Opini & Cerita
·
9 Maret 2020 10:34

Corona-isme

Konten ini diproduksi oleh
Corona-isme (68010)
(Ilustrasi oleh Indra Fauzi/kumparan)
Ketidak-mengertian, curiga-prasangka, dan ketakutan adalah trinitas yang mengerikan.
Ia bisa meng-engkau-saya-kan, meng-kita-mereka-kan, memisahkan yang sebelumnya bersatu dalam sekejap. Membenturkan malah.
Simpul persoalannya bisa budaya, ras, geografis, ideologi, agama, atau tentu saja persoalan kontemporer semacam virus corona.
Di sebuah kereta komuter di Roma, seorang warga negara setempat keturunan Tionghoa bersin. Mungkin sudah puluhan kali itu terjadi. Dan tidak menjadi masalah.
Tetapi kali ini berbeda.
Awalnya orang hanya menatap, melirik, dan mengerutkan jidat. Kemudian ada yang berujar dengan nada yang tak enak, "Kembali ke tempat asalmu sana. Bawa pulang sekalian virus coronamu."
Dengan bahasa Italia medok dialek setempat warga keturunan itu sinis menjawab, "Saya hanya tahu Cina dari peta. Dan sepertinya dari dialek bahasa anda gunakan, anda bukan orang sini. Sebaiknya anda yang pulang ke tempat asal anda."
Di lingkungan yang relatif kecil dan terdidik hal serupa juga terjadi. Di London seorang kurator diberhentikan dari posisinya sebagai asisten pameran seni rupa Affrodable Art Fair. Alasannya, "Orang Asia dianggap sebagai pembawa virus corona." Dan kehadirannya, "Dengan penuh permohonan maaf akan membuat orang enggan untuk menghadiri pameran."
Di seantero Amerika terjadi peningkatan tindak (xeno)fobia dan rasialis terhadap mereka yang dianggap orang Tionghoa gara-gara virus corona. Di kereta bawah tanah New York seorang perempuan Asia yang mengenakan masker sempat dipukul dan diteriaki, "Penyakit!"
Di Ukraina, sejumlah warga Ukraina sendiri dan warga asing yang dievakuasi dari Wuhan—kota yang diyakini menjadi awal mula keberadaan virus corona—ke Novi Sanzhary disambut dengan keributan dan lemparan batu.
Banyak kejadian serupa terjadi di negara-negara mayoritas kulit putih.
Tetapi kejadian itu tidak eksklusif terjadi hanya di negara-negara mayoritas kulit putih. Di sesama negara Asia juga terjadi.
Membatasi dan mengawasi pergerakan orang Tionghoa daratan sangat bisa dimengerti. Sama halnya dengan membatasi dan mengawasi pergerakan mereka warga dari negara yang telanjur terkena persebaran virus corona ini. Sebuah mekanisme keharusan untuk mencoba mengisolasi penyebaran.
Untuk tidak bersikap (xeno)fobia dan rasialis menjadi persoalan lain. Karena ternyata insting penyintasan (survival) manusia ketika merasa terancam hidup atau eksistensinya adalah menyederhanakan persoalan—mencari gampang—dan melakukan personifikasi.
Kita bisa tinggal mengganti kata virus corona dengan kata lain yang dianggap mengancam itu untuk melihatnya.
"Yahudi adalah virus penyakit yang tidak bisa dikontrol karenanya harus dibasmi," kata Hitler.
Hitler menganggap Yahudi adalah personifikasi dari segala sesuatu yang buruk, tamak, tidak bisa dipercaya, dan ras yang tidak murni. Mengancam Jerman dan ke-Jerman-an. Maka Holocaust-pun terjadi.
Pol Pot di Kamboja di pertengahan tahun 1970an menganggap goda uang, kekayaan, dan agama adalah virus yang mengancam eksistensi kemanusiaan. Ia mencoba menciptakan sebuah kehidupan tanpa ketiganya dan membasmi jutaan penduduk yang dianggap terasosiasi dengan tiga hal itu dalam perjalanannya.
Indonesia pernah punya pengalaman dengan komunisme. Apartheid Afrika Selatan juga begitu.
Crusade—perang suci, salib, jihad; penamaannya tergantung di pihak mana anda berada—bisa masuk kategori itu.
Perang Dingin antara Blok Barat yang kapitalis dan Blok Timur yang komunis selama tiga dasawarsa—1960an, 70an, dan 80an—adalah persoalan menjaga agar virus pemikiran lawan tidak mengkontaminasi kemurnian kehidupan yang diangankan.
Kita bisa berbicara dan menerapkannya untuk segala isme yang ada. Apapun dasar pemikiran isme itu.
Keberadaan virus corona saya yakin tidak akan berakhir ekstrem semacam contoh-contoh yang ada. Asal hidup ini tidak didominasi oleh ketidak-mengertian, curiga-prasangka, dan ketakutan.
Corona-isme (68011)
Ilustrasi. (Indra Fauzi/kumparan)