Pencarian populer

Bola Eropa: Jauh di Mata, Dekat di Hati

Piala Liga Champions di Bernabeu. (Foto: Reuters/Sergio Perez)

Akhir pekan. Sepertiga pagi. Baru saja saya selesai menonton pertandingan sepak bola nun jauh dari Eropa sana lewat televisi.

Twitter ramai minta ampun. Sejak sebelum pertandingan, sepanjang pertandingan, dan sesudah pertandingan.

Ada yang seperti memberi saran kepada pelatih mengenai apa yang harus dilakukan di lapangan. Ada yang memaki pemain yang tampil buruk. Ada yang (sok) filosofis.

Ada saling ejek yang lucu. Ada yang marah-marah dengan klub yang mereka dukung yang bermain buruk dan kalah.

Itu yang akhir pekan.

Anda semua tahu, kalau pertengahan pekan (Liga Champions) lebih parah lagi. Waktu lebih tidak ramah. Pertandingan baru mulai di sepertiga pagi. Tetapi sepertinya antusias penggemar bola tidak kendor. Sama saja dengan akhir pekan.

Kalau bukan karena masalah waktu, saya pasti mengira sedang hidup di Eropa. Buzz-nya terlalu hebat untuk muncul dari tempat yang ribuan kilometer jauhnya dari Eropa.

Saya yakin seyakin-yakinnya, tidak ada kaitan sosial-sejarah-politik antara para penggemar sepak bola di Indonesia dengan klub-klub yang ada di Eropa. Namun saya selalu bingung dengan buzz yang hebat itu.

Hampir 20 tahun hidup di Eropa, saya berani mengatakan reaksi penggemar sepak bola di Indonesia atas apa yang terjadi di Eropa sana, sama seperti reaksi penggemar sepak bola Eropa. Setidaknya di dunia maya.

Bedanya, sementara di Eropa terjadi eksploitasi komersial atas luncasan emosi itu –lewat acara televisi, radio, dan online--, di Indonesia lewat begitu saja.

Saya selalu tergelitik untuk melakukan penelitian mengenai jumlah penggemar sepak bola di Indonesia yang rutin begadang untuk menonton pertandingan dari Eropa sana. Apa yang mendorong mereka? Apakah mereka juga mendukung klub lokal Indonesia? Seberapa kesetiaan mereka dengan klub lokal? Bagaimana cara mereka memperlihatkan dukungan ke klub lokal mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu terkait kemudian dengan persoalan literasi —dunia tulis-menulis— sepak bola.

Saya tidak tahu persis kapan dunia tulis-menulis sepak bola di Indonesia mulai ramai. Dugaan saya beriringan dengan ledakan penggunaan internet dan dunia blog.

Internet memberi kemudahan bagi siapapun untuk memperoleh bahan pustaka sekaligus kemudahan untuk mengunggah tulisan –kalaupun ke media resmi susah—lewat blog-blog pribadi.

Lalu muncul media-media online yang mengkhususkan diri untuk persoalan sepak bola, baik itu metamorfosa dari media cetak ataupun yang sama sekali baru dan dibangun oleh mereka penggemar bola.

Tentu saja semua (inovasi) terus berkembang dan hukum survival of the fittest berlaku. Cara membaca sepak bola lewat statistik mulai dipakai, video menjadi bagian penting, tulisan semakin bagus, dan cakrawala –ragam cara melihat sepak bola—terus meluas. Yang tidak mampu menyesuaikan diri pelan-pelan tergeser dan mati. Atau digantikan oleh yang lain.

Tetapi sama seperti persoalan menonton sepak bola Eropa, saya selalu tergelitik untuk melihat angka statistiknya: seberapa persentase tulisan –atau pembahasan lewat cara apapun—sepak bola lokal dan luar sana?

Saya tidak akan terkejut kalau setidaknya 75 persen dari materi yang ada adalah sepak bola dari luar sana.

Alasan saya sederhana, kemudahan dan ketersediaan informasi.

Bandingkan saja ketika anda harus mencari informasi, katakanlah tentang Persib sebagai salah satu klub terbesar Indonesia dan Bournemouth sebagai salah satu klub kecil di Inggris. Tak akan kaget kalau informasi tentang Bournemouth lebih lengkap dan lebih gampang dicari.

Informasi dari preview, pertandingannya sendiri, review, dan segala pernak perniknya pertandingan Atalanta vs Napoli lebih mudah di dapat ketimbang pertandingan Persib vs Persija belum lama lalu.

Anda ingin mendapat infromasi tentang pemain bola tertentu dari luar yang bahkan samar-samar, kemungkinan akan lebih tersedia ketimbang pemain yang saat ini masih aktif di Indonesia.

Para otoritas sepak bola di luar sana mengerti betul pertandingan sepak bola itu penting sekali. Ia inti dari segalanya. Konten utama.

Tetapi ia tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada konten pendukung (informasi, berita, cerita, catatan) untuk melengkapi dan memungkinkan dibangunnya sebuah narasi.

Harus pula dibuat segampang mungkin untuk diakses oleh mereka yang tertarik. Karenanya distribusi yang jelas dan mudah.

Selebihnya menjadi peristiwa organik tentang bagaimana kemudian orang berkomentar, menuliskan, berpendapat, dan melakukan berbagai kegiatan terkait sepak bola itu sendiri.

Selebihnya adalah media-media online yang dengan senang (dan sebagian tak sadar) menjadi agen distribusi informasi.

Konten adalah raja, tapi distribusi adalah kerajaannya. Semakin rapi dan mudah distribusinya –apalagi ketika inisiatif datang dari bawah--, akan semakin mudah konten menyentuh siapa saja.

Semudah dan sealami kita bertahan hingga sepertiga pagi atau bangun di sepertiga pagi untuk menonton pertandingan di layar kaca. Mengkonsumsi konten yang diproduksi jauh di luar sana.

Sementara sepak bola lokal yang ada di pelupuk mata, untuk tahu jadwal mainnya saja, susah setengah mati. Seperti ada disclaimernya: jadwal bisa diubah sesuka hati dan tidak boleh protes.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23