainya, menganggap kepercayaan seperti itu bersifat mistis atau horor sehingga mata masyarakat memandang sebagai kesesatan.
ADVERTISEMENT
Permasalahan seperti ini yang membuat bangsa ini tidak kreatif untuk mengembangkan potensi, karena masih disibukkan dengan kepercayaan. Lantas kerukunan antarumat beragama itu perlu dibangun sedini mungkin. Hidup rukun beragama dengan menciptakan kondisi sosial di mana semua golongan dapat hidup bersama-sama tanpa mengurangi hak dasar masing-masing untuk melaksanakan kewajiban agamanya.
Setiap masyarakat dapat memeluk agama masing-masing dan menciptakan hidup rukun dan damai. Kerukunan beragama dapat diciptakan sedini mungkin dengan memenuhi tiga aspek yakni mengakui, menghargai dan bekerja sama sebagai umat beragama termasuk kepercayaan lokal.
Pertama, setiap memiliki hak untuk diakui. Kasus tidak mengakui hak umat agama tertentu adalah pembunuhan tanpa melibatkan fisik. Sebagai contoh penulis selalu menyebutkan kepercayaan lokal untuk menjadi kepedulian terhadap hak bebas beragama.
ADVERTISEMENT
Kedua, setiap orang harus dihargai haknya supaya tidak menciptakan suasana diskriminasi.
Ketiga, kerja sama adalah cara terbaik untuk memajukan bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan beban negara tidak hanya diangkat oleh pemerintah namun juga seluruh umat beragama. Semakin banyak orang yang menyertakan dirinya untuk bekerjasama maka semakin ringan juga beban negara.
Dalam falsafah Jawa, sikap teposeliro perlu digelorakan kembali pada kehidupan bersosial. Sikap ini menciptakan tenggang rasa dan juga falsafah ini mengajarkan seseorang dapat tahu diri dan menempatkan diri di mana dia tinggal sehingga ketika dia menempati lingkungan baru, dia dapat mengekspresikan agam dan keyakinannya dengan menghargai umat beragama di lingkungan barunya. Demi memajukan bangsa Indonesia maka dari itu perlunya menciptakan nilai-nilai bersama, dalam pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana mengubah keagamaan ekspresif yang selalu menimbulkan deadlock dalam dialog diubah ke arah dinamis atau lebih pada merasionalkan demi menciptakan kemajuan.
ADVERTISEMENT
Dengan catatan, tidak mengesampingkan norma agama namun norma tersebut yang akan menopang persaudaraan. Maka kemajuan bangsa Indonesia tidak dapat diukur hanya karena Candi Borobudur menjadi ikon 7 keajaiban dunia. Pada saat itu Candi ini dibangun dengan kerja sama dan semangat oleh nenek moyang dengan menyerap iptek kala itu.
Namun kemajuan bangsa ini dapat dilakukan dengan menyerap ruh sejarah untuk diterapkan pada masa kini. Dengan menguasai iptek era sekarang maka bangsa Indonesia dapat mencetak borobudur-borobudur yang yang baru yang lebih kreatif. Maksudnya, selagi bangsa ini mau membuka diri pada iptek dan memakai rasional maka dapat tercipta keajaiban-keajaiban dunia.
Selain itu, menciptakan kreativitas dalam kerukunan umat beragam juga menimbang 3 aspek yakni kreatif dan semangat, taat dan bertanggung jawab, dan tulus dan penuh kasih. Pertama, kreatif dan semangat, maksudnya dengan mengembangkan potensi antarumat beragama demi menciptakan kegiatan kreatif yang bertujuan untuk kerukunan umat beragama. Seperti menciptakan Wadah untuk umat beragama dengan bentuk kegiatan diskusi, dialog, seminar baik itu internasional maupun nasional bahkan regional.
ADVERTISEMENT
Penulis sangat mengapresiasi bentuk lomba yang diadakan UNS yang bertema Semangat Mahasiswa Merawat Kebhinekaan. Hal ini membuktikan bahwa kampus UNS peduli terhadap aspirasi mahasiswa mengenai toleransi umat beragama. Selain itu, mengadakan kunjungan ke daerah-daerah untuk mengadakan forum kerukunan umat beragama bahkan hingga mengadakan penelitian mengenai toleransi umat beragama.
Ditambah dari berbagai hasil diskusi, dialog, seminar dan penelitian dapat dijadikan sebuah buku yang memumpuni untuk mengangkat kembali rasa teposeliro. Seperti buku terbitan Puslitbang Kehidupan Keagamaan karya Departemen Agama RI dengan judul Kompilasi Peraturan Perundang-Undangan Kerukunan Hidup Umat Beragama. Kedua, taat dan bertanggung jawab. Sikap ini yang perlu digelorakan. Selain taat dengan ajaran agama juga taat kepada hukum pemerintah khusus toleransi umat beragama serta bertanggung jawab atas segala pekerjaan. Ketiga, tulus dan penuh kasih.
ADVERTISEMENT
Hal ini menjadi dasar dari kemajuan Indonesia dengan memiliki sikap belas kasihan terhadap bangsa ini maka secara hati naluri sikap ini akan mendorong masyarakat untuk menciptakan sesuatu yang baru bahkan hingga mengasihi sesama umat ciptaan Allah. Selain itu perlu meninjau kembali sikap “alon-alon waton kelakon” atau hati-hati dalam bertindak. Hal ini membuat masyarakat terlalu banyak merenungkan baik atau buruknya tindakan.
Memang sikap ini memiliki tujuan, namun dalam sebuah perlombaan akan kalah dengan sikap yang siap menerima risiko apapun. Demikian untaian kata untuk memberi loncatan ke arah titik kemajuan bangsa Indonesia.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020