Opini & Cerita
·
16 Agustus 2020 7:41

Pekik Merdeka yang Tercekat

Konten ini diproduksi oleh Yudhi Hertanto
Pekik Merdeka yang Tercekat (30121)
Ilustrasi menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia dengan penuh semangat. Foto: Gratsias Adhi Hermawan
Momentum dan lompatan besar. Periode krisis hadir bersama dengan kemunculan pandemi. Dalam situasi tersebut, kemampuan untuk mengolah celah sempit peluang menjadi penting. Formula itu hendak ditampilkan melalui pesan dalam Pidato Kenegaraan Presiden 2020.
ADVERTISEMENT
Pada kesempatan pidato tahunan tersebut, Presiden menyampaikan berbagai hal aktual yang menjadi fokus dari cermatan pemerintah. Tema besar kali ini, tentu saja terkait dengan tantangan berat dari pandemi Covid-19. Tidak mudah, tetapi bukan berarti mustahil, kira-kira begitu kondisinya.
Berdasarkan analisis teks pidato yang dilansir Kompas (15/8), terlihat bahwa paparan dalam durasi 29 menit dan 15 detik itu, terungkap pilihan kata terbanyak yang dipergunakan. Posisinya terlihat dalam rumusan lima diksi berulang, antara lain: kerja (21), krisis (14), ekonomi (14), kesehatan (12) dan membangun (10).
Untaian kata yang tersusun dalam pidato tersebut, jelas memberikan deskripsi mengenai wacana yang hendak diterangkan oleh pemerintah kepada khalayak publik. Konten yang diproduksi sebagai teks pidato, sangat terkait dengan lingkup konteks situasi aktual.
ADVERTISEMENT
Bila mengacu pada paparan analisis wacana kritis Van Dijk tentang teks dan konteks, maka penghubung yang mengaitkan kedua hal tersebut adalah kognisi sosial. Dalam bahasa yang lugas, akan sangat terkait pada bagaimana publik mempersepsi realitas sesungguhnya, melampaui struktur teks yang diwacanakan.
Pertanyaannya, apakah publik saat ini sudah mampu mencerna gerak langkah pemerintah dalam mengatasi pandemi sebagai hal yang efektif, menuju ke arah perbaikan dan pembenahan? Rilis BPS tentang kondisi ekonomi kuartal kedua 2020 mengindikasikan persoalan, angkanya minus hingga 5.32 persen.
Sudah barang tentu, dalam situasi kontraksi ekonomi yang terjadi, pengambil kebijakan perlu memberikan sinyal akan upaya serius meredam kejatuhan yang selanjutnya. Karena itu pula, setelah sempat berulang kali memperlihatkan gesture kemarahan tentang perlunya sense of crisis, perlu ditampilkan bahwa ada programatik kerja yang sungguh-sungguh dilakukan, agar momentum krisis menjadi lompatan perbaikan, bukan ke arah yang sebaliknya.
ADVERTISEMENT
Prioritas Diksi
Melalui perulangan kata, maka repetisi diksi menjadi indikasi bagaimana sebuah wacana ditempatkan. Bila menggunakan analisis teks Kompas, kira-kira rumusan singkat yang hendak diterangkan pemerintah dirangkum menjadi hal berikut: belitan pandemi dijawab dengan solusi kerja dan pembangunan guna mengatasi krisis, agar mampu memulihkan perekonomian, sekaligus menjawab problem kesehatan.
Apakah format wacana yang diajukan tersebut selaras dengan upaya membentuk solusi dari kepentingan publik saat ini? Jawaban akhirnya tentu akan sangat bergantung pada dua hal penting, (i) sejauh mana proses yang dilakukan mengakomodir solusi permasalahan tanpa menambah persoalan baru, dan (ii) seperti apa nantinya dampak yang dihasilkan melalui serangkaian program aktivitas tersebut.
Tentu saja pilihan kata krisis, yang cukup kental mewarnai pidato kenegaraan tersebut menghadirkan nuansa berbeda dari situasi yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Krisis kesehatan akibat pandemi, sudah mulai menciptakan lubang krisis baru di bidang ekonomi. Jelas butuh kelihaian dalam mengambil pilihan strategi, terutama agar tidak terakumulasi menjadi krisis sosial dan politik.
Di situasi yang penuh dengan ketidakpastian, maka sulit untuk mampu melakukan prediksi secara presisi, kebijakan harus diambil secara dinamis mengikuti update dari gerak perkembangan yang terjadi secara realtime, disini letak sense of crisis pemangku kebijakan.
Muara kebijakan harus tertuju pada ranah kepentingan publik secara langsung, menutup celah potensi penumpang gelap yang mengambil kesempatan.
Keterbatasan dari pengetahuan mengenai pandemi, mengakibatkan persoalan keterbatasan rasionalitas -bounded rationality dalam merumuskan kebijakan yang paripurna. Merujuk hal tersebut, maka dibutuhkan evaluasi target pencapaian secara berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
Ukuran-ukuran harus dibuat dan dipergunakan sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan program kerja. Sekali lagi, perlu cermat melihat laporan, lebih dari sekadar sajian paparan presentasi yang ditampilkan, melainkan juga memiliki sensitivitas pada suara yang berkembang di tengah publik.
Hakikat Merdeka
Pidato kenegaraan itu merupakan agenda tahunan, bersifat seremonial yang dilakukan rutin menjelang hari kemerdekaan. Tentu faktor pembedanya adalah tantangan situasi pandemi yang terjadi saat ini.
Kondisi impitan pandemi, mengharuskan para pemangku kekuasaan dan kebijakan untuk bertindak dan bersikap secara luar biasa -extra ordinary, keluar dari apa yang menjadi kebiasaan sebelumnya.
Hal krusial yang lebih penting lagi, terletak pada upaya untuk menguatkan harapan publik, akan tujuan di masa depan. Menjadi menarik karena tahun ini, bertepatan dengan perayaan kemerdekaan yang telah berusia 75 tahun.
ADVERTISEMENT
Menengok kembali sejarah bangsa ini, sesungguhnya kita bertekad secara bulat untuk memproklamirkan kemerdekaan, sebagai pintu gerbang dari harapan bersama, akan imajinasi kehidupan yang terbebas dari keterjajahan, sekaligus mewujudkan agenda kesejahteraan yang melindungi segenap warga negara.
Merdeka bermakna kebebasan. Kini, kita belum benar-benar bebas dari penjajahan pandemi. Wabah tidak terlihat itu adalah ancaman baru dunia modern, setelah kita terbebas dari penjajahan fisik.
Lantas apa hal terpenting dari sejarah di masa lalu, yang perlu dijadikan sebagai pelajaran bagi kita kali ini? Kita harus memulai kembali secara bersama-sama mengobarkan api semangat untuk mencapai kemerdekaan yang sejati, yakni bebas dari rasa takut dan bebas untuk menjaga eksistensi kehidupan kita berbangsa: MERDEKA!